GAME SEBAGAI SARANA MENANAMKAN NILAI-NILAI PLURALISME

Tumbuh sebagai bangsa yang plural yang menganut semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia menjadi negara yang penuh akan keberagaman tetapi dapat menyatu didalamnya Sumpah Pemuda sebgagai salah satu bukti keindahan kebhinekaan bangsa Indonesia bersatu dalam damai dan menjunjung tinggi perbedaan namun seiring dengan berjalannya waktu rasa toleransi antar individu mulai terkikis konflik atas keberagaman sering terjadi pemberontakan hingga pembunuhan tidak jarang dilakukan dikarenakan merosotnya nilai akan kebhinekaan bangsa Indonesia. Dalam menyikapi tersebut pemerintah sebagai sosok yang paling memiliki kewenangan untuk bertindak melakukan berbagai cara untuk membendung munculnya konflik yang bersifat masif di negara Indonesia dengan penanaman berbagai kebijakan seperti Revolusi mental dan program pendidikan karakter tetapi hingga kini keefektifan atas hal tersebut masih diragukan sehingga penulis berasumsi bahwa dibutuhkannya media yang cukup populer ditengah masyarakat khususnya anak-anak dan kaum muda sebagai titik sentral penanaman nilai akan kebhinekaan Indonesia sehingga Game adalah media yang dipercaya mampu memberikan sumbangsih positif atas pendidikan nilai kebhinekaan Indonesia.

Game adalah salah satu alternatif yang penulis anggap mempuni dalam kaitan dalam pemberian penanaman nilai lewat media karena ketergantungan atau asa depedensi manusia dengan perankat telekomunikasi yang tinggi menyebabkan adanya ketergantungan yang berkelanjutan antara manusia modern dengan benda-benda seperti smartphone atau android yang memberikan akses kemudahan berkomunikasi dan bertransformasi dan selain hal tersebut game dianggap sebagai suatu bentuk aplikasi yang aplikatif dalam memberikan bias pada masyarakat modern dewasa ini lintas genre dan lintas generasi pada dasarnya penulis mengiyakan bahwa modernisasi  adalah suatu proses yang harus dialami dan dijalani sehingga perlu persiapan agar masyarkat tidak tergerus dengan modernisasi itu sendiri. 

Indonesia rentan dengan konflik karena kurang adanya kepedulian dan pemahaman yang sesui dengan nilai Kebhinekaan atau pluralisme. Masyarakat perlu diedukasi untuk lebih memahami pluralisme guna meningkatkan persatuan dan keasatuan bangsa. Modernisasi yang dialami Indonesia hendaknya diisi dengan pemahaman kaum muda terhadap pluralisme. Dalam dunia modern yang dipenuhi dengan asas modernisasi dan depedensi sewajarnya pemerintah mampu memberikan dan menyuguhkan aplikasi yang variatif yang mudah diakses guna memberikan dampak positif bagi masyarakat utamanya lewat bidang pendidikan degan pemanfaatan kemajuan tekhnologi informasi yang mempuni sebagai penanaman rasa toleransi antar sesama manusia di Indonesia agar rasa memiliki dan cinta kasih antar sesma mampu dipupuk dan dijaga dengan sebaik-baiknya dengan meminimalisasikan gesekan-gesekan budaya diNegara Kesatuan Republik Indnesia ( NKRI).

Untuk lebih memahami mengenai modernisasi maka berikut akan penulis uraikan tentang Teori Modernisasi oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya Political Order in Changing Societies, mengatakan bahwa modernisasi adalah sebuah proses multisegi yang menyertakan perubahan pada semua area pemikiran manusia dan aktivitasnya. Prinsip-prinsip dari modernisasi adalah urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, pendidikan, dan partisipasi media. Teori moernisasi menurut Daniel Lerner dalam The Passing of Traditional Society menulis bahwa “aspek-aspek modernisasi seperti urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, edukasi, dan partisipasi tidaklah terjadi secara asal.” Teori modernisasi bahwa The theory arose as a reaction to modernization theory, an earlier theory of development which held that all societies progress through similar stages of development, that today’s underdeveloped areas are thus in a similar situation to that of today’s developed areas at some time in the past, and that, therefore, the task of helping the underdeveloped areas out of poverty is to accelerate them along this supposed common path of development, by various means such as investment, technology transfers, and closer integration into the world market. Dependency theory rejected this view, arguing that underdeveloped countries are not merely primitive versions of developed countries, but have unique features and structures of their own; and, importantly, are in the situation of being the weaker members in a world market economy.

Sementara itu, Game Teori menurut John Van Neemann dan Oskar Morgenstern “Permainan terdiri atas sekumpulan peraturan yang membangun situasi bersaing dari dua sampai beberapa orang atau kelompok dengan memilih strategi yang dibangun untuk memaksimalkan kemenangan sendiri atau pun untuk meminimalkan kemenangan lawan. Peraturan-peraturan menentukan kemungkinan tindakan untuk setiap pemain, sejumlah keterangan diterima setiap pemain sebagai kemajuan bermain, dan sejumlah kemenangan atau kekalahan dalam berbagai situasi.” Teori Kebangsaan menurut Hans Kohn bahwa bangsa itu terbentuk karena persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, Negara dan kewarganegaraan. Suatu bangsa juga tumbuh dan berkembang dari anasir – anasir serta akar – akar yang terbentuk melalui suatu proses sejarah. 

Dari teori-teori tersebut yang dianggap mampu untuk menggambarkan dan memberikan kekuatan terhadap konten dari karya tulis ini bahwasannya masing-masing ahli telah menuliskan gagasan mereka yang sudah tentu dipertanggungjawabkan. Modernisasi erat kaitannya dengan westernisasi serta terkait erat dengan perkembangan tekhnologi dan komunikasi yang jika dimanfaatkan secara baik dapat memberikan dampak positif terhadap penyebaran informasi dewasa ini atau bahkan bisa dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan karena pada hakikatnya kehidupan dunia yang sangat kompleks diisi dengan berbagai kemungkinan yang sudah dipaparkan sesuai dengan game theory beserta segala perkembangan dalam teori modernisasi dan rasa atau teori kebangsaan serta banyaknya sistem ketergantungan yang tercipta diberbagai sistem baik itu internasional, nasional atau bahkan individu untuk pembahasan lebih lanjut akan dipaparkan dalam bab selanjtnya.

Kondisi kebhinekaan di Indonesia

Indonesia adalah bangsa yang besar itu adalah sajak yang memang melukiskan kebesaran dari bangsa Indonesia. Dalam Kitab Sutasoma Mpu Tantular telah menuliskan semboyan kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna berbeda-beda tetap kita tetaplah satu yaitu Indonesia. Proses pemersatuan bangsa yang plural seperti Indonesia membutuhkan waktu yang panjang karena masing-masing kelompok awalnya memiliki identitas yang beragam. Sumpah pemuda yang diikrarkan tanggal 28 Oktober 1928 merupakan awal dari titik balik pemersatuan bangsa Indonesia. Sejarah telah mengajarkan kita untuk bersikap dan berperilaku dalam menyikapi kemajemukan bangsa dan tanah air Indonesia tetapi dewasa ini keharmonisan akan kebhinekaan semakin meredup dikarenakan berbagai alasan baik itu alasan subjektif atau kelompok yang seakan kembali mengatasnamakan identitas masing-masing padahal bangsa ini telah disatukan dalam ikrar Sumpah Pemuda. Ketimpangan nilai dari kebhinekaan yang sekarang marak terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor dan salah satunya adalah ketidakefektifan penanaman nilai kebhinekaan ditingkat sosial maupun lembaga pendidikan formal ditambah lagi dengan derasnya arus yang dengan cepat memodernisasikan bahkan mewesternisasikan kerangka berfikir masyarakat utamanya pemuda Indonesia sehingga konsepsi dari budaya kemajemukan, kemultikulturan atau kebhinekaan seakan mulai terlupakan masing-masing pihak hanya mementingkan apa yang harus dilakukan untuk memperindah komunitas masing-masing dan melupakan langkah konkrit untuk membangun Indonesia.

Semakin miris apabila konflik-konflik yang ramai diperbincangkan dewasa ini adalah konflik karena suku, ras, agama, dll banyak terjadi perpecahan atas tubuh bangsa ini baik dalam skala nasional atau daerah sehingga budaya saling menghargai semakin tipis dan mungkin akan menghilang ada beberapa hal yang harus ditinjau yaitu bagaimana peranan atau keefektifan program pemerintah dan antusiasme masyarakat Indonesia akan program tersebut.

Program Pemerintah dalam Memberikan Pendidikan Kebhinekaan

Pada masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sejak kampenye menyuarakan sembilan program yang disebut nawacita yang terdiri dari sembilan program yang memfokuskan pada pembangunan Indonesia secara menyeruh dan pembentukan karakter yang dikenal dengan Revolusi Mental. Pada poin kedelapan konsepsi Nawacita memfokuskan pada melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Poin kedelapan ini merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh Presiden dan Wakil Presiden tetapi kendala yang dihadapi sekarang adalah soal toleransi dalam kebhinekaan tak hanya itu pada poin ke Sembilan juga menjelaskan bahwa memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga. Dalam prosesnya hingga saat ini pengaplikasian atas upaya memperteguh kebhinekaan telah dilakukan lewat pendidikan formal dengan membentuk Kurikulum 2013 atau K-13 merupakan langkah awal dari konsepsi pembentukan karakter bangsa yang lebih toleransi sehingga konflik atas perbedaan dan pluralism tidak muncul lagi dipermukaan yang akan menghancurkan sendi-sendi persatuan bangsa.

Kondisi setelah Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah tentang Kebhinekaan

Pembahasan mengenai program pemerintah yang sudah diaplikasikan sepertinya harus diperhatikan bagaimana progress program-program tersebut. Nawacita sebagai pedoman tertinggi pencita-citaan dari Presiden Jokowi melalui revolusi mental dan pendidikan karakter sudah berjalan. Pendidikan karakter yang memaksa dirubahnya kurikulum KTSP ke K-13 membutuhkan banyak perubahan sehingga dualisme pemahaman dikalangan pengajar pun semakin marak. Dari penerapan berbagai cara ini dari revolusi mental hingga program K-13 rasanya masih mengalami kekurangan karena proses pengemasan nilai-nilai kebhinekaan dilingkungan formal jarang sekali menekankan pada proses teoritis dan nilai kognitifan sehingga indeks prestasi moral setiap anak hanya akan baik dalam lembar soal ujian untuk itu pengaplikasian secara efektif pasca diterapkannya program ini setelah masa kerja dua tahun dari Presiden Jokowi agaknya kurang membuahkan hasil pasalnya masih banyak mayoritas masyarakat Indonesia yang mudah untuk digoyahkan rasa nasionalis dan kebhinekaannya sehingga butuh sarana atau media yang lebih aplikatif dan mewadahi secara menyeluruh seluruh komponen bangsa dan dikemas secara ringan, praktis dan menarik sehingga mempermudah pemahaman akan suatu hal yang dinamakan dengan konsesi kehinekaan.

Pihak-pihak yang harus terlibat dalam penerapan secara menyeluruh tentang nilai kebhinekaan

Semua pihak harus terlibat dalam proses penerapan nilai kebhinekaan dintaranya pemerintah sebagai pemangku kebijkan, kemudian masyarakat sebagai pelaksana kebijakan, elit politik yang mempengaruhi alurkebijakan dan arus politik serta pendidik yang berada dilingkungan formal.  Bagi pemerintah harus adanya pengoptimalisasian pengaplikasian kebijakan yang sah kemudian masyarakat sebagai pelaksana kebijakan harus partisipatif dalam rangka mewujudkan penanman nilai kebhinekaan ini. Elit politik juga harus mengembangkan toleransi dalam berpolitik sehingga dalam kesehariannya tidak akan menghasilkan dualisme pemhaman akan politik identitas yang akhir-akhir ini diperbincangkan dan pendidik dilingkungan formal juga harus bertindak secara aktif seperti putusan Kemendikbud yang menyelenggarakan World Culture Forum (WCF) di Bali untuk menggalang komitmen meningkatkan peran keragaman budaya sebagai landasan perencanaan pembangunan berkelanjutan dan bersama-sama menghasilkan komitmen baru untuk mengambil langkah-langkah kongkrit dalam mengutamakan  kebudayaan dalam segala lini pembangunan yang ada di Indonesia ini guna mendapat generasi yang berilmu dan berbudaya serta mampu menghargai nilai kebhinekaan yang ada.
Terkait rencana kerja tahun berikutnya, Mendikbud menyampaikan tiga fokus utama Kemendikbud yaitu:

  • Penguatan Pendidikan Karakter (PPK),
  • Revitalisasi SMK dan
  • Terobosan dalam penyaluran bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar.

Untuk implementasi penguatan pendidikan karakter bagi SD dan SMP sebagai pondasi mental generasi penerus harus disegerakan dengan perhitungan yang matang. Revitalisasi SMK akan dipetaka dengan cermat untuk memastikan SMK benar-benar dapat menjawab kebutuhan lapangan kerja. Penuntasan program Indonesia Pintar juga diupayakan terobosan agar dapat lebih cepat dan tepat sasaran. Penguatan Pendidikan Karakter sebagai upaya melakukan revolusi karakter bangsa pada pendidikan dasar (SD dan SMP). Penguatan lima nilai utama karakter, diantaranya Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas pada kegiatan inti (intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler) akan menjadi praktik penerapan di sekolah percontohan PPK. Ditargetkan sampai dengan 2020 seluruh sekolah di Indonesia telah menerapkan pendidikan karakter.

Game sebagai Solusi yang kongkrit sebagai media penanaman nilai Kebhinekaan

Game merupakan aplikasi yang sangat laris dikalangan pengguna Smartphone atau Android masa kini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia terdapat seitar 63 juta orang menggunakan internet untuk bermain game online atau seitar 24 % dengan kisaran usia 12-34 tahun dan diperkirakan meningkat 5-10 % pertahun selaras dengan itu Entertainment Software Association (ESA) juga melakukan penelitian dan terdapat 70 %  gamer yang ada di Indonesia berusia (13-17 tahun) dan (18-24 tahun). Jika melihat data ini maka banyak sekali anak yang berada pada usia transisi menjadikan game sebagai rutinitas mereka ketika sedang membutuhkan hiburan oleh karenanya penulis berasumsi bahwasannya pembuatan game sebagai media penanaman nilai kebhinekaan akan sangat mudah dengan mengemas game secara baik  dengan  koten-konten kepahlawanan di Indonesia dan tidak hanya diisi dengan soal atau kuis yang tidak memiliki nilai ketertarika yang begitu tinggi tetapi game bisa dirancang dengan sevariatif mungkin dengan demikian ketika pemuda atau anak usia berkembang menggunakan game sebagai media melepas kejeuhan.

Pemeritah juga dapat menggunakan ini sebgai alat untuk menanamkan atau memberikan stimulus yang baik dalam pola pikir  anak-anak itu. Bermain game juga memberika dampak positif bagi manusia menurut mentri Sekretaris kabinet di Inggris Tom Watson bahwa dengan bermain game anak-anak dapat melatih konsentrasi dan beradaptasi terhadap perubahan disekitarnya, belajar menjawab tantangan. Peneliti University of Rochester, New York juga menjelaskan bahwa game dapat mengembangkan kemampuan membaca, matematika dan pemecaha masalah berdasarkan penjelasan kedua ahli tersebut maka game bisa dijadikan media penanaman nilai kebhinekaan dengan nilai ketertarikan yang tinggi inovasi atau pembaharuan yang terus dilakukan maka penanaman nilai kebhinekaan akan lahir kembali pada jiwa para pemuda untuk menyikapi bahwa perbedaan adalah hal hakiki yang menyatukan kita menjadi sebuah bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia. Game sebagai media yang bisa didesain dan diisi dengan nilai-nilai kebhinekaan yang membantu pemahaman akan pentingnya nilai kebhinekaan karena game adalah media yang popular dan bias dijamah oleh siapa saja dan seakan lintaskalangan untuk itu, Game akan membantu program pemerintah dalam bidang revolusi mental dan penanaman kebhinekaan utamanya dikalangan kaum muda. 

Penanaman akan nilai kebhinekaan merupakan hal pokok yang menjadi tugas bersama baik itu pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan masyarakat sebagai pelaksana kebijakan. Pendidikan akan kebhinekaan seakan harus terus ditingkatkan bukan hanya dengan memandafaat ranah pendidikan formal tetapi menjadikan tekhnologi sebagai media dalam penanaan nilai-nilai ebhinekaan yang objeknya biasdiklasifikasin secara merata dan menyeluruh untuk itu Penulis berpendapat dengan memanfaatkan game adalah media yang sangat efektif dan efisien yang bias digunakan oleh pemerintah yang dapat dikolaborasikan dengan pihak-pihak terkait tentunya didukung oleh keaktifan peran masyarakat Indonesia guna mencapai salah satu oin dari Nawa Cita dan menjaga nilai kebhinekaan Indonesia.