PENDIDIKAN BAGI ANAK-ANAK BURUH MIGRAN INDONESIA DI SABAH

Dalam Universal Declaration of Human Rights tahun 1948 pasal 26 bahwa “Setiap orang memiliki hak  untuk memperoleh pendidikan”. Pendidikan menjadi peran yang sangat penting dan strategis bagi kemajuan bangsa untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakatnya, kemajuan bangsa dapat diukur melalui kemajuan pendidikannya. Begitupula dengan Bangsa Indonesia untuk memajukan pendidikannya,  pemerintah Indonesia menyediakan pendidikan bagi masyarakatnya dan salah satu yang menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia yaitu untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi para anak-anak buruh migran Indonesia yang ada di luar negeri salah satunya di Sabah, Malaysia. Pendidikan bagi para anak-anak buruh migran Indonesia di Sabah masih menjadi hambatan untuk mendapatkan haknya memperoleh pendidikan. Apa saja yang menjadi faktor penghambat akses pendidikan bagi anak-anak buruh migran Indonesia di Sabah ?

Pertama akta kelahiran, akta kelahiran menjadi dokumen penting untuk mendaftarkan anak-anak di sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Banyak para buruh migran Indonesia yang tidak memiliki dokumen resmi kewarganegaraan, sehingga banyak anak-anak buruh migran Indonesia tidak memiliki akta kelahiran, terutama yang lahir pada wilayah-wilayah perkebunan di Malaysia. Dengan tidak memiliki akte kelahiran juga memberi dampak pada status anak-anak tersebut sebagai warga negara. Kedua upah buruh migran Indonesia yang relatif rendah, dengan upah yang rendah buruh migran Indonesia tidak memiliki biaya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka di sekolah kebangsaan atau sekolah swasta di Sabah.  Kondisi ekonomi dan rendahnya pengetahuan orang tua menjadi alasan utama bagi anak-anak buruh imigran Indonesia tidak bersekolah sehingga anak-anak terpaksa mengikuti dan membantu orang tua bekerja di ladang.

Maka sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat 1, bahwa Negara berkewajiban melaksanakan penyelenggaraan pendidikan wajib belajar 9 tahun untuk setiap warga Negara  baik yang tinggal di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maupun di luar negeri, maka anak-anak buruh imigran Indonesia di Sabah berhak mendapatkan pendidikan seperti anak-anak Indonesia lainnya.

Pemerintah Indonesia menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak buruh migran Indonesia di Sabah , antara lain :

  1. LSM Humana Child Aid Society adalah sebuah LSM yang berasal dari Denmark dalam bidang pendidikan, LSM ini memulai layanan bagi anak-anak pekerja asing di Sabah sejak tahun 1991 yang memfokuskan anak-anak pekerja asing yang berasal dari Indonesia dan Filipina. LSM Humana bekerjasama dengan KJRI Kota Kinabalu yang khusus untuk wilayah pedalaman atau perkebunan sawit yang jauh dari keramaian. Tujuan LSM Humana yaitu membantu memenuhi konvensi PBB tentang “Hak Anak” bahwa semua anak memiliki hak untuk pendidikan dasar. Selain itu, Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Malaysia telah membuat kesepakatan yaitu Pemerintah Malaysia menyetujui Pemerintah Indonesia untuk mengirimkan tenaga pengajar untuk mendidik anak-anak buruh migran di Sabah, namun karena perbedaan kurikulum dan pendidikan yang dihasilkan oleh LSM Humana yang ternyata tidak bisa digunakan untuk melanjutkan sekolah di Indonesia, maka Pemerintah Indonesia mendirikan Sekolah Indonesia di Kota Kinabalu bernama Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).
  2. Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) adalah sekolah Indonesia Luar Negeri, dalam pendirian SIKK dilatarbelakangi oleh banyaknya anak-anak buruh migran yang tidak dapat belajar di sekolah milik Pemerintah Malaysia karena terkendala MoU pemerintah federal bahwa migrant worker tidak dibenarkan membawa tanggungan untuk bekerja di Malaysia. SIKK didirikan oleh pemerintah sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap kondisi pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia. Namun, dengan adanya SIKK belum mampu menjangkau kepentingan pelayanan pendidikan anak-anak buruh migran Indonesia di seluruh Sabah, sehingga diperlukan adanya langkah sebagai solusi untuk menyediakan akses pendidikan untuk memenuhi hak dasar dalam memperoleh pendidikan yaitu dengan mendirikan Community Learning Centre (CLC) di Sabah.
  3. Community Learning Centre (CLC) adalah institusi pendidikan dasar yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertujuan memberikan pendidikan kepada anak usia sekolah dan peran KJRI Kota Kinabalu dan SIKK adalah sebagai fasilitator untuk memberikan bimbingan teknis dan peningkatan kapasitas pada tenaga pendidik. CLC memberikan akses pendidikan yang seluas-luasnya kepada anak-anak usia sekolah tetapi tidak sekolah, anak-anak yang belum sekolah, anak-anak buta aksara dan anak-anak yang kebutuhan pendidikannya tidak terpenuhi di pendidikan formal.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *