KIPRAH PEREMPUAN DALAM MENGHADANG ANCAMAN COVID-19

Ditengah pandemi Covid-19 peran keluarga menjadi sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak khususnya peran ibu. Saat ini Gawai menjadi alat yang sangat diperlukan dalam pembelajaran jarak jauh. Dalam masyarakat dengan nilai-nilai patriarkhi yang masih kental muncul pertanyaan bagaimana  peran ibu dalam keluarga ditengah pandemi dalam menangani  anak-anak dari keterikatan terhadap gadget. Dalam masyarakat yang mendukung sistem sosial patriarkhi belum seutuhnya percaya dengan perempuan yang berkaitan langsung terhadap isu-isu atau permasalahan publik yang berkembang di masyarakat.  Pada masa pandemi ini perempuan yang berperan sebagai ibu dalam keluarga yang berstatus wanita karier atau wanita rumahan dihadapkan pada masalah terhadap kemalasan para generasi milenial.

Saat ini aktivitas dalam ranah publik sedang di batasi bahkan ada yang diberhentikan salah satunya aktivitas sekolah. Hal ini memunculkan fenomena baru pada anak-anak usia sekolah yang aktivitasnya menggunakan perangkat teknologi yakni gadget atau gawai dan menyebabkan generasi milenial tidak dapat melepaskan gadgetnya bahkan dalam hitungan detik mulai dari bangun tidur pagi hari sampai waktunya tidur malam, sehingga menimbulkan kemalasan untuk melakukan aktivitas fisik yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhannya.  Kecanduan gawai  pada anak-anak saat masa pandemi ini menjadikan perempuan (ibu) menjadi sebagai sasaran, karena mengharuskan belajar dirumah, ibu secara langsung maupun tidak menjadi pemilik kontrol dan pengendalian serta pengawasan pada aktivitas anak-anak mereka dirumah, hal ini dibebankan kepada perempuan (ibu) kareba perempuan (ibu) sebagai pengasuh dalam keluarga dengan sifatnya yang penuh kehangatan, kehalusan serta kesadaran akan perasaan kepada orang lain.

Bagaimana pola pengasuhan ibu terhadap anak pada masa pandemi? Bagi perempuan ketika menempuh kehidupan baru yaitu pernikahan , peran perempuan semakin bertambah , tidak hanya sebatas pendamping suami yang melayani dan menyayangi dan bersolek, namun setelah melahirkan anak juga tidak sebatas memberikan asi namun juga merawat dan mendidiknya, rutinitas ini dilakukan bagi seorang perempuan  berlangsung terus menerus seiring dengan perkembangan usia anak, maka peran perempuan sangatlah penting sebagai agen dalam mempersiapkan anak-anak untuk menjadi aktor pembangunan dan perubahan sosial.

Dalam masyarakat jawa masih diwarnai dengan nilai-nilai yang menyiratkan adanya pandangan merendahkan kepada perempuan, dimana perempuan seharusnya menyediakan seluruh waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk memelihara rumah tangga. Bagaiman dengan sekarang?  Seiring perkembagan pendidikan serta keterampilan, perempuan saat ini dapat menjadi sosok yang berwawasan, mandiri dan bisa menggunakan teknologi. Perempuan sekarang tidak hanya dituntut sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sebagai partner pemerintah dalam proses pembangunan , hal ini sesuai dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) bahwa penguasaan teknologi dalam perspektif kesetaraan gender bukan saja untuk menyeimbangkan hak dengan laki-laki namun juga sebagai langkah nyata pemberdayaan perempuan.

Dalam proses perkembangan anak sebagai insan dipengaruhi oleh keluarga yang dimulai dari fisik, mental, emosi dan rasionalitas, jadi tidak hanya keterlibatan ibu saja namun juga membutuhkan keterlibatan ayah. Dalam masyarakat Jawa peran sosial ayah pada ranah publik sehingga menjadi hal yang wajar apabila kurang terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, terbalik dengan peran sosial ibu yaitu melekat dengan tanggung jawab pada urusan domestik yakni membesarkan anak untuk menjadi insan yang berkarakter humanis.

Maka untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari pengunaan gawai secara berlebihan  pada masa pandemi diperlukan sebuah upaya atau solusi  yaitu memberikan edukasi kepada anak tentang apa, bagaimana dan dampak dari penggunaan gawai dan memberi batasan waktu dan konten tertentu, memberikan aktivitas fisik pada anak seperti berkebun atau memelihara binatang, mengajarkan berwirausaha, menyediakan buku bacaan yang ringan sesuai dengan minat dan hobi anak untuk menghibur dan mengurangi kebosanan. Aktivitas semua ini dapat dilakukan tanpa adanya paksaan namu tetap dalam pendampingan, pemantauan dan pengawasan ibu, karena ibu menjadi sosok yang memiliki ikatan kuat dengan anak-anaknya 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *