PEREMPUAN PENGGERAK TRADISI RASULAN

Budaya atau tradisi sangat menyatu pada masyarakat Indonesia. Tradisi merupakan kebiasaan masyarakat pada suatu daerah yang sifatnya turun temurun serta memiliki kekhasannya tersendiri sehingga perlu terus dilestarikan. Dengan kekhasan tersebut, budaya sekaligus menjadi suatu kearifan lokal dengan nilai-nilai moral luhur yang penting untuk pegangan dalam menjalani hidup. Tradisi atau budaya tersebut menjadi salah satu identitas nasional. Budaya yang dilestarikan dapat memperkaya kekayaan bangsa.

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kebak Kramat, Kabupaten Karanganyar adalah Rasulan. Tradisi Rasulan atau Tradisi Resik Desa (Bersih Desa dalam Bahasa Indonesianya) adalah upacara persembahan hasil bumi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tradisi tersebut diadakan di Desa Dalungan dengan memberi hasil bumi dan jajanan pasar ke punden yang berbentuk segi empat dari batu yang berada di lapangan atau disebut Mbah Kenteng. Saat malam terdapat pertunjukkan Tayub yang diiringi oleh gamelan lengkap dan oleh sindhen ngadeg dan sindhen lingguh.

Pertunjukan Tayub biasanya diisi dengan tarian para perempuan. Perempuan yang menari akan diberikan uang oleh warga sekitar atau para penonton yang hadir. Tradisi ini dilakukan pada bulan Agustus namun tidak setiap tahun diselenggarakan. Masyarakat sekitar masih mempercayai bahwa asal-usul desanya dari punden yang diberi nama Mbah Kentheng. Keunikan dari tradisi Rasulan adalah keterlibatan perempuan. Masyarakat desa selama ini masih menganggap bahwa perempuan hanya mengurus rumah tangga yakni anak, suami. Perempuan dari desa tersebut bukan hanya diajak untuk melestarikan budaya dengan hanya memasak dan menyiapkan upacara.

Di Desa ini, masyarakat juga melibatkan perempuan untuk berani tampil di hadapan banyak orang. Tarian yang disajikan perempuan menjadikannya lebih termotivasi untuk lebih menyadari dengan potensi yang dimilikinya. Melalui tarian tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kepada perempuan untuk lebih mencintai budayanya. Budaya ini diharapkan juga dapat diwariskan kepada generasi muda agar tidak lekang termakan zaman.

MERETAS JALAN MENUJU CITIZEN DIPLOMACY

Arus globalisasi yang sangat cepat masuk ke dalam negeri seperti budaya barat dan westernisasi versi Asia yang sering dikenal dengan K-POP. Edisi Korean Wave begitu gencar menyerang generasi milenial. Hal ini perlu ditanggulangi dengan mengajak generasi muda untuk kembali kepada budaya sendiri. Masyarakat perlu diberi pemahaman mengenai pentingnya mencintai budaya sendiri sebagai identitas nasional agar tetap lestari.

Salah satu upaya masyarakat Solo untuk menghidupkan budaya tradisional adalah melalui seni tari. Sanggar Tari Sang Citra salah satu sanggar tari yang berfokus pada tarian tradisional di Kota Solo. Sanggar ini didirikan oleh seorang perempuan yang mencintai tari jawa. Sanggar Tari Citra ini telah berdiri sejak tahun 2017. Upayanya untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi lokal kepada masyarakat menjadi alasan bagi Sanggar Tari Citra untuk mendapat dukungan pemerintah kota. Kemauan seorang perempuan untuk melestarikan dan mengajarkan tarian Jawa tradisional dan modern kepada masyarakat menjadi bukti bahwa semua elemen bangsa dapat memberikan kontribusi positif kepada sesama.

Bagi masyarakat Jawa, kaum perempuan banyak dianggap sebagai makhluk yang lemah. Perempuan masih memiliki ruang gerak yang terbatas untuk mengekspresikan keinginan dan mengembangkan potensi. Di sinilah diperlukan pemberdayaan perempuan dalam segala bidang, salah satunya adalah pelestarian budaya seni tari. Seni tari lebih identik dengan figur perempuan karena memiliki gerakan yang lemah gemulai, lembut meskipun ada juga yang gerakannya lincah dan pemberani. Hal ini menunjukkan bawah tarian Jawa memiliki nilai-nilai luhur bagi pengembangan diri perempuan agar berani menghadapi segala sesuatu dalam realita kehidupan namun tidak meninggalkan perasaannya yang lembut dan penuh cinta. Filosofi seperti inilah yang perlu diajarkan dan disebarkan kepada generasi muda agar mau mempertahankan dan melestarikan kebudayaan yang ada ditengah gencarnya globalisasi.

Sanggar tari ini terdiri dari 12 orang pengajar yang 9 diantaranya kaum perempuan dan sisanya kaum laki-laki. Salah satu pengajar bernama Theresia Sarasmani Kinayomi sebagai perwakilan dari generasi milenial. Sebagai anak muda, Theresia tidak malu untuk menekuni budaya tradisional namun menunjukkan prestasi berkelas. Diantaranya adalah penampilan Theresia untuk mengisi salah satu acara berkelas dunia di Bali. Tarian Srikandi yang dibawakan Theresia sebagai opening dalam acara Miss World. Melalui tarian tradisional tersebut, penari yang mewakili generasi milenial berusaha menanamkan kebiasaan untuk mencintai budaya sendiri kepada masyarakat domestik dan internasional. Penari juga mengajak para penonton untuk mengapresiasi sebuah seni tradisional. Penari sekaligus mengajak semua generasi muda menyadari keragaman yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan memiliki kekuatan untuk mengembangkan potensi diri hingga dapat menjadi agen perubahan yang diapresiasi oleh masyarakat luas. Kaum perempuan penggiat seni dapat berpartisipasi juga sebagai aktor Citizen Diplomacy (Diplomasi Warga), karena berkontribusi terhadap aktivitas diplomasi dalam bidang budaya yang dilakukan oleh warga biasa untuk diperkenalkan kepada masyarakat internasional melalui tarian sehingga banyak warga negara asing yang ingin mempelajari. Citizen Diplomacy adalah konsep bahwa setiap warga negara memiliki hak, bahkan tanggung jawab untuk terlibat lintas budaya dan menciptakan pemahaman bersama melalui interaksi antarindividu. Sebagai dampak dari aktivitas diplomasi tersebut adalah individu dan masyarakat mendapat manfaat dari interaksi yang terbentuk dengan menghasilkan pemahaman yang lebih besar tentang keberagaman budaya. Budaya tidak akan punah apabila warganya memiliki kesadaran yang tinggi sebagai identitas bangsa dan sebagai pemersatu bangsa.

Gender and Community Social Construction

Gender is a social construction that is built from an early age. Social and historical factors can shape and determine the gender differences that are applied in society at a certain time. For example when a boy cries and his parents will say “men shouldn’t cry” as well as girls when crying, their parents say “you don’t cry, why are you crying?”, This shows someone was formed into men and women since childhood, that men should not cry and must be strong, while women must always be given gentle attention.

Subtle, maternal and working traits such as caring for children, taking care of the house, cooking and so on in the social construction of the community assume that these traits are identical to a woman. This brings many difficulties to women who want a career and work hard to pursue career achievements. This condition will be inversely proportional when women are placed in the position of the backbone of the family. Likewise, when women want to get a high education and a good profession.

The people still hold negative stigma and stereotypes about women who work let alone work with work that is dominated by men. Society has different perceptions between women who work as teachers or doctors or bank employees with the profession as a driver, construction worker, and so on which is generally done by a man. As experienced by a 35-year-old woman who works as an online motorcycle taxi driver. For one year, Sari became the backbone of the family due to her husband’s condition which made it impossible to work.

With the development of application-based technology by offering services to the public in the online form there is no longer a limitation between women and men in terms of work, one of which is the work of online drivers whose drivers are not only men but women also choose this job. During this time the community still views that work as a motorcycle taxi driver is dominated by men. This gives rise to negative stigma and stereotypes for women. Women with such work are considered to be menial workers and are identical with men’s work, because the “automotive” in the construction of society’s culture is still attached to men. Society still thinks that everything related to engineering, machinery is the area of men, strong, rational, male and mighty. While women who are identical with the weak, motherly and emotional do not deserve in the realm of this work.

Now in a modern society there has been a change in mindset. There are also some people who have realized that women have the same social role as men. It is possible for women to get the same job as men, one of which is as an online motorcycle or taxi driver. With this work women and men get equal roles. There is still an imbalance in the number of female drivers that are smaller than male drivers, and cancellation of orders that also occurs more in female drivers than male drivers. Unfortunately, again women are considered weak and unable to do the work.

In economic globalization with human rights, it is closely related to aspects of labor rights in economic activities. Human rights are equality and justice. In 2017 the WTO initiated a joint declaration related to “Trade and Women’s Economic Empowerment” which is a step forward from organizations that are considered to represent global capitalism in cross-border trade. The WTO pays attention to the existence of women as an effort to be more responsive to human rights issues, so women are a gender that has long embraced and fought in the equality and justice of human rights in society.

Globally gender equality and justice have evolved but in the social structure of local communities there has not been much progress.

At a particular level from various parts of the world it is still a major obstacle to achieving gender equality and justice. One of them is a patriarchal structure of society which is the family order that attaches great importance to the father’s lineage. Social system that considers the father to control all members of his family, wealth and human and economic resources. The patriarchal social system was formed beginning from the house as a place for initial socialization of patriaki construction.

Gender differences will not be a problem if gender inequality does not occur. Injustice in gender differences breeds injustice for women through myths, socialization, culture and government policies. Cultural values that exist in a patriarchal society reflect gender inequality which puts women in an unequal position. Many people still believe that cultural values are mental factors that determine the actions of a person or society. In social, political, economic and legal life there are still inequalities and conditions that are abstract and have an unequal position that is evident towards women. The process of marginalization can be a threat to community development.

Javanese People’s View of Women

In sustainable development goals one of the goals is gender equality which covers the fields of economy, social, health, education, law and others. Gender inequality is still a problem until now because of the construction of patriarchal societies, women in various fields of rights are number two. In Javanese society, it is still seen in the division of labor seen from its gender. The division of occupations according to sexism is still valid namely women are more suitable to work within the scope of the household. The domestic sphere is considered the most appropriate for women considering that it can be done at the same time as caring for children, serving their husbands, taking care of the kitchen and household.

The community is still patterned that work suitable for women is repetitive, easy, does not require high concentration, can be done at home and has a low risk. This causes women to be considered less capable in working in the external sphere because their concentration will be divided between work and household. This condition is contrary to the public perception of men who work using high concentration, high skill levels, do not stay at home and have a high risk.

Women who work are often seen as only fulfilling their own needs. This perception is not excessive considering that women in their role are socially a husband’s companions in maintaining family life economically. In its development there have been several cases of women being the main parties in earning a living for their families. Such women are permitted by their husbands to work outside the home, bearing in mind the existence of a husband who does not allow him to be the main actor in making a living. Husband in this case can be due to illness or indeed not explored the potential and abilities that can be developed to make a living. While for women who are not married they still have the freedom to increase their abilities and capacities as free individuals by working outside the home.

Like what Yanti faced as the main breadwinner for her family because her husband could not work and was sick. This woman is a daily trader of shredded coconut in Surakarta Harjodaksino Market (Gemblegan). As a first-party woman and the backbone of the family, Yanti works from 02.00 WIB to 09.00 considering the distance between the house and the market where she works is quite far.

While Andini, who works as a shopkeeper in Surakarta Klewer Market, is also the main breadwinner. In order to fulfill their daily needs, these women do not only work in one location. In the afternoon after returning from Klewer Market, Andini worked as an assistant manager at the Batik Keris factory. Andini’s profession as a shopkeeper who has a heavy workload and working time from 08.00 WIB – 16.00 WIB only earns below the Regional Minimum Wage (UMR) of Surakarta City. In the evening when returning home, Andini often gets threats from some bad boys outside the factory to commit sexual harassment because of a lack of lighting. For Andini works in the factory at night starting at 18:00 WIB until 01:00 WIB, getting monthly wage facilities and health insurance from the government, only the threat of crime originating from the environment outside the factory is still common.

The story of Yanti and Andini’s life as the main breadwinner for her family is an example of the struggle and journey of life of women who do not give up. Many people still think that women are weak and easily discouraged by the two examples of Yanti and Andini’s life. The two women have served their social roles as the backbone of the family who have to make a living from morning to night to meet the needs of their families. The two female figures have also been undergoing marginalization of women in the field of work. Marginalization of women at work is the process of excluding women from work. Women will be faced with jobs that have unstable opportunities, little pay, and are judged to be lacking or lacking in skills. Conditions like this that need to be reconstructed in society so that marginalization of women can be eroded so that sustainable development can be felt equally and equitably for all communities.

PEREMPUAN DAN POLITIK DI AUSTRALIA

Perempuan di Negeri Kanguru tahun 1990 dalam keterlibatan politik masih kurang, perempuan sangat dibutuhkan dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam bidang politik. Menurut Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW) secara global telah disepakati bahwa melibatkan perempuan dalam pembuatan setiap kebijakan telah menjadi prioritas utama terkait gender dan identitas. Australia salah satu negara yang mempromosikan HAM dan salah satu yang termasuk didalamnya adalah hak perempuan untuk berpolitik, namun Australia belum mampu dalam implementasinya.

Partisipasi politik kaum perempuan di Australia untuk menggunakan hak-hak politik dalam perkembangannya tergolong lambat dibandingkan dengan negara lain. Kaum perempuan Australia dapat menggunakan hak suara dalam pemilu dan hak duduk dalam parlemen nasional pada tahun 1902. Realisasi keterwakilan perempuan dalam politik setelah 40 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1943. Perempuan pertama kali yang menjadi senator adalah Dorothy Tangney dan Dame Enid Lynos dilantik sebagai anggota parlemen nasional Australia.

Menurut Australian Bereau of Statistic  (ABC) bahwa keterwakilan perempuan di parlemen masih kurang, mengingat populasi perempuan di Australia mencapai 50,2 persen. Dalam “The Australian Human Rights Commission’s Gender Equality Blueprint 2010” mennjelaskan bahwa partisipasi perempuan dalam bidang politik adalah salah satu dari lima prioritas utama yang bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan gender. Di tahun 2010 merupakan momentum kebangkitan kesetaraan gender di Australia dengan terpilihnya Julia Gillard sebagai perdana menteri Australia ke-27 dan sebagai Perdana Menteri perempuan pertama bagi Australia. Pada saat itu keterlibatan perempuan dalam pemerintahan mengalami peningkatan karena telah memenuhi angka Critical Mass yaitu 32 persen. Penyumbang representasi perempuan tertinggi dari Partai Buruh. Di senat keterlibatan perempuan Australia mengalami kenaikan mencapai 38,2 persen lebih tinggi dari Amerika Serikat dan Inggris.

Dengan terpilihnya Gillard mempengaruhi perubahan orientasi kebijakan partai buruh terhadap isu gender. Di tahun 1981 konferensi Partai Buruh mendukung kebijakan dimana harus memenuhi standar 30 persen dari semua posisi internal partai dan tahun 1994 Partai Buruh mengadopsi standar 35 persen sebagai kandidat pemilihan dan di tahun 2010 mengalami kenaikan menjadi 35,6 persen. Partai Buruh membentuk sebuah jaringan yang bernama ALP’s National Labor Women’s Network yang memiliki fungsi sebagai wadah bagi perempuan Australia untuk melakukan pelatihan, mentoring, dan penguatan jaringan perempuan dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan representasi perempuan.

Pada tahun 2014 keterlibatan perempuan dalam parlemen hanya 29.0 persen atau kurang dari sepertiga dari jumlah total kursi parlemen di Australia. Dalam MDG’s 2015 kesetaraan gender menjadi salah satu target pencapaian MDG’s 2015 yang tujuannya adalah meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam segala bidang, khususnya bidang politik. Presentase keterlibatan perempuan di dalam parlemen tahun 2016 di tingkat majelis rendah hanya sekitar 28,7 masih rendah apabila dibandingkan dengan negara di Afrika seperti Rwanda. Representasi perempuan pada tahun 2017 di parlemen Australia berada di peringkat ke-41 yang masih jauh di bawah New Zealand yang berada di peringkat 17.

SAATNYA PEREMPUAN BERKARYA

Nicole Zefanya yang dikenal dengan nama panggung Niki merupakan seorang musisi, penulis lagu  produser rekaman dan  penyanyi asal Indonesia. Nicole Zefanya lahir di Jakarta 24 Januari 1999, mengawali kariernya dengan mengikuti ajang kompetisi Cornetto Ride To Fame. Niki berhasil mengalahkan ribuan konstestan bahkan pada tahun 2014 sebagai penyanyi pembuka konser  Red Tour Taylor Swift.

Niki sejak kecil sudah tertarik dengan musik, ia tumbuh mendengarkan musik-musik R&B era 1990-an seperti Destiny’s Child dan Aaliyah. Pengaruh sang ibu yang merupakan penyanyi gospel, bakat dari sang ibu menurun ke sang anak. Ayahnya akan memutar lagu-lagu milik Whitney Houstan ketika Niki kecil rewel pada jam tidur dan bekeliling  kota  berjam-jam dengan mobil untuk menenangkan Niki.

Budaya barat sudah melekat pada diri Niki. Sejak kecil Niki sudah terbiasa berbahasa Inggris, suka menonton acara TV Amerika dan sang ayah pun berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Ketika beranjak dewasa Niki bersekolah di sekolah internasional dengan guru-guru yang berasal dari Amerika atau Kanada. Itulah yang memperkuat bakat yakni kemampuan menggunakan Bahasa Inggris secara fasih. Niki pernah mengalami krisis identitas sebagai warga Indonesia karena teman-teman sekelasnya merupakan orang-orang asing. Ketika melanjutkan kuliah di Nashville Tennesse, Niki mengalami culture shock. Jauh dari rumah membuat Niki merasa homesick, namun sejak saat itu Niki mulai bangga menjadi orang Indonesia.

Dalam karir musiknya Niki mengusai banyak alat musik termasuk gitar, ukulele, keyboard dan piano. Selama menjalani karir musiknya Niki memilih genre R&B dan indiefolk. Pada tahun 2016 dan 2017 Niki meliris lagu “Polaroid Boy” dan “Anaheim” secara independen. Pada tahun 2017, Niki pindah ke Nashville, AS, dan mempelajari Seni Musik di sebuah Universitas dan merilis lagu “See U Never”  dan “ I Like U” di bawah naungan label rekaman  asal Amerika Serikat tumbuhlah sebagai penyanyi internasional. Awal Niki bergabung dengan label rekaman asal Amerika 88rising, Niki mengaku bahwa dirinya diundang oleh Rich Brian yang merupakan penyanyi asal Indonesia untuk bergabung dalam label 88rising. Setelah Rich Brian mendengar lagunya di YouTube dan kemudian mengontaknya secara langsung. Pada 2 Mei 2018  Niki merilis lagu “Vintage” sebagai single pertama dari EP-nya yang bertajuk Zephyr.

Di usia muda Niki berhasil sukses dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74, Niki Zefanya menyanyikan lagu Indonesia Raya di Head In The Clouds Festival  di LA State Historic Park, Amerika Serikat  dan mengenakan baju bertemakan merah putih sambil mengibarkan bendera kebangsaan Indonesa di atas panggung.

Dari Niki kita dapat meneladani banyak hal, kesuksesan hanya datang kepada mereka yang bekerja keras dan pantang menyerah. Sebagai perempuan generasi “Z” hendaknya memanfaatkan kesempatan dengan baik dan tetap optimis. Marilah mencontoh Niki, saat namanya sudah sering terdengar secara internasional, namun tetap bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Kini, perbedaan gender sudah bukan lagi menjadi masalah untuk tidak berkarya, budaya patriarki kini perlahan-lahan ditinggalkan. Laki-laki maupun perempuan kini mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarya. Niki menjadi salah satu contoh nyata, usia juga bukan merupakan penghalang dalam berkarya.

PAY GAP GENDER DI AUSTRALIA

Sejak tahun 2006 sampai 2016 dalam indeks kesenjangan Gender Global Forum Ekonomi Dunia, Australia mengalami kemuduran. Pada tahun 2017 indeks kesenjangan gender mengalami sedikit peningkatan, meskipun proyek kesetaraan gender masih dalam masalah. Permasalahan tersebut terkait dengan tingkat ekonomi dan partisipasi politik perempuan yang sangat dinamis. Dalam Libby Lyons 2019, perempuan Australia masih harus berurusan dengan kesenjangan upah yang menguntungkan pihak laki-laki di setiap negara bagian. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa hambatan yang dihadapi perempuan dalam memiliki peluang untuk mendapatkan penghargaan yang sama dengan laki-laki masih jauh. Usaha dari para pekerja perempuan dalam mencapai kesetaraan ini tidak akan selesai dengan sendirinya sehingga dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.

Pay Gap Gender adalah perbedaan penghasilan rata-rata antara laki-laki dan perempuan. Angka yang stabil untuk kesetaraan gaji antara laki-laki dan perempuan yaitu 14 persen dengan rata-rata laki-laki berpenghasilan lebih banyak $241,50 setiap minggunya daripada perempuan,  Pay Gap Gender menjadi tolak ukur posisi wanita dalam bidang ekonomi yang telah ditetapkan secara internasional. Di Australia kesenjangan upah gender yaitu kesenjangan penghasilan rata-rata perminggu antara perempuan dan laki-laki di seluruh sektor lapangan pekerjaan. Di Australia hampir dua dekade kesenjangan upah gender relatif tetap. Namun, tahun 2018 turun dibawah 18 persen dengan pendapatan rata-rata para perempuan perminggu $ 1,484,80 dan laki-laki $ 1, 695,60.

Faktor penyebab kesenjangan upah  di Australia yang paling menonjol adalah faktor ‘Glass Ceiling’ yaitu penghalang atau hambatan bagi kaum perempuan untuk mencapai puncak karir atau berkurangnya peluang perkembangan karier bagi pekerja perempuan. Selain itu penyebab lainnya adalah gangguan disaat berkarir seperti cuti melahirkan dan melanjutkan pendidikan, perempuan banyak melakukan pekerjaan paruh waktu karena keinginan untuk memiliki penghasilan dan jadwal kerja yang ditawarkan lebih fleksibel agar dapat mengurus pekerjaan rumah tangga. Hal ini menjadi salah satu alasan perempuan Australia memilih untuk bekerja paruh waktu. Pekerjaan yang tidak dibayar kepada perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Pada tahun 2017 sebanyak 7 persen, perempuan Australia menghabiskan lebih banyak waktu melakukan pekerjaan tanpa bayaran, 76 persen pengasuhan anak, 67 persen pekerjaan rumah tangga, 69 persen perawatan orang dewasa dan 57 persen sukarelawan. Hal ini menjadi permasalahan gender.

Diskriminasi gender menjadi pengaruh paling penting dalam kesenjangan upah gender di Australia yang pada tahun 2014 sebanyak 29 persen menjadi 39 persen pada tahun 2017. Sejak tahun 2009 ketidaksetaraan gender menjadi masalah bagi Australia. Gender menjadi dampak bagi jenjang karir, perempuan akan mengalami diskriminasi gender lebih besar daripada laki-laki yang akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan karirnya. Budaya dan hambatan struktural di tempat kerja menjadi alasan mengurangi partisipasinya dalam pekerjaan maupun kemandirian ekonomi karena harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugas rumah tangga. Permasalahan pay gap karena gender bagi masyarakat Australia sebenarnya merupakan tantangan bersama mengingat adanya ketakutan akan usia tua yang berarti munculnya pengangguran.

Pemerintah Australia berupaya untuk mengatasi kesenjangan upah gender di bidang pekerjaan  dengan program kebijakan yang disebut dengan Equal Pay Act yaitu Undang-Undang Ketenagakerjaan  yang bertujuan menghapuskan perbedaan upah berdasarkan jenis kelamin. Namun, kebijakan ini  belum dapat berfungsi secara maksimal dalam mengurangi kesenjangan upah gender. Sejak tahun 2009 telah ada pengembangan kebijakan lebih lanjut yang berkaitan dengan pekerjaan perempuan dan keluarga di Australia. Salah satu upaya dalam menangani permasalahan pekerjaan dan tetap melakukan pekerjaaan rumah tangga adalah dengan pekerjaan paruh waktu. Pekerjaan paruh waktu memiliki sistem keuangan yang buruk sehingga mempersulit jika ingin berpindah ke perkerjaan full time. Perempuan Australia memiliki kemungkinan untuk melakukan pekerjaan paruh waktu, sedangkan sebanyak 37 persen perempuan Australia merupakan pekerja full time.

Kesenjangan upah gender di Australia menurun hingga 14,1 persen namun pada faktanya kesenjangan upah gender di Australia tetap tinggi karena kesenjangan gaji dihitung dengan membandingkan pendapatan rata-rata antara perempuan dan laki-laki. Di Australia, keluarga yang memiliki struktur ‘Neo-tradisional’ dengan laki-laki bekerja full time dan perempuan hanya bekerja paruh waktu dan masih melakukan pekerjaan rumah tangga, Gambaran inilah yang masih menjadi tipe pasagan yang dominan di Australia. Selain itu, sifat pekerjaan yang tersedia di Australia masih sangat terlihat menurut gender. Banyak industri yang pekerjanya didominasi oleh satu jenis kelamin, hanya 46,5 persen pekerja di Australia yang bekerja di tempat kerja yang terdiri lebih dari satu gender. Hal ini berdampak signifikan pada kesenjangan upah gender karena pekerjaan yang didominasi oleh perempuan secara signifikan dibayar lebih rendah. Perempuan yang bekerja di industry dengan dominasi perempuan menerima upah lebih rendah daripada yang berkeja di industry yang didominasi oleh laki-laki.

Dengan demikian persoalan ketidaksetaraan gender bukan hanya terjadi di negara-negara berkembang. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perempuan Indonesia untuk bangkit menunjukkan talentanya agar bisa lebih mandiri.

PETANI PEREMPUAN SIDOHARJO DAN PRANATA MANGSA

Banyak orang yang tidak tahu pranata mangsa. Apa itu pranata mangsa dan manfaatnya apa bagi kehidupan sehari-hari?

Nah, untuk mengulas mengenai pranata mangsa, silakan anda baca baik-baik uraian di bawah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa dilepaskan dari lingkungan alam ymang ada di sekitarnya. Perubahan lingkungan alam akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia, demikian juga sebaliknya. Seringkali kondisi alam yang berubah justru disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak mampu menjaganya atau bahkan merusak. Indonesia sebagai negara yang tergolong agraris sangat membutuhkan keseimbangan alam sebagai sarana untuk menopang kehidupan. Di sini dibutuhkan upaya masyarakat untuk menjaga harmonisasi dengan alam agar tercipta kehidupan yang lebih mapan.

Masyarakat sampai sekarang banyak yang belum memahami tentang perubahan iklim. Petani, khususnya yang perempuan, umumnya hanya berperan sebagai petugas yang menanam padi di sawah. Pengelolaan pertanian selanjutnya seperti pemupukan, pengairan bahkan saat panen banyak yang dilakukan oleh petani laki-laki. Peran perempuan yang terbatas tersebut memiliki pengaruh dalam produktivitas pertanian karena ketika terjadi kesalahan dalam mengatur jarak tanam antara bibit padi yang satu dengan yang lainnya, maka hasil yang diperoleh juga berbeda.

Saat ini permasalahan besar yang dihadapi oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia adalah perubahan iklim. Iklim yang berubah ditandai dengan peningkatan curah hujan dalam periode waktu yang bergeser dari masa sebelumnya. Curah hujan yang tinggi memiliki pengaruh besar terhadap produksi tanaman. Seperti dalam penelitian Hidayati (2015) yang mengutip pendapat Suberjo bahwa perubahan cuaca dan pemanasan global dapat menurunkan produksi tanaman hasil pertanian antara 5-20 persen. Perubahan iklim yang tidak menentu pada tingkatan ekstrim menjadi faktor utama terjadinya kegagalan panen. Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi produktivitas dan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.  

Isu perubahan iklim bagi petani merupakan fenomena alam yang belum bisa diamati, diduga, dan diantisipasi. Berdasarkan penelitian dari Yoeke Kusumayanti dan Masroni (2015) mengenai tanggapan para petani dari wilayah Wareng, Wonosari, Gunung Kidul terkait perubahan iklim adalah: (1) petani telah menyadari adanya perubahan iklim yang sulit diprediksi; (2) petani belum mengetahui apa penyebab perubahan iklim; (3) dalam jumlah yang tidak banyak, masih ada petani yang mengikuti kalender pranata mangsa sebagai pedoman dalam budidaya tanaman pertanian; (4) kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani terkait perubahan iklim; (5) petani belum mempunyai kemampuan untuk menghadapi perubahan iklim. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa kerugian yang dialami petani terkait perubahan iklim adalah (1) penundaan masa tanam padi sekitar satu sampai dua bulan; (2) bibit yang terlanjur disebar ada yang mengalami kematian; (3) penurunan produksi tanaman pangan; (4) penurunan penghasilan petani; (5) kemungkinan terjadinya kelaparan dan kemiskinan.

Isu Gender Dalam Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan identik dengan pertanian. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat mengharuskan penggunaan tanah yang juga terus meningkat. Dalam sistem pertanian masyarakat pedesaan Asia, Holzner (2016) menjelaskan adanya penanaman padi dengan bajak untuk menggambarkan sistem sosial yang patriarkhal. Partisipasi perempuan dalam pertanian relatif rendah karena   hanya digunakan pada saat awal dan akhir proses bertani khususnya padi. Pada kondisi seperti ini, petani perempuan umumnya berstatus sebagai petani kecil (Holzner, 2016). Petani kecil bercirikhaskan penghasilan minim dan tidak memiliki power atau kesempatan untuk terlibat banyak dalam pengurusan lahan pertanian. Dengan kata lain, petani kecil akan sangat tergantung pada belas kasihan petani utama yang umumnya laki-laki.

Masyarakat pedesaan memerlukan sentuhan pemerintah dan pihak-pihak yang berkompeten guna me-ningkatkan kesejahteraan. Petani perempuan dalam hal ini memerlukan pendampingan dan pelatihan guna meningkatkan kemandirian dan daya tahan. Strategi GAD sangat sesuai untuk meningkatkan kemandirian para petani perempuan guna menghadapi perubahan iklim. Artinya penggunaan kearifan lokal yang ditopang dengan bantuan dari pemerintah dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dengan produk pertanian sangat diperlukan.

Konsep Pranata Mangsa

Kearifan lokal sebagai kebijakan lokal menjadi pengetahuan berdasarkan pengalaman masyarakat lebih dari satu generasi untuk tumbuh sebagai filosofi desa. (Phongphit dan Nantasuwan 2002a; 2002b; Na Talang 2001). Filosofi tersebut menjadikan kearifan lokal sebagai panduan hidup masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari dan dalam membangun hubungan dengan keluarga, tetangga, dan orang lain yang berada dalam desa dan lingkungannya. Dinamisnya kearifan lokal berubah sejalan dengan waktu, tergantung pada tatanan dan ikatan sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat lokal.

Kearifan lokal dalam pengolahan pertanian salah satunya adalah penggunaan kalender pranata mangsa. Pranata mangsa merupakan salah satu unsur dari kearifan lokal yang telah berkembang lama dalam tradisi masyarakat Jawa Tengah, yang berkaitan erat dengan pertanian. Pranata mangsa berasal dari bahasa Jawa, terdiri dari dua kata yaitu pranata dan mangsa. Pranata berarti ketentuan/aturan dan mongso berarti musim. pranata mangsa atau aturan waktu musim digunakan oleh para petani Jawa yang didasarkan pada naluri yang diajarkan oleh leluhur dan digunakan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. pranata mangsa dalam padanan bahasa Indonesia, dibuat berdasarkan pergerakan matahari yang bergeser dari ekuator ke utara dan selatan dalam kurun waktu selama enam bulan. Ada beberapa nilai penting yang terdapat dalam kalender pranata mangsa sehingga penting bagi petani untuk mengelola pertanian (Suhartini, 2009), yakni: (1) pranata mangsa dapat memberikan arahan pada petani untuk bercocok tanam mengikuti tanda-tanda alam dalam mangsa yang bersangkutan. Ketentuan pranata mangsa seperti kalender pada umumnya yang dalam kurun waktu satu tahun terbagi menjadi 12 ‘mangsa’, namun jumlah harinya berbeda-beda; (2) aturan yang terdapat dalam kalender pranata mangsa mengajarkan kepada petani untuk menjaga keselarasan alam dengan tidak “memperkosa” tanah untuk lahan bercocok tanam; meskipun sarana-prasarana mendukung, seperti air dan saluran irigasinya. Artinya, pranata mangsa menuntun petani untuk membiarkan tanah dikosongkan untuk memperbaiki kondisinya dalam waktu sementara tanpa ditanami, meski tetap diberi pupuk untuk menjaga kesuburannya.

Sindhunata (2011) menjelaskan secara lebih rinci mengenai pembagian bulan sesuai kalender pranata mangsa yakni: (1) mangsa kasa atau kaji; (2) karo; (3) katelu; (4) kapat; (5) kalima; (6) kanem; (7) kapitu; (8) kawolu; (9) kasanga; (10) kasapuluh; (11) apit lemah atau hapit lemah atau dhesta; (12) apit kayu atau hapit kayu atau saddha. Sesuai dengan kalender pranata mangsa, bukan hanya dikenal pembagian waktu menjadi 12 mangsa; namun juga terdapat empat musim yakni: (1) katigo atau musim kering; (2) labuh atau musim ketika hujan sering turun; (3) rendheng sebagai musim dengan curah hujan tinggi. Pada musim rendheng ini, curah hujannya lebih banyak dibandingkan dengan labuh. (4) mareng sebagai masa peralihan antara musim penghujan ke kemarau yang ditandai dengan semakin sedikitnya hujan yang turun. Rincian dari kalender pranata mangsa bukan hanya berhenti sampai di sini, namun masih terdapat pembagian waktu sesuai dengan keempat musim tersebut.

