EDUKASI POLITIK BAGI GENERASI MILENIAL

Di Indonesia masih banyak para mahasiswi-mahasiswi yang tidak berminat untuk partisipasi dalam politik, khususnya para mahasiswi-mahasiswi aktivis yang telah lulus dari perguruan tinggi yang tidak menunjukkan aktifitas politik dan tidak berminat dalam memanfaatkan akses rekrutmen politik yang dilakukan oleh partai politik. Apa itu Politik, Partai Politik   dan Rekrutmen Politik ? Politik merupakan tempat terjadinya interaksi individu di ruang privat dengan semua aspek sektor publik. Partai politik merupakan organ infrastruktur politik yang memiliki fungi substansial, antara lain dalam rekrutmen politik.

Rekrutmen Politik adalah proses oleh partai politik dalam mencari anggota baru dan mengajak orang berbakat untuk berpartisipasi dalam proses politik. Rekrutmen politik juga dimaknai luas, sebagai cara pemilihan, seleksi, dan pengangkatan para warga negara guna untuk diorbitkan menjadi calon-calon pemimpin dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya (Haryanto, 1984: 41; Surbakti, 1992: 118).

Di Indonesia semangat feminisme mewarnai partisipasi perempuan di panggung politik formal yang sanggat dipengaruhi oleh kebijakan afirmatif melalui Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Pasal 65 ayat 1 UU No.12 Tahun 2003 dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan UU No.2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Ini menjadi langkah untuk meningkatkan keterwakilan perempuan sehingga perempuan dapat melakangkah lebih jauh untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan publik dengan out put kebijakan yang banyak berpihak pada kepentingan perempuan.

Namun perempuan dalam menduduki posisi dalam lembaga-lembaga politik masih menemui kendala jika perempuan tidak siap dalam menduduki posisi dalam lembaga politik, maka diperlukan edukasi politik untuk para perempuan muda untuk terlibat dalam rekrutmen politik dan diperlukan peran partai politik dalam penyediaan akses rekrutmen politik untuk mahasiswi sebagai generasi milenial.

Pendidikan politik bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. pendidikan politik memiliki peran yang penting  bagi kehidupan politik suatu negara. Kantraprawira dalam (Affandi, 2012: 33) memandang,pendidikan politik sebagai salah satu fungsi struktur politik dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan politik rakyat agar mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politiknya. Pendidikan politik merupakan metode untuk melibatkan rakyat dalam sistem politik melalui partisipasi dalam menyalurkan tuntutan dan dukungannya.

Dalam pelaksanaan webinar yang dilakukan oleh Universitas Slamet Riyadi Surakarta pada tanggal 29 September 2020 secara daring dengan anggota BEM  Solo Raya dan  narasumber dari Partai Politik yaitu Pengurus Partai Golkar dan Partai Nasdem Surakarta serta Mahasiswi aktivis yang aktif dalam melakukan aktifitas politik. Pada kegiatan ini Ketua DPD Golkar Kota Surakarta  (Hj. Maria Ardhie, SE, MM dan Wakil Ketua Pemberdayaan Perempuan DPD Partai Demokrat Jawa Tengah (Dra. Wahyuning Chumaeson, M.Si) menyatakan bahwa partai politik senantiasa mebutuhkan sumberdaya perempuan terdidik dan berpengalaman organisasi untuk berperan aktif mengembangkan peran parpol sebagai infra struktur politik namun selama ini belum ada komunikasi dan interaksi yang berarti antara mahasiswa, khususnya mahasiswi aktivis dengan partai politik. Sehingga partai politik bergerak sendiri dalam melakukan fungsi politiknya, sedangkan kelompok mahasiswa aktivis sebagai kelompok kepentingan juga bergerak sendiri dalam melakukan upaya untuk mencapai cita-cita politiknya.

Salah satu narasumber mahasiswi aktivis BEM Solo Raya menganggap idealisme gerakan mahasiswa berbeda dengan nilai idealisme pada partai politik. Mahasiswa melihat bahwa perilaku politik praktis dalam partai politik termasuk proses rekrutmen politik tidak sejalan dengan perjuangan para mahasiswa dan untuk berkarir dalam partai politik para mahasiswa  tidak menganggap sebagai sebuah pilihan yang patut untuk diperjuangkan.

Sebenarnya para mahasiswi aktifis yang bergabung dalam Aliansi BEM Solo  Raya memiliki minat dalam memanfaatkan informasi dan akses rekrutmen politik yang disediakan oleh lembaga dan organisasi politik, namun adanya hambatan psikologis dan sosial menjadi sebuah kendala utama bagi para aktifis sehingga belum mampu dalam memanfaatkan akses rekrutmen politik yang tersedia.

Rekrutmen politik menjadi salah satu bentuk aktifitas yang menunjukkan pola budaya politik, untuk meningkatkan kualitas budaya politik. Budaya Politik adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik, seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik dan pandangan hidup pada umumnya dan untuk meningkatkan kualitas budaya politik masyarakat secara luas maka juga diperlukan waktu , maka perlu adanya dorongan interaksi antara mahasiswi aktifis dengan para lembaga politik melalui edukasi politik.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *