Pengarusutamaan Gender di Surakarta

Pada dekade 1990-an, ukuran untuk capaian keberhasilan pembangunan ekonomi sering ditandai dengan tingginya GDP. Ukuran ini untuk menggambarkan seberapa tingginya tingkat kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan, pakaian dan perumahan yang ditambah dengan kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan. Untuk penentu utama seberapa tinggi tingkat kemiskinan adalah kapabilitas untuk berfungsi yang diarahkan pada kemampuan masyarakat untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kesejahteraan (Todaro & Smith, 2011a; van den Bergh & Kallis, 2012), Sen dalam Todaro & Smith (2011a). Seiring dengan perkembangan waktu maka ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi secara fisik namun juga non fisik seperti pemenuhan kebutuhan sosial, ekonomi termasuk terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat. Kondisi yang demikian inilah yang dikenal dengan Sustainable Development Goals/SDGs (Pembangunan Berkelanjutan).

Isu Gender merupakan bagian dari SDGs, suatu program pembangunan yang dikeluarkan oleh PBB. Isu tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah kehidupan manusia sehingga menjadi salah satu perhatian dari badan internasional. Isu gender biasanya berkaitan dengan upaya untuk melahirkan sebuah kondisi yang memberikan kesempatan dan ruang beserta hak-haknya sebagai manusia yang sama bagi laki-laki Begitu pentingnya isu gender sehingga menjadi bagian dari kesepakatan Beijing Platform for Action dan menjadi fokus tujuan ke-5 SDGs yakni mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.

Jika bicara soal gender maka akan muncul beberapa istilah antara lain (1) kesetaraan gender yakni kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. (2) Keadilan gender merupakan proses untuk mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan. (3) Ketidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi tidak adil yang dialami oleh perempuan maupun laki-laki akibat struktur sosial dalam masyarakat. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang biasa muncul dalam masyarakat dan cenderung merugikan perempuan adalah marginalisasi, subordinadi, stereotype, kekerasan dan beban kerja yang tidak sepadan dengan laki-laki. Permasalahan pada poin ketiga inilah yang perlu mendapat perhatian dan diupayakan pengentasannya sehingga ke depan perempuan benar-benar dapat mengoptimalkan potensinya.

Upaya untuk menyetarakan kesempatan, ruang dan hak bagi perempuan tersebut telah dilakukan oleh pemerintah Kota Surakarta. Pada masa kepemimpinan FX. Hadi Rudiyatmo sebagai walikota dengan visi yang dipilih adalah terwujudnya Surakarta sebagai kota budaya, mandiri, maju, dan sejahtera. Misinya adalah mewujudkan Kota Surakarta yang waras, wasis, wareg, mapan, dan papan atau yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai sehat, berpendidikan, terpenuhinya makan, sejahtera dan bertempat tinggal secara layak. Untuk terpenuhinya hal tersebut dibutuhkan kesehatan jasmani dan rohani yang ditunjang dengan lingkungan yang baik yakni bersih dan sehat. Berdasarkan amanat dari Inpres No. 9 Tahun 2000 dan Permendagri No.15 tahun 2008 yang kemudian di revisi dengan Permendagri 67 tahun 2011 Bupati/Walikota melakukan pembinaan terhadap Pengarusutamaan Gender (PUG) yang meliputi (1) penetapan panduan teknis pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG), (2) penguatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan, konsultasi, advokasi, dan koordinasi, (3)  Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG, (4) Peningkatan kapasitas focal point dan Pokja PUG, dan (5) strategi pencapaian kinerja.

Sebagai aplikasinya terhadap perhatian kepada perempuan, Kota Surakarta melaksanakan (1) Pengarusutamaan gender yakni strategi yang dilakukan secara rasional dan sistematis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia; (2) Perencanaan responsif gender sebagai sebuah upaya untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender yang dilakukan melalui pengalaman aspirasi kebutuhan, potensi dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki; (3) Kampung responsif gender yakni wilayah setingkat RW atau dusun dengan kriteria tertentu dan terdapat keterpaduan antarsektor dalam perwujudan kesetaraan dan keadilan gender di wilayah tersebut; (4) gender champion atau kompetisi gender sebagai sebuah penghargaan yang diberikan kepada tokoh perempuan yang memberi inspirasi dalam peningkatan kesetaraan dan keadilan gender di Kota Surakarta.  

Menurut penulis, pada program pertama, pemerintah Kota Surakarta telah memiliki strategi untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam berbagai bidang kehidupan. Antara lain adalah Wanita Winasis sebagai sebuah paguyuban atay komunitas perempuan khususnya yang telah berumah tangga untuk mengembangkan potensi dan bakatnya seperti memasak, menjahit, berkebun dan sebagainya. Sebagai aplikasi pada program kedua yang telah dilakukan oleh Kota Surakarta adalah membentuk perkumpulan janda. Para ibu yang telah bercerai dengan suaminya dimotivasi dan didampingi agar mampu menjadi perempuan dan ibu yang tangguh. Ibu yang telah mengalami perceraian juga dimotivasi untuk mampu menjadi kepala keluarga sekaligus ibu yang mengurus rumah tangga. Untuk kampung responsif gender ditunjukkan dengan warganya yang sudah memiliki kesadaran untuk menempatkan dan memberikan peluang kepada perempuan untuk berperan banyak. Gender champion menjadi sarana untuk menunjukkan kemampuan perempuan dalam berkarya untuk memajukan masyarakat secara kompetitif yang salah satunya diperuntukkan bagi perempuan korban KDRT.

Berdasarkan data capaian pelaksanaan RAD PUG tahun 2019 masih banyak kegiatan dalam rencana aksi yang belum dilakukan di tahun 2019. Secara keseluruhan terdapat 43 rencana aksi yang belum dilakukan di tahun 2019 dari total 74 rencana aksi. Dari data tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah perencanaan program yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Kota Surakarta dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan. Untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut ada langkah-langkah mujarab yang diperlukan yakni: (1) penyusunan regulasi untuk mempertegas pelaksanaan pengarusutamaan gender. (2) Perbaikan atau pembaharuaan RAD PUG dengan melihat kondisi yang dihadapi oleh masing-masin perangkat daerah yang melaksanakan di masing-masing bidangnya. (3) Dukungan dan kerja sama dari semua elemen masyarakat diperlukan sehingga program yang dirancang pemerintah yang diperkuat dengan regulasi dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.   

Dari Kyoto ke Paris Dinamika Perjanjian Mitigasi Perubahan Iklim Dunia

A.Latar Belakang

Climate Change atau perubahan iklim merupakan isu lingkungan yang sekarang menjadi perhatian dunia. Kemunculan isu lingkungan ini memang berasal dari kondisi lingkungan di negara-negara industri, tapi pertimbangan untuk mengatasi masalah lingkungan ini adalah dampak yg muncul di seluruh kawasan di dunia. Sejak itu, masyarakat internasional menilai bahwa perlindungan lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bersama dan perlindungan lingkungan hidup tidak terlepas dari aspek  pembangunan ekonomi dan sosial.

Permasalahan lingkungan seperti kebakaran hutan, emisi yang dihasilkan industry, kemudian efek rumah kaca, polusi udara dari industri dan kendaran ,di tahun 2007 ketika Indonesia menjadi tuan rumah dalam climate conference, dunia sepakat bahwa dalam dua tahun akan ada kesepakatan baru tentang perubahan iklim, hampir delapan tahun sejak itu tapi perjanjian tersebut masih sulit untuk di pahami  bagi negara-negara yang ikut dalam climate conference, setelah kebuntuan panjang, pembicaraan iklim yang sedang diadakan di Paris bisa menjadi game-changer, dan negara-negara membutuhkan untuk mengadopsi perjanjian baru menggantikan Protokol Kyoto.

Sebelum adanya Protokol Kyoto negara-negara telah melakukan pertemuan dalam ranah hubungan internasional, yang pertama melalui Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan hidup pada tahun 1972 di Stockholm, Swedia yang dikenal dengan Stockholm Conference yang masih belum menemukan sebuah solusi global yang dapat menyelesaikan permasalahan bersama, kemudian dalam pertemuan antar negara-negara dalam membahas masalah lingkungan hidup terangkum dalam UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change pada tahun 1997 untuk membuat consensus penanganan lingkungan hidup yang terangkum dalam suatu Protokol yang disebut dengan Protokol Kyoto yang dihasilkan di Jepang tahun 1997. Protokol Kyoto tersebut mengatur batas pelepasan kader emisi karbon industry dari suatu negara dan negara-negara yang meratifikasinya berkomitmen mengurangi kadar emisi karbon secara kolektif hingga sebesar 8 % hingga tahun 2012, di mana sampai pada tahun 2007, sudah 174 negara yang  telah meratifikasi Protokol Kyoto. Kemudian Protokol Kyoto di perpanjang hingga tahun 2020.

Kemudian di lanjutkan dengan Konferensi Copenhangen tahun 2009 untuk mengangkat kebijakan perubahan iklim ke tingkat politik tertinggi yang kemudian menghasilkan Copenhangen Accord untuk mempertegas  bahwa dalam ranah politik ada sebuah upaya untuk membatasi karbon dan menanggapi perubahan iklim, baik dalam jangka pendek dan panjang.

Kesepakatan Paris merupakan kesepakatan internasional sebagai komitmen bersama dunia untuk memerangi perubahan iklim. Sebelum konferensi, sebagian besar negara menyerahkan janji mereka pada pengurangan emisi, yang dikenal sebagai Intended Nationally Determined Contributions (INDCs). Pengajuan INDCs merupakan langkah penting untuk mencegah bencana iklim, Setelah berunding selama dua minggu, sebanyak 195 negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB atau COP di Paris, Perancis akhirnya mengeluarkan Kesepakatan Paris (Paris Agreement). Berdasarkan perjanjian yang disepakati secara bulat itu, semua negara setuju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secepat mungkin. Selain itu, disepakati pula bahwa negara-negara di dunia berkomitmen untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 C.

Perbedaan antara Protokol Kyoto dengan Paris Agreement, dalam Protokol Kyoto perjanjian internasional ini mengatur target kuantitatif penurunan emisi gas rumah kaca dan target waktu penurunan emisi bagi negara maju, sementara itu negara berkembang tidak memiliki kewajiban atau terkait pada komitmen untuk menurunkan emisinya, di bawah Protokol Kyoto, negara-negara maju harus mematuhi peraturan hukum yang mengikat mengenai enam emisi gas rumah kaca, sehingga negara yang menandatangani atau meratifikasi terikat pada Protokol Kyoto. Sedangkan dalam Konferensi Paris Climate Change, kesepakatan paris tercatat sebagai perjanjian pertama yang melibatkan semua negara untuk mengurangi emisi karbon sehingga Paris Agreement mengikat semua negara untuk melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca yang diberlakukan pasca 2020, namun negara-negara dapat menetukan masing-masing penurunan emisi karbon sesuai dengan kemampuan negara-negara.

B.Partisipasi Indonesia dalam Konferensi Climate Change

Indonesia sebagai negara berkembang sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk menurunkan emisinya, dengan meratifikasi Protokol Kyoto, Indonesia dapat berpartisipasi di dalam isu lingkungan hidup, melalui Clean Development Mechanism (CDM). Kemudian di tahun 2005 Indonesia dan negara-negara lainnya  Papua Nugini, Brazil, Meksiko, mengusulkan REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation) adalah negara-negara berkembang yg memiliki hutan tropis dunia. Kemudian di tahun 2007 dalam Konferensi Climate Change di Bali namun dalam perkembangannya Indonesia tidak ikut dalam meratifikasi Protokol Kyoto dalam Anex 2. Selanjutnya di tahun 2015 dalam Paris Climate Conference, Indonesia juga menyerahkan INDC’s yang menetapkan target yang ketat dari pengurangan 29 persen pada tahun 2030 dari tingkat bisnis biasa dan tingkat yang lebih tinggi dari 41 persen dengan bantuan internasional.

Rekomendasi Kebijakan untuk Indonesia

  1. Dalam meja perundingan selanjutnya Indonesia diharapkan untuk terus mengajukan transfer teknologi seperti menerapkan : Energi Lepas Pantai seperti yang diterapkan oleh Jepang di Kato City, untuk memangkas karbon, tenaga  angin juga berperan besar dan bisa meningkat 10 kali lipat sebelum 2050, matahari dan angin bisa membantu menghindari sekitar 11 gigaton emisi karbon tahunan, hampir sepertiga total dunia kini. Kemudian membangun panel surya di atas perairan. Penangkapan dan penyimpanan karbon dengan menangkap karbon sebelum terlepas ke udara, menyimpannya di dalam tanah,  Negara seperti AS, Kanada dan Tiongkok menggunakan ini berupaya untuk membakar batu bara tanpa konsekuensi yang buruk.
  2. Apabila tax karbon diberlakukan di negara berkembang maka negara berkembang seperti Indonesia juga harus mendesak negara-negara maju seperti Amerika dan Tiongkok sebagai penghasil emisi terbesar untuk memberlakukan pajak karbon yang tinggi. Kemudian harus adil dalam menentukan tax carbon sesuai dengan jumlah emisi yang dihasilkan ,memasang harga pada emisi untuk mencegah efek samping dari pembakaran fosil baik dalam bentuk pajak atau pasar perdagangan bagi pencemar. Seperti di Denmark pajak karbon menurunkan emisi per kapita sebesar 15 persen dan lebih besar lagi untuk perusahaan di negara itu
  3. Indonesia dalam konferensi Perubahan Iklim diharapkan untuk  menyerukan CBDR-RC  atau prinsip Common But Differentiated Responsibillity with Respective Capabalities, prinsip yang berarti bahwa semua negara harus mengambil bagian dalam memerangi perubahan iklim, namun negara-negara maju harus memainkan peran yang lebih besar.

Sumber:

Data dari Website di Google tentang Perubahan Iklim

SENGKETA DAGANG WTO DS477 / DS478 INDONESIA – IMPORTATION OF HORTICULTURAL PRODUCTS, ANIMAL AND ANIMAL PRODUCTS

Indonesia dalam World Trade Organization (WTO)

Di tahun 1994 Indonesia pada Putaran Uruguay merupakan salah satu dari sekian banyak negara yang menjadi pendiri WTO dan terdapat bukti diterimanya hasil. Putaran Uruguay oleh Indonesia yaitu dengan adanya Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tentang Persetujuan Pembentukan WTO dan juga menjadi bukti bahwa Indonesia akan terlibat dengan segala kegiatan di WTO. Indonesia bergabung dengan WTO karena memiliki alasan yaitu membutuhkan adanya organisasi yang memiliki suatu system perdagangan dalam lingkup multilateral yang bisa mendorong terwujudnya pasar yang adil, bebas dan terbuka dan yang mendasari hal berikutnya adalah karena sistem ekonomi di Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari sistem ekonomi negara lain di dunia yang seluruhnya akan membentuk sistem ekonomi Internasional.

Pada Doha Development Agenda , Indonesia terpilih sebagai tuan rumah dalam KTM Ke-9 di Bali pada tanggal 3-7 Desember 2013, dalam agenda ini Indonesia dan negara-negara anggota WTO lainnya menyepakati “Paket Bali” yaitu mencakup isu fasilitasi perdagangan, pembangunan dan LDCs serta pertanian , perudingan isu ini merupakan sebagian dari perundingan Dohan Development Agenda. Dari perundingan ini dan Indonesia menjadi tuan rumah maka terlihat posisi Indonesia dalam keterlibatannya di WTO.

Sengketa Dagang WTO DS477 / DS478 Indonesia – Importation Of Horticultural Products, Animal sand Animal Products

Indonesia membuat kebijakan untuk mengatur impor produk hortikultura, hewan dan produk hewan , kebijakan ini untuk kepentingan Indonesia dalam mensejahterkan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani. Dalam keanggotaan Indonesia di World Trade Organization (WTO), pada tahun 2014 Indonesia dan beberapa negara anggota WTO yaitu Amerika Serikat dan Selandia baru terlibat sengketa yang terkait dengan kebijakan Indonesia yang mengatur impor produk hortikultura, hewan dan produk hewan. Pada tahun 2013 bulan Februari dan September kemudian yang terakhir pada bulan Juni tahun 2014  pihak yang saling bersengketa telah melakukan konsultasi terlebih dahulu, sebelum dilaporkan pada Badan Penyelesaian Sengketa Dagang WTO.

            Kebijakan Indonesia yang dikonsultasikan terkait dengan kasus sengketa dagang ini yaitu – UU No 13 tahun 2014 tentang Hortikultura,

– UU No 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,

– UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan,

– UU No 19 tahun 2013 tentang Pelindungan dan Pemberdayaan Petani

serta kebijakan terkait perdagangan luar negeri Indonesia yaitu Peraturan Menteri  Pertanian (Permentan) Nomor 86 Tahun 2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 16 Tahun 2013 Tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura, dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 46 Tahun 2013 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk Hewan.

Pihak tergugat dan pihak menggugat bersikukuh dengan pendapat masing-masing  dalam upaya konsultasi,  sehingga dalam upaya konsultasipun tidak menemukan solusi yang tepat. Amerika Serikat dan Selandia Baru bertahan dengan pendapatnya bahwa kebijakan yang dibuat oleh Indonesia yaitu  mengenai perdagangan produk pertanian melanggar ketentuan yang ada di WTO,  seperti Indonesia menerapkan  pelarangan  atau  restriksi kuantitaf  terhadap impor produk hortikultura, hewan dan produk hewan , kemudian Indonesia juga dianggap menerapkan perizinan impor non-automatic yang restriktif terhadap perdagangan dan tanpa adanya justifikasi serta Indonesia dianggap juga memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan produk dalam negerinya daripada produk impor yang sejenis.

Kemudian negara penggugat yaitu Amerika Serikat dan Selandia Baru  dalam kasus sengketa perdagangan ini membawa ke jalur hukum , dan di tahun 2015 Badan Penyelesaian Sengketa WTO membentuk panel atas permintaan AS dan Selendia Baru dengan 14 negara anggota WTO sebagai pihak ketiga yaitu Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Cina, Jepang, Korea Selatan, Paraguay, Singapura, Taiwan, dan Thailand

Ada 18 measures yang diadukan oleh AS dan Selandia Baru sebagai inkonsistensi dengan komitmen Indonesia di WTO. Panel sengketa pada 22 Desember 2016 mengumumkan temuannya bahwa 18 measures yang diterapkan Indonesia tersebut tidak sejalan dengan  ketentuan WTO pada persetujuan GATT 1994 Article XI : 1 (quantitave restriction) dikarenakan telah menimbulkan pelarangan dan pembatasan impor produk hortikultura, hewan dan produk hewan . Sehingga Indonesia harus melakuakan penyesuaian terhadap regulasi yang terkait.

Indonesia Dalam Menghadapi Sengketa Dagang

Indonesia mengambil langkah untuk mengajukan banding pada 17 Februari 2017. Namun, pada 22 November 2017 Badan Banding WTO tetap menguatkan rekomendasi panel sengketa yaitu Indonesia harus melakukan penyesuaian atas 18 measures yang dipermasalahkan. Sengketa dagang ini melalui pembahasan yang cukup panjang, dalam kasus ini maka disepakati bahwa Indonesia akan melakukan penyesuaian untuk tahap pertama selambatnya pada 22 Juli 2018 dan tahap kedua pada 22 Juni 2019, dan langkah-langkah penyesuian telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Sumber:

 Ni Luh Dewi A.L.2017. PRINSIP NATIONAL TREATMENT WTO (Studi Kasus Sengketa Dagang WTO DS477 / DS478  Indonesia – Importation of Horticultural Products, Animals and Animal Products). Skripsi. Tidak Diterbitkan.

www.kemendag.go.id

HEWAN DAN PRODUK HEWAN DI INDONESIA

Apa yang dimaksud Hewan dan Produk Hewan ?

Menurut Permendag Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk Hewan yang terdiri dari 39 Pasal, dalam Pasal 1 Ayat 1 yang dimaksud Hewan adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, atau udara baik yang dipelihara maupun yang ada di habitatnya, sedangkan dalam Pasal 1 Ayat 5 yang dimaksud Produk Hewan adalah semua bahan yang berasal dari hewan yang masih segar atau telah diolah atau diproses untuk keperluan konsumsi, farmakoseutika, pertanian atau untuk kegunaan lain bagi pemenuhan kebutuhan dan kemaslahatan manusia.

Jenis Hewan dan Produk Hewan

  1. Jenis Populasi Tahun 2014-2018
Sapi Potong Ayam Ras Petelur
Sapi Perah Ayam Ras Pedaging
Kerbau Itik
Kuda Itik Manila
Kambing Kelinci
Domba Puyuh
Babi Merpati
Ayam Buras  
  • Produksi Daging Tahun 2014-2018
Sapi Ayam Ras Petelur
Kerbau Ayam Ras Pedaging
Kambing Itik
Domba Kelinci
Babi Puyuh
Kuda Merpati
Ayam Buras Itik Manila
  • Produksi Telur
Ayam Buras
Ayam Ras Petelur
Itik
Puyuh
Itik Manila
  • Produksi Susu di Indonesia

Table diatas adalah Produksi Susu di Indonesia tahun 2014-2018, dari tahun 2014 sampai tahun 2017 mengalami kenaikan, namun di tahun 2018 mengalami sedikit penurunan.

Ekspor dan Impor  Sektor Perternakan 2013-2017

Table diatas adalah nilai ekspor dan impor sub sector peternakan, nilai impor lebih besar dari pada nilai ekspor, nilai impor tertinggi di tahun 2014 dengan nilai 4.000 Juta USS/Million USS, sedangkan nilai ekspor di tahun 2013, 2014, 2015 dan 2017 dengan nilai 500 Juta USS/ Million USS

Sumber:

pertanian.go.id

Potensi Indonesia Dalam Pembangunan Railway Beijing – Melbourne

Pada abad ke-21 era baru dimulai ditandai dengan tema perdamaian, pembangunan, kerja sama dan saling menguntungkan. Di abad ke-21 ini, China memiliki insiatif  One Belt One Road (OBOR) untuk menghidupkan kembali semangat jalur sutra. Inisiatif ini dikemukakan pertama kali oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungannya ke Asia Tengah dan Asia Tenggara pada bulan September dan Oktober 2013, ia mengangkat inisiatif untuk bersama-sama membangun Belt and Road. Pembangunan Belt and Road dapat membantu kemakmuran ekonomi negara-negara di sepanjang Belt and Road dan menghubungkan negara-negara Asia, Eropa dan Afrika lebih dekat.

Latar belakang dari inisiatif One Belt One Road  adalah perubahan yang kompleks dan mendalam sedang terjadi di dunia. Dampak dari krisis keuangan internasioanal yaitu ekonomi dunia yang pulih dengan perlahan, perkembangan global yang tidak merata, lanskap dan peraturan perdangan dan investasi sedang mengalami penyesuaian besar dan negara-negara masih menghadapi tantangan yang besar dalam pembangunan negara masing-masing. Inisiatif  ini untuk bersama-sama membangun One Belt and Road  untuk menuju dunia yang multipolar, globalisasi ekonomi, keragaman budaya dan aplikasi IT yang lebih besar, dirancang untuk menegakkan rezim perdagangan global dan ekonomi dunia yang terbuka dalam kerja sama regional terbuka.

Inisiatif  One Belt One Road bertujuan untuk mempromosikan konektivitas Asia, Eropa dan Afrika melalui darat maupun laut,  membangun dan memperkuat kemitraan di antara negara-negara di sepanjang Belt and Road, mendirikan jaringan konektivitas all-dimensional, multi-tier dan komposit, dan mewujudkan pembangunan yang beragam, independen, seimbang dan berkelanjutan di negara-negara ini. Proyek konektivitas dari Inisiatif ini akan membantu menyelaraskan dan mengoordinasikan strategi pengembangan negara-negara di sepanjang Belt and Road, memanfaatkan potensi pasar di wilayah ini, mempromosikan investasi dan konsumsi, menciptakan tuntutan dan peluang kerja, meningkatkan pertukaran antar masyarakat dan pertukaran budaya , dan saling belajar di antara orang-orang di negara-negara terkait, dan memungkinkan mereka untuk memahami, mempercayai dan menghormati satu sama lain dan hidup dalam harmoni, kedamaian, dan kesejahteraan.

Dengan adanya One Belt One Road  ini diharapkan dapat bersama-sama merangkul masa depan yang lebih cerah terutama untuk negara-negara berkembang disepanjang Belt and Road  untuk  terus maju mengembangkan potensi yang dimiliki, dan kerja sama Belt and Road  ini memiliki rasa saling menghormati dan saling percaya, saling menguntungkan  dan saling belajar antar peradaban,  dengan semua negara disepanjang Belt and Road melakukan upaya bersama untuk mencapai tujuan bersama maka ada prospek yang cerah untuk  inisiatif One Belt and Road  dan semua orang di negara-negara sepanjang Belt and Road dapat mendapatkan maanfaat dari inisiatif ini.

Pembangunan Railway Beijing-Melbourne ?

Proyek kereta api ini awalnya untuk proyek kereta api China-Singapura yang telah mendapatkan banyak perhatian selama beberapa tahun terakhir karena rute-rute ini terus berkembang, rute ini dimulai dari Kunming menuju selatan melalui Vietnam dan menuju ke barat melewati Laos dan Myanmar, kemudian menuju ke selatan melewati Bangkok dan menuju lebih jaug ke selatan melalui Malaysia dan berakhir ke Singapura. Ketika rute ini selesai akan menjadi rute dengan kecepatan tinggi dengan rata-rata 200 km/per jam dengan menempuh waktu 36 jam dari Beijing ke Singapura dan direncanakan akan beroperasi pada tahun 2020.

Pembangunan Railway ini juga bukan bagian dari rencana One Belt One Road  China, namun karena Indonesia dan Australia berada didekatnya menjadi masuk akal untuk melihat potensi rute yang akan dikembangkan. Hal ini juga sejalan dengan strategi China dan ASEAN untuk mengintegrasikan Asia untuk lebih baik.

Siapkah  Infrastruktur Kereta Api di Indonesia?

Jaringan kereta api di Indonesia khusunya di Sumatra, kenapa harus Sumatra?  Karena titik terdekat dari Singapura untuk terhubung dengan transportasi Indonesia adalah Pekanbaru, di pantai timur Sumatra. Di pulau Sumatra kereta api dibagi menjadi empat rute yang terpisah dan tidak terhubung.  Dari singapura membutuhkan penghubung dari empat jalur kereta api terpisah di Sumatra, secara kolektif memiliki sekitar 1.348km jalur yang dapat digunakan. Proyek infrastruktur sedang dilakukan untuk merenovasi jalur tambahan bekas sepanjang 500 km dan untuk menghubungkan jalur-jalur tersebut ke satu jaringan di bawah rencana kereta api Trans-Sumatra. Jika rute ini selesai , rute ini akan membentang dari Medan di utara Sumatra sampai ke pelabuhan selatan Padang dan timur ke Prabumulih. Jaringan kereta api Sumetra adalah bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Pemerintah Indonesia 2015-2019 untuk memperluas dan meningkatkan jaringan kereta api.

Bagaimana Indonesia-Australia?

Pelayaran Indonesia-Australia saat ini melewati Pelabuhan Tanjung Priok, kemudian kembali ke selatan melalui Selat Sunda atau dari Surabaya dan kembali melalui Selat Lombok. Pada titik-titik Selat ini kedua rute dititik yang padat sehingga keduanya juga membutuhkan rute yang panjang di sekitar Australia untuk menuju ke Pert ke Barat atau Timur ke Cairns kemudian ke Sydney. Sekarang rute laut antara Surabaya dan Darwin juga digunakan.

Antara Surabaya dan Darwin memiliki jarak yang relative dekat yaitu 2.063 km dibandingkan dengan Tanjung Priok ke Perth yang jaraknya 3.017 km dan Tanjung Priok ke Sydney. Darwin memiliki jalur kerata api yang baik untuk angkutan barang dan lalu lintas penumpang. Hal ini juga melihat kesiapan  pemerintah Indonesia terlebih dahulu dalam mengelola untuk menyatukan dan meningkatkan empat jaringan di Sumatra, dan ketika ini selesai rute kereta api Sumatra ini selesai maka dapat menghubung dengan rute yang ada di pulau jawa kemudian melewati Kupang untuk menuju Australia menuju kota Darwin dan jalur ini akan diteruskan ke Cairns, Brisbane, Sydney, Canberra hingga pemeberhetian akhirnya di Melbourne.

Apakah itu bagian dari One Belt One Road ? apakah rute kereta api Beijing-Melbourne ini akan manjadi kenyataan? mari kita tunggu saja.

HORTIKULTURA DI INDONESIA


Indonesia sebuah negara agraris dan memiliki iklim tropis dan berada di garis khatulistiwa, Indonesia mayoritas penduduknya adalah petani, sektor pertanian masih memiliki peran dan arti penting dalam mendukung perkembangan dan kemajuan ekonomi Indonesia. Sektor pertanian salah satunya adalah Hortikultura. Apa itu Hortikultura? Hortikultura adalah cabang pertanian tanaman, seperti buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.

Bagaimana Hortikultura di Indonesia?

Di Indonesia sektor Hortikultura memiliki potensi dan peran yang cukup besar dalam pembangunan ekonomi. Apabila Hortikultura dikelola dengan baik maka menjadikan Indonesia sebagai negara yang dapat diperhitungkan karena memiliki daya saing yang tinggi dan sumber daya yang mampu memenuhi kebutuhan pembangunan Hortikultura Selain itu keanekaragaman hayati menjadi pendukung untuk memberikan hasil yang baik untuk Hortikultura dan letak geografis Indonesia yang berada di jalur Khatulistiwa memberikan keunggulan komparatif karena lingkungan yang kondusif bagus bagi pertumbuhan keanekaragaman Hortikultura.

Dalam komoditas Hortikultura yang potensial dikembangkan sebanyak 323 komoditas, yang terdiri dari buah-buahan sebanyak 60 jenis, sayuran sebanyak 80 jenis, bioformaka sebanyak 66 jenis dan tanaman hias sebanyak 117 jenis, sampai akhir tahun 2007 yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah komoditas hanya 70 Jenis kemudian pada tahun 2008 meningkat 91 jenis.

Selain keanekaragaman hayati, ketersediaan lahan pertanian juga sangat penting, saat ini ketersediaan lahan pertanian untuk Hortikultura masih sangat kecil dibandingkan lahan pertanian lainnya. Indonesia memiliki tipe lahan  yang beragam seperti sawah, lahan kering, rawa, lebak, pasang surut, gambut. Sehingga keragaman tipe ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai hortikultura. Potensi sumberdaya ini harus dikelola dengan baik pemanfaatannya untuk pengembangan hortikultura sebagai alternatif peningkatan pendapatan petani.

Produksi Hortikultura

  1. Produksi Sayuran  Tahun 2014-2018
KubisPaprika
Cabai BesarKacang Merah
WortelBawang Putih
Kembang KolMlinjo
JamurBuncis
Cabai RawitLabu Siam
KentangTerong
LobakPetai
SawiTomat
Bawang DaunKetimun
Kacang PanjangKangkung
JengkolBayam
Bawang Merah 
  • Produksi Buah  Tahun 2014-2018
Jambu BijiStroberi
NanasPisang
Jeruk BesarManggis
Jambu AirBelimbing
RambutanSalak
PepayaSemangka
Durian Sukun
ManggaAnggur
Jeruk SiamAlpukat
MelonSirsak
Duku/ LangsatBelewah
NangkaMarkisa
ApelAnggur
Sawo 
  • Produksi Florikultura / Tanaman Hias  Tahun 2015-2018
MonsteraEuphorbia
AnggrekPhylodendron
Anthurium BungaHeliconia
DracenaCordyline
AglonemaSanseviera
AnyelirMawar
KrisanAndenium
Sedap MalamDracena
PakisMelati
DiffenbahiaAnthurium Daun
PalemAnggrek
GladiolIxora
GarberaCaladium
  • Produksi Biofarmaka Tahun 2015-2018
JaheJahe
Mahkota DewaKejibeling
Mengkudu/PaceLempuyang
Laos/LengkuasKunyit
TemulawakKencur
KapulagaTemuireng
Lidah BuayaDlingo/Dringo
SambilotoTemu Kunci

Table diatas adalah produksi yang dihasilkan komoditas Hortikultura mulai dari sayuran, buah, tanaman hias dan biofarmaka.

Nilai Ekspor dan Impor Hortikultura

Gambar diatas adalah nilai ekspor dan impor sektor Hortikultura dari tahun 2013 sampai tahun 2017, nilai ekpor dari tahun 2013-2017 mengalami naik turun dan nilai impor dari tahun 2013-2017 juga mengalami naik turun, namun di tahun 2017 nilai impor mencapai 2.500 Juta USS/ Million USS.

Sumber:

http://hortikultura.pertanian.go.idb

REFLEKSI KLAIM REOG PONOROGO

Bangsa majemuk adalah bangsa yang memiliki berbagai suku bangsa, agama dan bahasa. Kemajemukan terjalin dalam satu ikatan bangsa sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat. Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang di dasari oleh latar belakang social budaya, geografi dan sejarah yang sama. Dalam keanekaragaman latar belakang budaya, Indonesia memiliki salah satunya adalah seni budaya tari. Salah satunya budaya kesenian tari Reog Ponorogo.

Apa Itu Kesenian ?

Kesenian adalah salah satu isi dari kebudayaan manusia secara umum, karena dengan berkesenian merupakan cerminan dari suatu bentuk peradaban yang  tumbuh  dan  berkembang  sesuai  dengan  keinginan  dan  cita-cita  yang berpedoman  kepada  nilai-nilai  yang  berlaku  dan  dilakukan  dalam  bentuk aktifitas berkesenian, sehingga masyarakat mengetahui bentuk keseniannya. Kesenian juga sebagai  karya  atau  hasil  simbolisasi  manusia  merupakan sesuatu  yang  misterius.  Namun  demikian,  secara  universal  jika  berbicara masalah kesenian, orang akan langsung terimajinasi dengan keindahannya. Sehingga kesenian merupakan hasil kreatifitas masyarakat dari budaya itu sendiri, dan menghasilkan berbagai macam bentuk seperti lagu rakyat, seni rakyat dan tarian rakyat. Sehingga kesenian memiliki daya tarik tersendiri, ketika berbicara tentang kesenian maka banyak orang yang akan memiliki pandangan atau berpikir dengan istilah “Indah”.  

Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo berasal dari salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu Provinsi Jawa Timur, lebih tepatnya di Kabupaten Ponorogo. Reog Ponorogo adalah sebuah kesenian tari yang dimiliki oleh masyarakat Ponorogo secara turun temurun. Kesenian tari ini berbentuk teater, yang dilakukan oleh beberapa orang. Untuk memainkan dramanya, para pemain memakai topeng Reog. Reog Ponorogo ini kental dengan ilmu kebatinan dan mistik.

Dalam memainkan Reog Ponorogo membutuhkan tujuh orang pria yang berpenampilan gagah dan tampan, dengan menggunakan topeng yang berhias jambang dan kumis yang sangat menawan, dan diberi julukan Warok. Selain itu, ada enam pria yang berpenampilan seperti wanita dengan menunggangi kuda yang disebut Jathilan. Dan ada seorang yang membawa topeng singa besar yang terdapat hiasan bulu merak diatas topeng yang disebut dengan Singo Barong. Singo barong ini yang menjadi keunikan tersendiri karena hanya dibawa dan ditarikan oleh satu orang dengan menggunakan gigi dengan topeng seberat 50-60 kg.

Reog Ponorogo bercerita tentang seorang raja dari Kerajaan Ponorogo yang ingin melamar putri Kediri. Namun, dalam perjalanannya dijegat oleh Raja Singabarong dari kerajaan Kediri. Kelono Sewandono dan Bujang Anom yang dikawal oleh Warok. Kedua kerajaan tersebut mengadu ilmu hitam dan saling menyerang dengan tarian perang yang sangat beraneka ragam. Cerita ini yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah kesenian tari Reog Ponorogo.

Hingga saat ini Reog menjadi ritual masyarakat Ponorogo. Namun, dalam perkembangannya Reog Ponorogo dipertunjukkan pada acara khitanan, pernikahan, dan acara festival budaya dan hari-hari besar. Reog Ponorogo masih terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda dan menjadi ikon budaya dari daerah Jawa Timur. Ada makna dibalik tarian Reog Ponorogo, yaitu doa kepada Tuhan agar tidak terjadi musibah atau sebagai tolak bala, kekebalan tubuh dan usaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, ritual Reog Ponorogo juga dipimpin oleh sesepuh desa yang biasa memimpin upacara karena memiliki kekuatan dan sudah meninggalkan sifat duniawi. Dalam upacara ini terdapat sesaji yang terdiri dari kopi, menyan, kopi hitam, kembang kanthil dan dhadak merak. Reog Ponorogo dalam kehidupan masyarakat menjadi tradisi yang turun temurun yang diwariskan hingga saat ini, tetapi adanya perubahan zaman, membuat pengertian Reog Ponorogo mengalami pergeseran dan terdapat perubahan dari alat musik dan kostum yang digunakan, dan dalam pertunjukkan. Reog Ponorogo sekarang ceritanya disesuaikan dengan acara yang akan berlangsung.  

Tarian Reog Ponorogo memiliki fungsi sebagai komunikasi rakyat Ponorogo. Pertama, Reog Ponorogo sebagai sarana dalam menyatukan masyarakat, menjadi penghubung yang efektif bagi masyarakat Ponorogo untuk memperkenalkan dan mempertunjukkan budayanya ke seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional melalui media massa dan media komunikasi lainnya. Kedua, sebagai sarana hiburan rakyat dan media penguat sosial. Reog Ponorogo menjadi pertunjukkan disetiap acara-acara besar masyarakat di Indonesia. Dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang Reog Ponorogo maka dapat menguatkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Ponorogo di seluruh wilayah Indonesia. Ketiga, Reog digunakan masyarakat Ponorogo sebagai media dakwah agama Islam. Berikut ini media dakwah yang digunakan dalam Reog Ponorogo antara lain (1) Dadak Reog diartiakan perjalanan hidup manusia dilumuri noda dan dosa, apabila sadar akhirnya bertakwa kepada Tuhan jaminanya menjadi manusia sempurna dan muslim sejati. (2) Kenong yang diartikan sebagai makhluk ciptaan Tuhan dilarang untuk mengeluh, selalu diwajibkan untuk berusaha dan berdoa untuk mengubah hidup. (3) Kendang yang berarti manusia ini didunia tidak hidup kekal abadi dan dari situ harus mengendalikan kehidupannya agar tidak terjerumus. (4) Ketipung yang berarti semua yang dilakukan manusia akan ada balasannya maka dari itu harus berbuat baik. (5) Kethuk yaitu menggambarkan kehidupan manusia yang dianjurkan untuk selalu bertobat.

Asal usul dan perkembangan Reog dalam masyarakat Ponorogo, terus dilestarikan dan terus diperkenalkan ke setiap generasi, agar kesenian ini tidak hilang karena perubahan zaman dan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Budaya merupakan bentuk soft power bagi pemerintah Indonesia untuk memperkenalkannya ke mancanegara. Budaya sebagai soft power menjadi bagian penting dari kekuatan nasional. Dengan budaya yang beranekaragam dapat menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia dan mempelajarinya. Budaya sebagai soft power juga menjadi sarana untuk meningkatkan citra Indonesia di masyarakat internasional.

Malaysia Klaim Reog Ponorogo

Permasalahan klaim ini bermula pada tahun 2007 tari barongan menjadi bagian dari kampanye pariwisata visit Malaysia 2007 Malaysia Truly Asia”. Akar permasalahannya adalah sosok Singo Barong yang menjadi ikon Reog Ponorogo dengan memakai topeng dhadak merak, yang seharusnya ada tulisan “Reog Ponorogo” diganti dengan kata “Malaysia”. Selain itu, jalan cerita antara tarian Barongan dan Reog Ponorogo. Tarian Barongan memiliki alur cerita tentang Nabi Sulaiman yang sedang berbicara dengan berbagai binatang di sebuah hutan termasuk dengan harimau yang diatasnya terdapat burung merak. Reog Ponorogo bisa masuk ke Malaysia disebabkan oleh pekerja migran asal Ponorogo yang bekerja di perkebunan selama bertahun-tahun dan adanya kawin campur antara orang Indonesia dengan Malaysia sebelum pengiriman TKI.

Perjalanan Hubungan Bilateral Indonesia-Malaysia

Di tahun 2017 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia sudah memasuki usia ke-60 tahun. Hubungan Indonesia dan Malaysia mengalami pasang surut, banyak yang menjadi faktor yang menyebabkan hubungan Indonesia dan Malaysia tidak selalu harmonis,. Kedua negara yang secara geografis berbatasan darat maupun laut ini banyak memiliki kesamaan, kedua negara ini bagaikan saudara. Dengan adanya banyak kesamaan ini menjadi kedua negara sering berkonflik mulai dari perbatasan wilayah, budaya yang hampir sama dan permasalahan TKI. Konflik tersebut tertutup oleh kerja sama kedua negara dalam seperti bidang ekonomi, pendidikan, perbatasan, ketanakerjaan, pariwisata dan lain-lain. Untuk kepentingan bersama, masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik.

Jika menengok ke belakang, hubungan kedua negara pernah diwarnai masa konfrontasi sekitar tahun 1962-1966 yang ditandai dengan pemutusan hubungan diplomatik. Kejadian ini menjadi ujian bagi kedua negara. Kemudian tahun 1967 kedua negara sepakat untuk melalukan ”Normalisasi hubungan bilateralnya”. Hubungan kedua negara ini kembali diuji yaitu pada masa krisis ekonomi melanda kawasan Asia khususnya Asia Tenggara. Perubahan pasca reformasi yang drastis di dalam negeri Indonesia, membawa pengaruh terhadap hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia. Terkait dengan klaim Reog Ponorogo oleh Malaysia membawa dampak bagi hubungan bilateral kedua negara, karena kemarahan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia berdemo di depan kedutaan besar Malaysia untuk memprotes budaya milik Indonesia yang diklaim pihak Malaysia.

Perdamaian Sebagai Pilihan Utama

Dalam menyelesaikan Klaim Reog Ponorogo oleh Malaysia, Pemerintah Indonesia melalui pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo, mengajukan kesenian tersebut sebagai salah satu warisan budaya ke United Nations Educational (UNESCO). Sejak tahun 2010 Reog Ponorogo didaftarkan namun tidak ada kabar sehingga dicoba lagi untuk diusulkan lagi tahun 2016  dan baru mendapat respon tahun 2017. Reog Ponorogo baru bisa disidangkan oleh UNESCO pada tahun 2020 karena harus mengantre. Upaya selanjutnya adalah meminta pemerintah Malaysia memberikan klarifikasi bahwa Reog merupakan budaya Indonesia. Permohonan tersebut diterima oleh pihak pengklaim sehingga pemerintah Malaysia mengklarifikasi Reog sebagai budaya Indonesia.

PERAN DIPLOMASI BILATERAL DALAM SENGKETA CAMAR BULAN

Perbatasan Indonesia-Malaysia

Konflik yang bermula dari perselisihan atau sengketa tidak hanya terjadi pada individu, kelompok ataupun organisasi saja melainkan terjadi juga di level Negara. Sengketa yang melibatkan antara dua Negara disebut dengan sengketa internasional. Masalah sengketa terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Malaysia dan Indonesia sering terjadi sengketa mengenai perbatasan kedua Negara, hal ini terjadi dikarenakan letak geografis kedua Negara yang saling berdekatan, baik yang terjadi di wilayah laut maupun di wilayah darat.

Di tahun 2011-2012 terjadi sengketa perbatasan yang terjadi di Camar Bulan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sengketa yang bermula dari penemuan patok batas milik Indonesia oleh warga sekitar yang dirusak oleh Malaysia. Kemudian dari masalah tersebut muncul konflik mengenai pencaplokan wilayah Indonesia yang dilakukan oleh Malaysia, pencaplokan dilakukan pihak Malaysia karena pihak Malaysia berpatokan pada perjanjian tahun 1975 di Kinabalu dan tahun 1978 di Semarang. Isi dari perjanjian tersebut adalah kedua Negara setuju untuk membiarkan wilayah tersebut sebagai wilayah yang netral, tetapi pihak Malaysia justru dengan sengaja memasukkan wilayah tersebut ke dalam Outstanding Boundaru Problems (OPB) Camar Bulan ke dalam Peta Kampung Serabang, Serawak, Malaysia.

Dalam kasus sengketa Indonesia-Malaysia adalah sengketa yang melibatkan dua Negara, sehingga disebut dengan Sengketa Internasional. Sengketa Internasional adalah suatu perselisihan antara subjek-subjek hukum internasional mengenai fakta, hukum atau politik dimana tuntutan atau pernyataan suatu pihak ditolak, dituntut balik atau diingkari oleh pihak lainnya. Sengketa Internasional bisa juga diartikan sebagai perselisihan yang terjadi antara negara dengan negara, individu dengan individu atau negara dengan badan/lembaga yang menjadi subjek hukum internasional.

Penyebab sengketa internasional antara lain salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian internasional, perbedaan dan penafsian mengenai isi perjanjian internasional, perebutan sumber-sumber ekonomi, pengaruh ekonomi, politik, atau keamanan regional dan internasionak, intervensi terhadap kedaulatan negara lain serta penghinaan terhadap harga diri bangsa. Masalah-masalah yang menyebabkan sengketa internasional adalah Intervensi, Penyerahan (ekstradisi), Suaka (Asylum), Hukum Netralitas, Politis (Adanya Pakta Pertahanan atau Pakta Perdamaian), Suatu Wilayah Teritorial, Pengembangan Senjata Nuklir atau Senjata Biologi, Permasalahan Terorisme, Ketidakpuasaan Terhadap Rezim Yang Berkuasa, Perebutan Sumber-Sumber Ekonomi.

Diplomasi Bilateral

Diplomasi bilateral seringkali diartikan sebagai hubungan dua pihak dalam hubungan    internasional yang mengacu pada hubungan dua negara (Evans & Newnham, 1998:50). Diplomasi ini dilaksanakan untuk menyatukan satu tujuan dan kepentingan yang sama di antara kedua aktor. Menurut Evans dan Newnham (1998:63) juga menambahkan bahwa diplomasi bilateral merupakan suatu diplomasi yang dilakukan oleh dua negara dalam hubungan internasional secara tertutup atau rahasia. Hal ini dikarenakan diplomasi yang dilakukan hanya seputar kepentingan nasional kedua negara saja, sehingga kecil kemungkinan bagi negara lain untuk ikut berperan aktif dalam diplomasi ini. Diplomasi bilateral biasanya menggunakan prinsip hubungan timbal balik, jadi ketika suatu negara membutuhkan bantuan dari negara lain maka di lain hari ia juga akan memberikan sesuatu yang dibutuhkan. 

Diplomasi bilateral merupakan diplomasi yang paling efektif, karena dalam diplomasi ini hanya melibatkan dua Negara yang memiliki kepentingan yang sama. Di samping itu, diplomasi bilateral juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Samendra Lal Roy (1995:17), diplomasi bilateral dapat mengundang kecurigaan bahwa terdapat sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu pihak negara. Selain itu, diplomasi ini juga bisa bersifat menekan disebabkan adanya pihak yang lebih tinggi. Hal ini dapat diartikan bahwa negara yang memiliki power lebih kuat dapat menekan negara di bawahnya. Sebagai contohnya adalah perjanjian perdagangan bebas yang dilakukan antara Indonesia dengan China. Pada sengketa perbatasan kali ini diplomasi bilateral dinilai lebih sesuai dalam menyelesaikan sengketa, karena hubungan Indonesia-Malaysia yang harmonis diharapkan penyelesaian secara damai dapat terwujud. Diplomasi bilateral yang dilakukan oleh kedua Negara dalam menyelesaikan sengketa ini sudah banyak sekali. Perundingan maupun saling menggirimkan delegasinya, proses negosiasi sudah banyak dilakukan oleh kedua belah pihak.

Sengketa Perbatasan Indonesia-Malaysia Di Camar Bulan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

Salah satu kawasan yang sarat dengan sengketa adalah kawasan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia yang terdapat di Kalimantan Barat. Salah satunya adalah kasus pencaplokan Malaysia atas wilayah Indonesia tepatnya di Camar Bulan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Persoalan tersebut timbul dikarenakan Malaysia mengklaim wilayah Camar Bulan adalah wilayah Malaysia dengan mendasarkan kepada MoU pada Tahun 1975 di Kinabalu (Malaysia) dan 1978 Di Semarang (Indonesia) tentang hasil pengukuran bersama tanah tersebut, namun MoU adalah bersifat sementara atau tidak tuntas atau bisa ditinjau lagi (modus vivendi),  jika berdasarkan fakta dan juga dokumen peta, maka MoU yang sifatnya sementara tersebut tidak sesuai dengan Peta Negara Malaysia dan Federated Malay State Survey Tahun 1935, sehingga Indonesia dirugikan 1.449 Ha dan juga bertentangan dengan Pemetaan Kapal pemetaan Belanda van Doorn Tahun 1905 dan 1906 serta Peta Sambas Borneo (N 120-E1098/40 Greenwid, tetapi kemudian Malaysia buru-buru memasukan Outstanding Boundary Problems (OPB) Camar Bulan kedalam Peta Kampung Serabang, Serawak, Malaysia (Sinar Harapan, Selasa, 15 Oktober 2011).

Persoalan tersebut kemudian diperparah dengan adanya temuan Warga Dusun Camar Bulan, Temajuk, Kecamatan Paloh, Sambas, mengenai bukti areal bongkahan patok dan pecahan batu semen yang diduga patok batas A104 dihancurkan Malaysia. Temuan itu dijadikan bukti pertemuan pemerintah RI dan Malaysia akhir 2011 ini di Jakarta. Sengketa Camar Bulan antara Indonesia dan Malaysia disebabkan oleh batas wilayah daratan. Perbedaan prinsip penentuan batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. Malaysia mengklaim bahwa Camar Bulan merupakan wilayahnya, demikian juga dengan Indonesia.

Wilayah perbatasan merupakan sebuah wilayah yang sangat strategis bagi alat tolak ukur untuk stabilitas keamanan sosial dan ekonomi suatu Negara, dalam hal ini adalah Indonesia. Luasnya kawasan perbatasan Indonesia seharusnya memunculkan sebuah kebijakan pengelolaan perbatasan yang efektif, baik itu dari aspek sosial ekonomi dan keamanan. Namun, kondisi sebenarnya menunjukkan bahwa perbatasan Indonesia selama ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Semakin meningkatnya tindak kejahatan di perbatasan (border crime) seperti penyelundupan kayu, barang, dan obat-obatan terlarang, perdagangan manusia, serta terorisme telah mengganggu kedaulatan serta  stabilitas keamanan di perbatasan negara. Selama ini, kawasan perbatasan Indonesia hanya dianggap sebagai garis pertahanan terluar negara, oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam mengelola perbatasan hanya pada pendekatan keamanan (security approach).  Padahal, di beberapa negara tetangga, misalnya Malaysia, telah menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity) dan keamanan secara berdampingan pada pengembangan wilayah perbatasannya.

Perbatasan yang rawan terjadinya sengketa adalah di perbatasan Indonesia dengan Malaysia yang berada di wilayah Kalimantan Barat. Salah satunya adalah sengketa yang terjadi di Camar Bulan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Camar Bulan ini terletak di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas,  Kalimantan Barat.  Kawasan ini sendiri memiliki luas sekitar 1.499 hektare. Camar Bulan yang terletak di desa Temanjuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan barat ditandai dengan pilar-pilar atau tugu batas dengan notasi A1, A2, A3, A4 dan seterusnya ke arah selatan, yang merupakan rangkaian pilar perbatasan RI – Malaysia di Kalimantan  Barat  dan  Kalimantan Timur.  Sampai dengan saat ini jumlah  kesemuanya ada 19.328 pilar dengan notasi A, B, C, D dan seterusnya sampai  ke Pulau Sebatik. Dengan memperhatikan peta Topografi Angkatan Darat tahun 2004 Nomor:3128-IV, Tanjung Datu, Camar Bulan dan Nomor: 3129 III, Temanjuk Besar, ditetapkan bahwa di sekitar Camar Bulan terdapat tugu batas A4.  Selain pilar atau tugu perbatasan terserbut,  berdasarkan hasil perjanjian pemerintah RI – Malaysia juga  telah  didokumentasikan,  pos  perbatasan telah dibangun oleh pemerintah RI – Malaysia, serta patroli perbatasan bersama juga telah dilaksanakan.

Kondisi wilayah perbatasan Indonesia sangat jauh berbeda dengan Malaysia. Sebagai contoh kondisi di wilayah Camar Bulan, jalan menuju daerah tersebut sulit dan perlu waktu lama. Butuh waktu 6 jam lebih perjalanan darat dari Pontianak, ditambah harus menyeberangi sungai dan naik feri yang jam operasinya terbatas menuju Teluk Kalong. Di Kecamatan Paloh, jalanan rusak parah dan jembatan untuk menyeberangi sungai-sungai kecil juga hampir roboh. Dengan akses jalan seperti itu, tidak heran daerah perbatasan tersebut menjadi terisolir. Sulitnya medan yang harus ditempuh dan kurangnya fasilitas transportasi menyebabkan daerah tersebut seolah terputus dari dunia luar. Hal ini berbeda dengan akses dari negara tetangga yang lebih mudah, sehingga pengusaha merasa lebih mudah mendapatkan produk dari Malaysia daripada dari Indonesia. Selain itu, butuh waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih mahal.

Fasilitas transportasi juga perlu diperhatikan agar tidak sulit dijangkau. Informasi merupakan hal penting untuk menetahui apa yang sedang terjadi di dunia luar. Informasi dibutuhkan agar kita tidak menjadi bangsa yang tertinggal. Warga di daerah perbatasan yang terisolir, biasanya sulit mendapatkan informasi dari dunia luar. Di Camar Bulan contohnya, sinyal operator seluler tidak mampu menjangkau daerah tersebut. Justru sinyal operator Malaysia yang menjangkaunya. Tidak berbeda dengan televisi. Hanya siaran dari Malaysia yang bisa ditangkap tanpa parabola. Pembangunan infrastruktur yang kurang oleh pemerintah Indonesia membuat warga di Camar Bulan terpaksa menggunakan fasilitas yang seadanya. Hal ini membuat warga sekitar lebih senang pergi ke wilayah Malaysia, karena diwilayah tersebut fasilitas yang ada lebih dari cukup dan lebih kumplit dibandingkan yang dimiliki pemerintah Indonesia.

Sengketa wilayah yang dilakukan oleh pihak Malaysia di wilayah Camar Bulan bermula dari isu pencaplokan lahan seluas 1400 hektare oleh pihak Malaysia di wilayah Camar Bulan. Hal tersebut juga makin diperparah dengan penemuan patok batas yang telah rusak oleh warga sekitar. Permasalahan perbatasan ini terjadi dikarenakan pihak Malaysia mempunyai pandangan yang berbeda terhadap perjanjian yang telah dibuat dengan pemerintah Indonesia. Perjanjian di Kinabalu (1975) dan Semarang (1978) yang berisikan bahwa wilayah Camar Bulan masuk ke wilayah netral dan berdasarkan perjanjian yang bersifat sementara atau masih bisa dirundingkan kembali. Tetapi pihak Malaysia malah dengan sengaja berdasarkan perjanjian tersebut memasukan wilayah Camar Bulan kedalam wilayah Malaysia. Hal tersebut juga ditambah dengan memasukkan wilayah Camar Bulan ke dalam Oustanding Boundary Problem (OBP) wilayah serawak milik Malaysia.

Beberapa penyebab terjadinya sengketa di Camar Bulan, antara lain

  1. Pengawasan Perbatasan

Kurangnya pengawasan Indonesia terhadap wilayah sendiri merupakan salah satu faktor terjadinya sengketa wilayah territorial. Masih minimnya perlengkapan  – perlengkapan  pengawasan wilayah, apalagi Indonesia adalah negara yang luas. Dalam pengawasan perbatasan di Camar Bulan, pemerintah telah membentuk suati tim yaitu Badan Nasional Penanggulangan Peerbatasan (BNPP) yang dibentuk pada tahun 2010 oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono semasa memerintah. BNPP ini bertugas sebagai badan yang berfungsi untuk mengawasi dan mengelola wilayah perbatasan Indonesia, dengan maksud untuk menyelaraskan antara pertahanan-keamanan dengan social-ekonomi masyarakat di perbatasan. Selain itu, BNPP bertugas tugas menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengkoordinasikan pelaksanaan, serta melaksanakan evaluasi dan pengawasan terhadap pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.

  • Keadaan Masyarakat Perbatasan

Masyarakat perbatasan adalah masyarakat yang sering dilema, mau tak mau sistem mereka terpengaruh oleh negara lain yang berbatasan dengan mereka. Faktor ekonomi menjadi faktor dominan penyebab terjadinya dilema masyarakat. Malaysia mengangkat WNI yang tinggal di  perbatasan menjadi tentara Malaysia. Bayangkan saja, hal seperti itu lah pemicu sengketa masalah wilayah, karena masyarakat sendiri yang lebih berpihak pada negara lain. Masyarakat sepenuhnya tak bisa juga dipersalahkan mengenai hal tersebut, pemerintah harus memperhatikan mereka. Selain hal tersebut fasilitas atau infrastruktur dikawasan perbatasan Indonesia sangat minim, bahkan bisa dibilang tidak ada pembangunan sama sekali. Ini beda dengan perbatasan di Malaysia, di wilayah tersebut pembangunan sangat merata, infrastrukturnya pun memadai. Hal tersebut membuat masyarakat perbatasan merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Oleh sebab itu banyak WNI lebih suka untuk bekerja atau memakai produk dari Malaysia karena harga lebih murah dan mudah untuk mendapatkan. Hal tersebut pun mengkhawatirkan karena rasa nasionalisme terhadap bangsa sendiri akan pudar.

  • Kebijakan Pemerintah Daerah Perbatasan

Pemerintah daerah yang kurang tanggap terhadap wilayahnya, terutama pada bagian perbatasan dapat memicu terjadinya sengketa wilayah teritorial. Pemerintah Daerah yang harus paling aktif dalam mencegah hal ini, karena Pemda yang lebih memiliki wewenang langsung terhadap wilayahnya. Kelalaian tingkat Pemda inilah yang terkadang menyebabkan ketidak jelasan suatu wilayah sehingga rawan pengklaiman oleh negara lain. Di wilayah Camar Bulan, Kabupaten Sambas kebijakan pemerintah daerah dinilai sudah maju. Hal ini terbukti pada tahun 2012 pembangunan jalan beraspal di Kabupaten Sambas mengalami kenaikan. Dengan adanya jalan beraspal ini, perkembangan ekonomi di wilayah Sambas naik menjadi 7 persen, hal tersebut juga berpengaruh pada wilayah Camar Bulan. Disamping kebijakan pemda perbatasan mengenai pembangunan jalan yang telah sukses terdapat kebijakan pemda perbatasan yang dinilai tidak menguntungkan oleh warga sekitar. Pelarangan untuk menanam tanaman yang berukuran panjang, selain itu adanya doktrin oleh pihak militer dan pemda perbatasan mengenai zona steril, dimana 500 meter sampai 5 km dari perbatasan warga dilarang untuk beraktifitas dan melakukan aktifitas tanam-menanam. Padahal pihak Malaysia melakukan aktifitas cocok tanam di daerah perbatasannya, hal tersebut membuat warga sekitar beralih menjadi petani di negara lain. Kebijakan-kebijakan tersebutlah yang menjadi akar dari sengketa kedua negara, tentu saja itu bukan salah dari warga sekitar melainkan kesalahan yang dibuat oleh pemda perbatasan. Kebijakan yang tidak mensejahterakan warga sekitar inilah yang nantinya akan menjadi salah satu dari akar sengketa. Oleh karena itu pemda perbatasan diharapkan dapat membuat suatu kebijakan di mana dapat mensejahterakan dan menciptakan rasa aman bagi warga di Camar Bulan.

  • Perebutan Sumber Ekonomi

Dalam hal ini sumber daya alam suatu wilayah dapat memicu terjadinya sengketa perbatasan. Di daerah Camar Bulan sendiri, sumber daya alamnya terhitung menggiurkan, daerah tersebut mempunyai banyak hutan yang menghasilkan kayu untuk industri. Dari sumber daya alam tersebut, banyak sekali terjadi kasus ilegal logging yang dilakukan oleh pihak Indonesia maupun Malaysia. Pengawasan di daerah tersebut terbilang minim sehingga kasus-kasus seperti itu menjamur. Dari situlah muncul sengketa, karena dari pihak Indonesia kurang pengawasan sehingga membuat pihak Malaysia masuk ke daerah tersebut untuk mengambil sumber daya alam milik Indonesia.

  • Perbedaan Penafsiran Perjanjian Internasional

Perjanjian batas wilayah yang kurang jelas antara Negara – negara yang berbatasan juga menjadi  penunjang utama dari tindakan saling pengklaiman wilyah territorial, terutama yang kaya akan sumber daya alam. Hal inilah yang terjadi didaerah Camar Bulan, Malaysia menganggap perundingan tahun 1975 di Kinabalu dan Semarang tahun 1978 bersifat mengikat tetapi Indonesia menganggap kesepakatan dalam perundingan 2 negara itu adalah bersifat sementara waktu saja sampai ada perundingan selanjutnya antara  kedua belah Negara yang bersengketa. Dari perbedaan penafsiran tersebut, pihak Indonesia rugi dengan kehilangan 1.400 hektar wilayahnya di Camar Bulan. Menurut Traktat London, daerah yang telah dicaplok oleh Malaysia sebenarnya adalah milik pihak Indonesia. Traktat London adalah kesepakatan antara Kerajaan Inggris dan Belanda terkait pembagian wilayah administrasi tanah jajahan kedua negara. Isi perjanjian itu antara lain mencakup batas negara antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan didasarkan pada watershead. Maksudnya, yang menjadi tanda pemisah adalah aliran sungai atau gunung, deretan gunung, dan batas alam dalam bentuk punggung pegunungan.

Penyelesaian Sengketa Perbatasan di Camar Bulan

Penyelesaian yang ditempuh untuk sengketa Camar Bulan dengan menggunakan Diplomasi Bilateral, dikarenakan usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah lebih kepada perundingan dan proses negosiasi. Perundingan dan negosiasi tidak dapat dilakukan dengan baik apabila hubungan kedua negara tidak baik. Maka diperlukan diplomasi yang baik, diplomasi yang baik antara Indonesia dan Malaysia melalui diplomasi Bilateral. Banyak sekali diplomasi bilateral yang dilakukan oleh pihak Indonesia dan Malaysia dalam menyelesaikan suatu sengketa, dan juga pada sengketa perbatasan di Camar Bulan ini.

  1. Diplomasi Bilateral

Diplomasi bilateral merupakan diplomasi yang dilakukan oleh dua belah pihak, pada sengketa kali ini kedua belah yang dimaksud adalah Indonesia dan Malaysia. Pada sengketa perbatasan di Camar Bulan ada beberapa perundingan dan negosiasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Kenapa kedua belah memilih diplomasi bilateral, ini dikarenakan hubungan kedua Negara yang sudah sangat dekat serta banyaknya sengketa yang telah diselesaikan kedua belah pihak dengan diplomasi bilateral. Dalam diplomasi ini unsur yang selalu digunakan oleh kedua Negara adalah negosiasi dan perundingan. Beberapa perundingan amaupun negosiasi yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak dalam menyelesaiakan sengketa perbatasan di Camar Bulan seperti Joint Commission for Bilateral Cooperation between the Republic of Indonesia and Malaysia atau JCBC yang diadakan di Kuala Lumpur, Pemberian penghargaan kepada Raja Malaysia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara dan Bali Democracy Forum (BDF).

  1. Joint Commission for Bilateral Cooperation between the Republic of Indonesia and Malaysia (JCBC)

Pertemuan JCBC dipimpin secara bersama oleh Menlu RI dan Menlu Malaysia dan ditujukan untuk membahas status kerjasama bilateral kedua negara , khususnya pasca pertemuan terakhir yang berlangsung di Bali. Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 Oktober 2011 merupakan perundingan pertama yang dilakukan oleh kedua pihak dalam upaya penyelesaian sengketa perbatasan di Camar Bulan. Perundingan yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia diikuti oleh beberapa delegasi kedua Negara. Perundingan yang bertemakan Joint Commission for Bilateral Cooperation between the Republic of Indonesia and Malaysia atau JCBC membicarakan mengenai proses delimitasi perbatasan maritime kedua Negara. Tetapi dalam perundingan tersebut, permasalahan mengenai sengketa yang terjadi di Camar Bulan hanya disinggung sedikit dan kemudian ditindak lanjutin dengan pertemuan antara menteri luar negeri yang diadakan secara tertutup. Dalam pertemuan tertutup tersebut hasil negosiasi tidak dibeberkan secara langsung, melainkan masih akan dilanjutkan ke perundingan selanjutnya.

  • Pemberian Penghargaan Kepada Raja Malaysia

Perundingan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Raja Malaysia. Perundingan ini bermula dari pemberian penghargaan tertinggi kepada Raja Malaysia oleh Presiden Susilo Bambang Yuhoyono pada tanggal 16 Oktober 2011 yang berlangsung di Istana Negara. Pemberian gelar tersebut dimaksudkan untuk meredam konflik yang terjadi antara kedua Negara. Hal tersebut untuk memberikan citra bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia masih harmonis dan tidak renggang karena sengketa yang berlangsung. Setelah acara pemberian gelar selesai, presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Raja Malaysia melakukan perundingan secara tertutup. Dalam perundingan tersebut, selain membahas permasalahan bilateral kedua Negara juga membahas mengenai sengketa perbatasan di Camar Bulan. Hasil dari perundingan yang dilakukan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Raja Malaysia khususnya mengenai sengketa perbatasan masih belum menemukan titik temu dan akan dilanjutkan dengan perundingan selanjutanya.

  • Bali Democracy Forum (BDF)

Selanjutanya yang ketiga adalah Bali Democracy Forum (BDF). Bali Democracy Forum merupakan forum kerjasama tahunan antara negara-negara demokrasi di Asia yang diadakan setiap akhir tahun di Bali.

Dalam Bali Democracy Forum (BDF) menteri luar negeri Indonesia juga mengadakan perundingan secara tertutup dengan pihak Malaysia. Dalam perundingan tersebut hal yang dibahas adalah penyelesaian sengketa yang terjadi di Camar Bulan, hasil dari perundingan tersebut pihak Malaysia tetap bersikukuh berpatokan pada perjanjian tahun 1975 dan 1978 dimana pihak Malaysia memasukan wilayah Camar Bulan sebagai OBP Serawak. Secara tidak langsung Malaysia menggangap Camar Bulan tetap masuk menjadi wilayah Malaysia. Tetapi pihak Indonesia tetap akan mengadakan perundingan selanjutnya guna membahas permasalahan tersebut agar wilayah yang dipersengketakan tetap menjadi milik Indonesia.

Dari beberapa perundingan tersebut hasil yang didapatkan oleh pemerintah Indonesia masih sama saja. Selain perundingan diatas dan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia. Pertemuan rutin tingkat menteri antara Indonesia dan Malaysia juga sudah sering dilakukan, tetapi hasil yang diharapkan belum maksimal karena pihak Malaysia masih berpatokan pada perjanjian tahun 1975 dan 1978. Pertemuan konsultasi tahunan antara Presiden RI dengan Perdana Menteri Malaysia yang dilakukan di Lombok pada 20 Oktober 2011. Pertemuan yang berlangsung singkat tersebut tentu saja memasukan penyeleseaian sengketa di Camar Bulan sebagai salah satu agendanya, tetapi dari pernyataan pers kedua Negara, permasalahan sengketa perbatasan di Camar Bulan justru tidak dimasukkan dalam pernyataan pers yang dipublikasikan.

KENDALA DALAM PROSES DIPLOMASI BILATERAL

Pada sengketa yang terjadi di Camar Bulan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, hambatan yang dialami oleh pihak Indonesia dalam proses diplomasi seperti kurang tegasnya diplomasi yang dilakukan Indonesia. Ini terbukti dari sikap Malaysia yang selalu mengulur waktu dalam penyelesaian sengketa di Camar Bulan. Walaupun telah banyak melakukan perundingan bahkan di tingkat kepala Negara, hasil yang diperoleh tetap sama, yaitu bahwa Malaysia masih tetap berpatokan pada perjanjian tahun 1975 dan tahun 1978, dimana Malaysia memasukkan wilayah Camar Bulan kedalam OBP wilayah Malaysia.

 Kendala selanjutnya yaitu citra delegasi Indonesia. Pada waktu terjadinya sengketa perbatasan di Camar Bulan, di dalam negeri Indonesia sedang kisruh dengan isu korupsi yang dilakukan oleh petinggi pemerintahan. Citra suatu Negara sangat penting dalam proses diplomasi yang dilakukannya. Dengan citra yang baik atau positif, proses diplomasi akan berjalan dengan baik, ini dikarenakan pihak lawan akan menggangap citra yang baik sebagai keunggulan yang dimiliki Negara kita proses diplomasi berjalan lebih lancar dan kepentingan Negara akan lebih mudah untuk terwujud. Ini bertolak belakang pada waktu sengketa perbatasan di Camar Bulan. Dengan kasus tersebut tentu saja membuat citra Indonesia dimata Negara lain menjadi buruk tidak terkecuali di mata Malaysia. Proses negosiasi dalam penyelesaian sengketa perbatasan berjalan sangat lambat dan tidak membuahkan hasil yang bearti.

 Kendala selanjutnya adalah power yang dimiliki oleh Indonesia lebih kecil di banding Malaysia. Dalam hal ini power yang dimaksud adalah kekuatan tempur atau militer Indonesia. Ini terbukti dari kasus yang telah terjadi yaitu kasus persengketaan di Blok Ambalat,  pihak Malaysia dengan seenaknya sendiri melakukan patroli di wilayah perairan Indonesia. Bahkan karena kejadian tersebut pernah muncul konflik di perairan Ambalat karena penangkapan nelayan Indonesia oleh patrol laut Malaysia. Kejadian penangkapan tersebut terjadi masih di dalam perairan laut Indonesia sendiri. Kekuatan militer sangat berpengaruh dalam melakukan tindak diplomasi, dengan kekuatan militer yang kuat proses diplomasi akan sangat menguntungkan bagi pihak pemilik kekuatan militer tersebut. Selanjutnya adalah keanggotan kedua Negara dalam ASEAN, karena keanggotan tersebut, kedua belah pihak yang bersengketa yaitu Indonesia dan Malaysia harus dapat melakukan penyelesaian sengketanya sendiri. Karena ASEAN mempunyai prinsip tidak boleh ikut campur tangan dalam sengketa yang terjadi diantara anggotanya.

Manfaat Media Gambar Tentang Organ Pernapasan Manusia

Wiyarti

Pengantar
Banyak siswa SD bahkan sampai kelas V belum paham tentang organ pernapasan manusia. Nilai ulangan banyak yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena minat siswa terhadap mata pelajaran IPA sangat rendah atau bisa juga guru kurang jelas dalam menyampaikan mata pelajaran tersebut,sehingga anak tidak tertarik dengan materi yang disampaikan.
Kondisi seperti yang diuraikan di atas yaitu rendahnya penguasaan materi IPA dengan Kompetensi Dasar tersebut tidak sepenuhnya merupakan kesalahan anak. Pembelajaran tentang fungsi organ pernapasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan yang disampaikan belum optimal. Hasil diskusi dengan beberapa teman ditemukan beberapa kemungkinan kekurangan/kelemahan yang menyebabkan rendahnya prestasi siswa pada materi tersebut, antara lain: 1. Rendahnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA, 2. Rendahnya konsentrasi siswa saat proses pembelajaran, 3. Rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep fungsi organ pernafasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan, 4. Siswa bosan dan tidak tertarik dengan penjelasan dari guru, 5. Pemilihan strategi pembelajaran yang tidak tepat, 6. Pemilihan sumber belajar yang kurang tepat.
Berdasarkan beberapa kemungkinan kekurangan/kelemahan tersebut, maka ditemukan beberapa alternatif yang mungkin dapat memperbaiki kelemahan proses pembelajaran tersebut: 1). Memperbaiki pengelolaan tata ruang kelas, 2) Merubah sistem pembelajaran individu menjadi pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil, 3) Memilih alat dan sumber belajar yang tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fungsi organ pernafasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan. Dari beberapa alternative di atas memilih alat dan sumber belajar yang tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fungsi organ pernapasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan tmpaknya merupakan cara yang paling tepat untuk meningkatkan motifasi belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat.

Hakekat Pembelajaran
Kata belajar kurang lebih berarti perubahan tingkah laku menuju yang lebih baik atau merupakan usaha untuk mengubah dari sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa. Belajar sebagai proses,bukan sekedar pengalaman dan bukan suatu hasil. Sebagai suatu proses berarti terjadi perubahan kualitatif individu,sehingga tingkah lakunya berkembang. Perubahan itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan sikap dan perkembangan cara berpikir. Belajar sebagai suatu proses berarti pula belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan berbagai perbuatan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian seseorang melakukan perbuatan belajar karena mempunyai suatu tujuan. Guru dalam perannya adalah mengarahkan belajar, menunjukkan sumber belajar, menyajikan bahan belajar, dan mendorong seseorang untuk belajar, sehingga seseorang berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan.
Sekolah Dasar (SD) menurut Waini Rasyidi (1993) pada hakikatnya merupakan satuan atau unit lembaga social (social institution) yang diberi amanah atau tugas khusus (specific task) oleh masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan dasar secara sistematis. Mengacu pada tujuan pendidikan nasional dan tujuan nasional, dalam kurikulum Pendidikan Dasar dinyatakan bahwa tujuan operasional pendidikan Sekolah Dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa seuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Berdasarkan tujuan operasional tersebut pendidkan Sekolah Dasar tidak menjalankan fungsi terminal melainkan menjalankan fungsi transisional.
Dari aspek perkembangan kognitif prinsip praktis bagi anak usia Sekolah Dasar adalah: 1) Kurikulum atau proses pembelajaran harus menyajikan bahan ajaran yang sepadan dengan perkembangan anak yang memungkinkan anak tersebut melakukan eksplorasi, berfikir, dan memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak lain dan orang dewasa sehingga bermakna bagi anak itu sendiri. 2) Prinsip praktis yang relevan dengan pembelajaran, yaitu anak usia SD harus diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok kecil, dan guru menciptakan kemudahan berdiskusi diantara anak, sehingga anak dihadapkan pada kegiatan aktif dari pada kegiatan pasif. Kebermaknaan dalam proses pembelajaraan dapat dilakukan dengan merancang suatu tugas yang bermakna sehingga pembelajaran berfokus pada salah satu pencampaian kompetensi belajar.  

Hakikat Pembelajaran IPA
Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa hakikat sains adalah produk, proses, dan penerapannya (teknologi), termasuk sikap dan nilai yang terdapat didalamnya. Produk sains yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori dapat dicapai melalui penggunaan proses sains, yaitu melalui metode-metode sains atau metode ilmiah (scientific methods), bekerja ilmiah (scientific inquiry). Banyak orang berpendapat bahwa sains memberikan kesempatan bagi orang yang mau belajar berbuat, berpikir dan bertindak seperti ilmuwan (scientist). Pada hakikatnya Ilmu Pengetahuan Alam (sains) sangat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat melalui teknologi, karena teknologi sangat erat hubungannya dengan bekerja ilmiah. Bekerja ilmiah sesungguhnya adalah perluasan dari metode ilmiah.
Di Indonesia metode ilmiah sudah ditekankan dalam IPA sejak kurikulum 1975. Dalam kurikulum 1994, lingkup proses dan konsep diintegrasikan dalam setiap rumusan tujuan pembelajaran (umum) yang harus diukur pencapaiannya.
Pendidikan IPA di sekolah dasar bertujuan agar siswa menguasai pengetahuan, fakta, siswa dalam mempelajari diri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mencari tahu dan berbuat sehingga mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Berdasarkan kurikulum 2004, IPA seharusnya dibelajarkan secara inkuiri ilmiah (scientivic inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup.

Hakekat Prestasi Belajar
Secara harfiah prestasi belajar terdiri dari kata ‘prestasi’ dari kata ‘prestatie’ (bahasa Belanda) dan ‘belajar’. Kata ‘prestasi’ berarti hasil usaha. Sedangkan kata ‘belajar’ menurut Slameto (2003) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain makna tersebut Slameto juga mengartikan kata belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) dinyatakan bahwa ‘prestasi belajar’ adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar dapat diperoleh melalui proses evaluasi atau penilaian terhadap suatu kegiatan pembelajaran yang meliputi aspek pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap selama proses belajar sehingga dapat diketahui hasil dari kegiatan pembelajaran tersebut. Prestasi belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang berupa nilai secara kualitatif maupun kuantitatif yang dapat menunjukkan berhasil atau tidaknya suatu kegiatan pembelajaran.

Media dalam pembelajaran IPA
Media dipandang sebagai media instruksional apabila membawa pesan yang mengandung tujuan instruksional. Sedangkan tujuan penggunaan media secara umum adalah untuk memfasilitasi komunikasi. Dalam pembelajaran tujuan penggunaan media antara lain untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, memberikan arahan tentang tujuan yang akan dicapai, menyediakan evaluasi mandiri, member rangsangan kepada guru untuk kreatif, menyampaikan materi pembelajaran, membantu pelajar yang memiliki kekhususan tertentu. Format media adalah bentuk fisik yang berisi pesan untuk disampaikan atau Format ditunjukkan, misalnya berupa clip charts, slide, audio, film, video, atau komputer multi media, yang dapat bersifat visual tidak bergerak, visual bergerak, kata-kata yang tercetak, atau kata-kata yang disampaikan secara lisan.
Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Dalam laporan ini penulis dalam melakukan perbaikan pembelajaran menggunakan media gambar untuk memperjelas pemahaman siswa. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Menurut Schramm, klasifikasi media ada dua jenis,yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televisi, komputer). Jadi, gambar merupakan media visual sederhana yang mempunyai beberapa keunggulan dan juga kelemahan. Keunggulan dari media gambar antara lain: a. Media ini dapat menerjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi konkret, b Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, surat kabar, kalender, dan sebagainya, c.  Mudah menggunakannya dan tidak memerlukan peralatan lain, d. Tidak mahal, bahkan mungkin tanpa mengeluarkan biaya. e.  Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua tema. Sedangkan kelemahan dari media gambar adalah: a. Terkadang ukuran gambar terlalu kecil jika digunakan pada kelas besar, b. Cepat rusak jika penggunaanya tidak hati-hati.

Diskusi
Tingkat pemahaman siswa SD terhadap materi organ pernapasan manusia mengalami kenaikan setelah menggunakan media berupa gambar. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media gambar kepada siswa kelas V SDN Gubug tentang organ pernapasan manusia memberikan hasil yang lebih baik dan optimal. Penerapkan metode yang komplek dalam pembelajaran ini yaitu menggunakan media gambar dipadu dengan metode diskusi dan demonstrasi. Untuk lebih jelasnya dapat penulis uraian sebagai berikut:
1)Pada pembelajaran awal, siswa yang tuntas belajar sebanyak 9 siswa dari 27 siswa.
2)Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 16 siswa dari 27 siswa.
3)Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 26 siswa dari 27 siswa.
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan pemahaman terhadap materi organ pernapasan manusia yang sangat signifikan terbukti dari rata-rata hasil yang diperoleh siswa pada awal siklus adalah 64,81 dengan ketuntasan 33,33% sedangkan pada tindakan yang pertama rata-rata meningkat menjadi 71,85 dengan ketuntasan mencapai 59,25% dan pada tindakan siklus 2 rata-rata naik lagi menjadi 80,00 dengan ketuntasan mencapai 96,30%.
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran setelah menggunakan media gambar dipadu dengan metode diskusi dan demonstrasi, mutu pembelajaran dapat ditingkatkan. Dengan demikian 1.Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 1 Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali pada materi pembelajaran organ pernapasan manusia meningkat.Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada materi tersebut.
2.Perilaku siswa kelas V SD Negeri 1 Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali setelah mengikuti pembelajaran dengan penggunaan sumber belajar berupa media gambar mengalami perubahan. Perubahan perilaku siswa ini ditunjukkan dari data non tes melalui observasi.

Membuat Gambar Tiga Dimensi Melalui Multimedia Interaktif

Ervin Rudi Haryadi

Pengantar
Pada kenyataannya, selama ini proses pembelajaran berpusat pada siswa tidak begitu mendapat perhatian dan penekanan untuk mengimplementasikannya sehingga sebagian besar proses pembelajaran condong menerapkan prinsip sebaliknya yaitu pembelajaran berpusat pada guru. Guru lebih dominan berceramah dan memberi instruksi dibanding membimbing dan memfasilitasi belajar siswa. Proses pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher oriented). Pembelajaran yang demikian tidak melibatkan potensi siswa secara maksimal. Jika hal ini berlangsung terus menerus maka kreativitas siswa tidak berkembang.
Potensi yang ada dalam diri siswa tidak dapat berkembang dengan baik. Siswa cenderung menunggu apa yang akan diajarkan oleh gurunya. Siswa cenderung tidak mau mengembangkan kreativitasnya. Seharusnya proses interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas melibatkan berbagai pihak yang saling berkaitan. Pihak pihak yang berkompeten dalam proses pembelajaran saling bekerja sama menciptakan model pembelajaran yang tepat sesuai tujuan yang akan dicapai bersama. Salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran dengan Multimedia Interaktif. Pembelajaran dengan Multimedia Interaktif ini menuntut kreativitas dan motivasi siswa dalam belajar.
Kompetensi Dasar membuat gambar 3 dimensi di SMK berdasarkan karakteristiknya memuat indikator pembelajaran yang mencakup ranah kognitif, psikomotor, dan afektif dalam penilaiannya. Pembelajaran membuat gambar 3 dimensi termasuk pembelajaran yang secara teknis menyulitkan guru. Kesulitan yang dihadapi antara lain alokasi waktu yang kurang mencukupi, antusiasme dan motivasi siswa yang rendah, kreativitas siswa rendah dan penilaian yang tidak efektif.
Waktu belajar membuat gambar 3 dimensi yang hanya beberapa pertemuan tidak memungkinkan guru membekali siswa dengan kemampuan praktis. Siswa juga kurang mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan membuat gambar 3 dimensi. Dengan tidak adanya kesempatan belajar membuat gambar 3 dimensi melalui Multimedia Interaktif ini , siswa tidak antusias dalam mengikuti pembelajaran.
Alasan inilah yang menjadi penyebab kurangnya motivasi siswa mengikuti pembelajaran membuat gambar 3 dimensi.
Dari beberapa mata pelajaran yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan, membuat gambar 3 dimensi merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sangat sulit oleh siswa. Tidak jarang muncul keluhan bahwa membuat gambar 3 dimensi membuat pusing siswa dan dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi siswa. Begitu beratnya gelar yang disandang membuat gambar 3 dimensi sehingga menimbulkan kekhawatiran pada hasil belajar siswa yang rendah.
Oleh karena itu diperlukan media pembelajaran yang inovatif dan kreatif, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan dan siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Multimedia Interaktif merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan pada akhirnya juga berimbas pada meningkatnya hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk mencoba melakukan penelitian dengan menggunakan multimedia interaktif dalam pembelajaran membuat gambar 3 dimensi di kelas XI Multimdia 3 SMK Kristen 1 Surakarta agar aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran membuat gambar 3 dimensi dan juga hasil belajar mereka mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.

Keaktifan Belajar
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Partisipasi aktif siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari, dan dikembangkan oleh setiap guru di dalam proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa partisipasi aktif ini harus dapat diterapkan oleh siswa dalam setiap bentuk kegiatan belajar. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional, dan fisik juga dibutuhkan. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka berfikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya siswa adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu.
Daya keaktifan yang dimiliki siswa secara kodrati itu akan berkembang kearah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya keaktifan tersebut. Keadaan ini menyebabkan setiap guru perlu menggali potensi-potensi keberagaman siswa melalui keaktifan yang mereka aktualisasikan dan selanjutnya mengarahkan aktifitas mereka kearah tujuan yang positif atau tujuan pembelajaran. Hal ini pula yang mendasari pemikiran bahwa kegiatan pembelajaran harus dapat memberikan dan mendorong seluas-luasnya partisipasi aktif siswa. Ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran sangat memungkinkan partisipasi aktif siswa menjadi tidak subur, bahkan mungkin justru menjadi kehilangan keaktifannya. Contoh penerapan prinsip partisipasi Aktif dalam Pembelajaran.
Guru merancang/mendesain pesan pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, Guru menugaskan siswa dengan kegiatan yang beragam , misalnya: Percobaan, tutorial, memecahkan masalah, mencari informasi, menulis laporan/cerita/puisi, berkunjung keluar kelas. Bambang Warsita (2008) menyatakan bahwa penerapan prinsip partisipasi aktif dalam rancangan bahan ajar dan aktifitas dari guru didalam proses pembelajaran adalah dengan cara :
1)Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam proses belajarnya.
2)Memberi kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen.
3)Memberi tugas individual atau kelompok melalui kontrol guru.
4)Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
5)Menggunakan multi metode dan multimedia di dalam pembelajaran.

Hasil Belajar Membuat Gambar 3 Dimensi
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik Pemar, 2001). Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Karena belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, maka diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa. Poerwadarminta (2005) mengatakan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan. Sedangkan Winkel (1999) mengatakan prestasi adalah bukti dari keberhasilan yang telah dicapai. Sedangkan belajar berarti perubahan menuju hal yang bermakna (Poerwadarminta, 2002). Slameto (1995) mengemukakan belajar adalah proses perubahan perilaku secara sadar akibat adanya interaksi antara indivudu dengan lingkungan. Perubahan perilaku yang dimaksud tersebut adalah kompetensi yang dikuasai siswa.
Dari pendapat-pendapat tersebut di atas, maka belajar merupakan suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan yang diperoleh siswa, melainkan juga dalam kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, dan kemampuan dalam menyesuaikan diri. Belajar harus mampu bertumpu pada landasan berfikir yang meliputi: bagaimana untuk memahami, bagaimana untuk melakukan, bagaimana menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab serta bagaimana belajar bersama.
Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas belajar, karena aktivitas belajar merupakan proses, sedangkan hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Hasil belajar membuat gambar 3 dimensi merupakan hasil maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan berbagai aktivitas dan usaha untuk mempelajari membuat gambar 3 dimensi. Menurut Dimyati (1999), “Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.” Sementara itu menurut Hamalik (2006), “Hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.” Hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap siswa yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi hasil belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa pada periode tertentu.

Multi Multimedia Interaktif
Secara etimologis multimedia berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata “multi”yang berarti banyak; bermacam-macam dan “medium” yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu. Beberapa definisi multimedia menurut beberapa ahli diantaranya :
1)Sesuai dengan pendapat Vaughan (1994) multimedia adalah “berbagai kombinasi dari teks, grafik, suara, animasi, dan video yang disampaikan dengan menggunakan komputer atau alat elektronik lainnya”.
2)Rada (1995) berpendapat bahwa “multimedia merujuk ke perpaduan/sinkronisasi aliran media (any synchronized media stream)”.  Sebagai contoh dari multimedia adalah gambar bergerak yang sinkron dengan suara (termasuk siaran televisi dan film modern) (Green & Brown).
3)Heinich, Molenda, Russell & Smaldino (1999) berpendapat, “multimedia merujuk kepada berbagai kombinasi dari dua atau lebih format media yang terintegrasi kedalam bentuk informasi atau program instruksi”.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media (format file) yang berupa teks, grafik, audio, dan interaksi dan digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari pengirim ke penerima pesan/informasi.
Multimedia sendiri terbagi menjadi dua kategori yaitu a) Multimedia linear dan b) Multimedia Interaktif. Multimedia linear adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film. multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah : Aplikasi game dan CD interaktif.
Multimedia interaktif menggabungkan dan mensinergikan semua media yang terdiri dari: a) teks; b) grafik; c) audio; dan d) interaktivitas (Green & Brown, 2002).
a).    Teks
Teks adalah simbol berupa medium visual yang digunakan untuk menjelaskan bahasa lisan. Teks memiliki berbagai macam jenis bentuk atau tipe (sebagai contoh: Time New Roman, Arial, Comic San MS), berbagai macam ukuran dan wana. Satuan dari ukuran suatu teks terdiri dari length dan size. Length biasanya menyatakan banyaknya teks dalam sebuah kata atau halaman. Size menyatakan ukuran besar atau kecil suatu huruf. Standar teks memiliki size 10 atau 12 poin. Semakin besar size suatu huruf maka semakin tampak besar ukuran huruf tersebut.
b).    Grafik
Grafik adalah suatu medium berbasis visual. Seluruh gambar dua dimensi adalah grafik. Apabila gambar di render dalam bentuk tiga dimensi (3D), biasanya tetap disajikan melalui medium dua dimensi. Hal ini termasuk gambar yang disajikan lewat kertas, televisi ataupun layar monitor. Grafik bisa saja menyajikan kenyataan (reality) atau hanya berbentuk ikonik. Contoh grafik yang menyajikan kenyataan adalah foto, dan contoh grafik yang berbentuk ikonik adalah kartun seperti gambar yang biasa dipasang dipintu toilet untuk membedakan toilet laki-laki dan perempuan.
 c).    Grafik
Terdiri dari gambar diam dan gambar bergerak. Contoh dari gambar diam yaitu foto, gambar digital, lukisan, dan poster. Gambar diam biasa diukur berdasarkan size (sering disebut juga canvas size) dan resolusi. Contoh dari gambar bergerak adalah animasi, video dan film. Selain bisa diukur dengan menggunakan size dan resolusi, gambar bergerak juga memiliki durasi.
d).    Audio
Audio atau medium berbasis suara adalah segala sesuatu yang bisa didengar dengan menggunakan indera pendengaran.  Contoh: narasi, lagu, sound effect, back sound.
e).    Interaktivitas
Interaktivitas bukanlah medium, interaktivitas adalah rancangan dibalik suatu program multimedia. Interaktivitas mengijinkan seseorang untuk mengakses berbagai macam bentuk  media atau jalur didalam suatu program multimedia sehingga program tersebut dapat lebih berarti dan lebih memberikan kepuasan bagi pengguna. Interaktivitas dapat disebut juga sebagai interface design atau human factor design. Interaktivitas dapat dibagi menjadi dua macam struktur, yakni struktur linear dan struktur non linear. Struktur linear menyediakan satu pilihan situasi saja kepada pengguna sedangkan struktur nonlinear terdiri dari berbagai macam pilihan kepada pengguna.
Selain itu, Green & Brown (2002) menjelaskan terdapat beberapa metode yang digunakan dalam menyajikan multimedia, yaitu :
a)Berbasis kertas (Paper-based), contoh: buku, majalah, brosur;
b)Berbasis cahaya (Light-based), contoh: slide shows, transparasi;
Berbasis suara (Audio-based), contoh: CD Players,  tape recorder, radio;
c)Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh: televisi, VCR (Video cassette recorder), film; dan
d)Berbasiskan digital (Digitally-based), contoh: komputer.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, apabila pengguna mendapatkan keleluasaan dalam mengontrol multimedia tersebut, maka hal ini disebut multimedia interaktif. Karakteristik terpenting dari multimedia interaktif adalah siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja, melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran.
b. Multimedia Interaktif Sebagai Pembelajaran Berbantukan Komputer
Istilah pembelajaran berbantuan komputer (PBK) diterjemahkan dari CAI (Computer-Assisted Instruction), sering juga digunakan secara bergantian dengan istilah CBL (Computer-Based Learning) dan CBI (Computer-Based Instruction). Namun demikian, ketiga istilah tersebut tidaklah mengacu pada hal yang sama. Istilah PBK atau CAI kadang-kadang digunakan untuk perangkat lunak pembelajaran pada umumnya, tetapi biasanya digunakan untuk perangkat lunak yang menggunakan pendekatan programmed learning dimana tujuan pembelajaran khusus dicapai melalui pembelajaran langkah demi langkah. Istilah pembelajaran (instruction) dalam PBK biasanya diinterpretasikan sebagai penyampaian informasi kepada siswa (Padmanthara, 2007). CAI atau PBK sendiri biasanya dikembangkan dalam beberapa format, antara lain: tutorial, drill and practice, simulasi, permainan, dan discovery (Arsyad, 2010).
Istilah kedua, CBL mengacu pada segala jenis belajar siswa yang berhubungan dengan komputer. Istilah ini dianggap lebih umum karena istilah learning secara alamiah mencakup situasi dimana komputer digunakan sebagai alat pembelajaran, tetapi tidak untuk menyampaikan informasi atau mengajar siswa.
Istilah ketiga, Computer-Based Instruction (CBI). Istilah ini juga sering digunakan, tetapi istilah instruction mengandung arti pembelajaran saja dimana komputer menyampaikan informasi kepada siswa dan mungkin tidak termasuk perihal penggunaan alat mesin itu (Padmanthara, 2007).
Selain istilah-istilah tersebut di atas, dikenal juga istilah CMI (Computer-Managed Instruction). Istilah CMI mengacu pada penggunaan komputer oleh pengajar sebagai alat untuk mengelola pembelajaran di kelas. Dalam hal ini, komputer digunakan untuk mencatat dan menghitung nilai, mencatat kehadiran siswa, mengikuti perkembangan siswa dalam berbagai bidang studi, mendiagnosa dan mempreskripsi, dan pada umumnya untuk membuat operasionalisasi kelas agar lebih lancar dan efisien (Padmanthara, 2007).

Pembahasan
Setelah diadakan perbaikan pembelajaran kompetensi dasar membuat gambar 3 dimensi dari siklus pertama sampai siklus kedua maka dapat disajikan data rekapitulasi nilai tes seluruh siklus. Tujuan penyajian data ini adalah untuk mengetahui perkembangan kemampuan dan prestasi belajar siswa sekaligus mengetahui pengaruh perbaikan terhadap hasil belajar siswa. Siswa yang mengalami ketuntasan belajar mengalami kenaikan, sebaliknya, siswa yang belum tuntas belajar mengalami penurunan secara signifikan. Solusi yang ditawarkan menyikapi hasil perbaikan pembelajaran membuat gambar 3 dimensi dengan menggunakan multimedia interaktif secara mandiri ini adalah dengan memberikan bimbingan secara lebih, sebab anak memiliki karakteristik yang khas dan personal.