Manfaat Pranata Mangsa Bagi Petani Perempuan Mojoreno

Masyarakat Jawa Tengah yang memiliki latar belakang pertanian telah diwarisi suatu pengetahuan bermanfaat yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dikatakan sebagai warisan mengingat ajaran ini telah dilaksanakan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut yang lebih dikenal sebagai kalender pranata mangsa lebih sering disebut sebagai aturan dalam pengelolaan tanah. Masyarakat dari Desa Mojoreno, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah selama ini masih ada yang menggunakan aturan pranata mangsa. Selama ini tradisi yang berlaku bagi masyarakat di dusun tersebut adalah menjadikan pranata mangsa sebagai pedoman untuk menanam padi dan palawija. Padi dan palawija menjadi pilihan utama karena merupakan makanan pokok masyarakat Jawa. Kalender pranata mangsa dijadikan sebagai pedoman petani perempuan Desa Mojoreno. 

Masyarakat pedesaan hanya melihat pengolahan pertaniaan saat ini lebih sulit karena satu tahun hanya bisa panen dua kali dengan curah hujan yang tidak lagi sesuai dengan perkiraan. Kalender pranata mangsa masih dilestarikan walaupun tidak banyak yang menggunakan karena petani perempuan yang hanya berstatus sebagai buruh sangat tergantung pada keputusan dari petani besar yakni pemilik sawah dan petani utama yang umumnya laki-laki. Dengan kata lain petani perempuan yang tergabung dalam kelompok tani belum memiliki kesempatan dan kemandirian untuk memutuskan sendiri kapan waktu untuk mengelola lahan pertanian. Kelompok tani sebagai wadah petani perempuan mau dan siap berkembang bilamana ada pihak-pihak yang lebih partisipatif, turut ambil bagian dalam memberdayakan anggotanya serta meningkatkan kesadaran masyarakat setempat akan kedudukan perempuan yang sama dengan laki-laki.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kalender pranata mangsa merupakan refleksi dari masyarakat Jawa terhadap tanda-tanda alam untuk menentukan penghitungan musim yang akan digunakan dalam bercocok tanam. Pranata mangsa dilakukan oleh nenek moyang dengan cara niteni atau mengamati tanda-tanda alam sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap Tuhan. Ada dua hal yang menyebabkan semakin sedikitnya masyarakat menggunakan aturan pranata mangsa dalam pengelolaan pertanian. Pertama, karena modernisasi dalam pertanian dan kerumitan tersendiri dalam penghitungan pranata mangsa. Kedua, fenomena iklim global yang memengaruhi tanah air seperti El Nino, La Nina, Dipole Mode, Madden Julian Oscillation (MJO) serta sirkulasi Monsun Asia-Australia, sebagai daerah pertemuan angin antartropis atau Inter-Tropis Convergence Zone (ITCZ) serta kondisi suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia (Minani, 2017).

GARUDA SIMBOL PESONA INDONESIA


Wonderful Indonesia

Indonesia memiliki julukan dari para wisatawan yaitu “Wonderful Indonesia” karena Indonesia dengan wilayahnya yang luas memiliki penuh pesona tersendiri mulai dari keindahan alamnya, keragaman penduduk dan bahasanya hingga pesona seni budaya tradisi lokal yang memiliki keunikan dan cagar budaya yang tentu saja sangat menarik untuk dikunjungi dan menjelajah wisata nusantara. Wonderful Indonesia merupakan branding pariwisata Indonesia yang mengusung tema Eco, Culture and MICE (Meeting, Incentive (Travel), Conventions, Exhibitions) yang sebelumnya pariwisata Indonesia memiliki nation branding yaitu “Visit Indonesia”. Tema yang mengusung Eco, Culture, and MICE ini memiliki makna yaitu

  • Eco merupakan perwujudan bentuk kepedulian pariwisata Indonesia terhadap lingkungan
  • Culture (Kebudayaan) merupakan harta dan kekuatan Indonesia yang mempunyai kekayaan seni budaya beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke
  • MICE adalah rangkaian acara dalam rangka Indonesia sebagai tuan rumah KTT ASEAN di tahun 2011, sehingga akan banyak pertemuan dan konvensi (MICE) yang diadakan di Indonesia, terdapat 600 event MICE yang diselenggarakan diberbagai daerah di tanah air.

Wonderful Indonesia menjadi janji pariwisata Indonesia kepada dunia. Istilah “Wonderful” mengandung makna bahwa Indonesia kaya dengan keindahan karya anak manusia maupun alamnya. Pesona Nusantara itu mampu mengusik kalbu dan menjanjikan pengalaman baru yang menyenangkan. Branding “Wonderful Indonesia” diharapkan menjadi identitas bangsa. Istilah Wonderful Indonesia biasanya dirangkai dengan Jateng Gayeng by Wonderful Indonesia, Enjoy Jakarta by Wonderful Indonesia.

Branding Wonderful Indonesia

Branding “Wonderful Indonesia” memiliki tujuan untuk mengefektifkan dan berintegrasi agar tidak terlalu banyak branding yang diciptakan oleh banyak tempat wisata maupun daerah. Wonderful Indonesia menjadi payung besar dalam dunia pariwisata Indonesia. Brand “Wonderful Indonesia” juga bertujuan sebagai country branding yang mempresentasikan daya tarik, keindahan alam, keanekaragaman budaya, dan keramahtamahan masyarakat Indonesia maupun fasilitas pariwisata menarik lainnya yang dikembangkan warga maupun masyarakat Indonesia itu sendiri.

Logo Wonderful Indonesia memiliki makna yang dalam. Bentuk logo mengambil konsep Garuda Pancasila sebagai dasar negara. Lima sila digambarkan dengan 5 garis warna yang berbeda dan merupakan symbol diversity Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman. Logo diolah menjadi bentuk dan warna yang dinamis sebagai perwujudan dari dinamika Indonesia sebagai negara berkembang. Jenis huruf dan logo diambil dari elemen otentik Indonesia yang disempurnakan dengan sentuhan modern.

Burung untuk logo Wonderful Indonesia suka berkelompok. Ini melambangkan hidup damai antar sesama di alam sentosa. Burung adalah satwa dengan populasi terbesar dan menjadi lambang bangsa Indonesia. Rentangan sayap berarti keterbukaan, hasrat untuk terbang jauh, dan melintas batas, sifatnya semesta dikenal oleh semua, tulisan “Indonesia” berwarna hitam yang lebih besar daripada “Wonderful” mengedepankan dan memperkuat Indonesia diantara persaingan pariwisata Internasional.

Pembaharuan dilakukan pada logo wonderful Indonesia yang menekankan gaya yang luwes melalui gambar tanpa sudut yang bermakna keseimbangan, keselarasan manusia dibumi dan sekaligus menggambarkan pariwisata yang berkelanjutan. Lambang garuda tetap dipertahankan sebagai dasar negara Indonesia dengan lima warna yang merupakan bulu dan warna pada bulu ini memiliki makna, warna biru yang berarti kesemestaan, warna hijau berarti kreatifitas dan ramah pada alam, warna jingga melambangkan inovasi dan semangat pembaharuan, warna ungu melambangkan simbol daya imajinasi dan keimanan, warna magenta merupakan simbol keseimbangan akal sehat dan sifat praktis.

BUDAYA SEBAGAI SOFT POWER DIPLOMASI INDONESIA

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang pada setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Sejak berabad-abad yang lalu kebudayaan Indonesia sudah terbentuk dengan masyarakat yang sangat majemuk yang terdiri dari 600 suku bangsa dan memiliki budaya yang beragam. Kebudayaan menjadi media diplomasi yang efektif karena memiliki unsur-unsur universal (cultural universals), dalam unsur-unsurnya terdapat dalam semua kebudayaan bangsa-bangsa di dunia. Koentjaraningrat membagi kebudayaan ke dalam 7 unsur-unsur universal yang terdapat pada semua bangsa yaitu: sistem religi dan upacara, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem pencaharian hidup,sistem teknologi dan peralatan.

Pada tahun 1990-an Indonesia mulai menggelar pameran kebudayaan di Amerika Serikat. Pameran ini memperlihatkan kepada masyarakat dunia berbagai bentuk dan produk kreatif seniman Indonesia, pameran ini dinilai sukses dan mendapat respons yang positif dari publik AS. Indonesia. Pameran kebudayaan pada taraf internasional dimaksudkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Budaya Indonesia sangat diapresiasi oleh masyarakat dunia, dengan cara belajar budaya Indonesia mulai dari lagu, tarian, kerajinan, dan lain-lain. Keragaman budaya  menjadi sebuah kekuatan penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia di tengah berbagai tantangan yang saat ini sedang dihadapi. Selain itu,  keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadi suatu kekuatan untuk bangsa Indonesia dalam berdiplomasi antar bangsa, bahkan diplomasi budaya dapat menjembatani konflik antar bangsa.

Soft Power Diplomacy adalah penyelenggaraan hubungan Indonesia dengan negara-negara dan entitas internasional lain dengan menggunakan kemampuan untuk menarik perhatian dan bekerja sama, mengubah dan mempengaruhi opini publik dan sosial melalui berbagai saluran. Indonesia untuk menjembatani perbedaan dunia saat ini akan selalu memainkan Soft Power Diplomacy. Dalam pembukaan pagelaran Indonesia Channel 2016, Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi  menyampaikan “Dengan adanya berbagai konflik yang terjadi tentunya memerlukan banyak sekali jembatan, dan bukan hanya satu atau dua jembatan untuk menghubungkan antara budaya yang berbeda, agama yang berbeda, dan kepentingan yang berbeda, dan inilah bagian yang ingin dimainkan oleh Indonesia untuk membangun berjuta jembatan agar dunia menjadi damai dan stabil melalui seni dan budaya.”

Budaya menjadi alat diplomasi bagi Indonesia untuk menjembatani perbedaan dunia saat ini. Budaya merupakan alat diplomasi yang dapat mempersatukan masyarakat suatu negara dengan masyarakat negara-negara lain, karena budaya dalam suatu bangsa  sangat melekat pada semua kalangan masyarakat, dan budaya sangat melekat  dengan kehidupan sehari-hari sehingga budaya menjadi sangat pengaruh dalam kehidupan masyarakat dalam bernegara. Sehingga kekuatan budaya menjadi alat yang penting yang bisa digunakan untuk menjembatani konflik yang ada antara negara satu dengan negara yang lain.

Untuk itu, Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman budaya yang dimiliki dari Sabang sampai Merauke menggunakan kekuatan budaya negara sendiri untuk melakukan Soft Power Diplomacy untuk menjembatani perbedaan dan konflik yang terjadi pada dunia saat ini, salah satunya dengan memberikan Beasiswa Seni Dan Budaya Indonesia (BSBI) yang dimulai dari tahun 2003. Beasiswa ini memberikan kesempatan untuk para anak-anak dan para kaum muda dari negara-negara Asia, Pasifik Eropa dan Amerika untuk belajar kebudayaan Indonesia seperti memainkan musik gamelan, menari, membuat anyaman, melukis, membantik dan lain sebagainya.