KOTA SURAKARTA DAN BUDAYA

Pemerintah Daerah saat ini menjadikan warisan budaya sebagai potensi dalam meningkatkan daya tarik suatu kota yang keberadaannya sebagai identitas, salah satu kota yang melestarikan keberadaan warisan budaya yaitu Kota Surakarta. Kota Surakarta terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia dan berada diperingkat kesepuluh terbesar dalam pelestarian budaya. Kota Surakarta memiliki tradisi dan budaya masa lalu sebagai salah satu pusat kerajaan di Jawa yaitu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang sampai saat ini masih tetap bertahan bangunan masa lampau dari bangunan ibadah umum, keraton, hingga bangunan militer.  Dalam perkembangannya Kota Surakarta mendapat julukan yang mencerminkan perkembangan kota yang pesat dalam pertumbuhan peradaban dan kebudayaan  antara lain sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota seniman, kota batik dan lainnya, kota budaya menjadi identitas bagi Kota Surakarta karena banyak dijumpai peninggalan-peninggalan berbagai warisan pusaka budaya jawa dan keberadaan budaya menjadi identitas untuk kepentingan dalam melakukan aktifitas pemerintahan yang mencakup wilayah regional dan internasional. Pemerintah kota Surakarta berupaya dalam meningkatkan citra sebagai pusat kebudayaan jawa yang mempunyai slogan “Solo The Spirit of Java”.

Pemerintah Kota Surakarta berupaya dalam meningkatkan daya tarik Kota Surakarta melalui warisan budaya antara lain sebagai berikut:

Pertama, pengenalan warisan budaya melalui event kesenian. Salah satu kesenian budaya di Surakarta yaitu seni musik yang memiliki berbagai jenis musik dari Keroncong, Karawitan, Musik Bambu, Hadrah, Macapat, Santi Swara yang merupakan kesenian bertemakan selawatan dalam bentuk lagu jawa bernada slendro dan pelog dengan memasukkan unsur karawitan, dan kesenian musik yang paling mendominasi yaitu kesenian Keroncong yang dapat ditemui diseluruh kelurahan di Kota Surakarta dan kesenian karawitan yang khas dengan musik untuk mengiringi acara atau kegiatan-kegiatan Keraton, sehingga banyak kelompok-kelompok kesenian musik di kampong-kampung, selain itu juga terdapat kesenian Ketoprak.

Kedua, upacara adat antara lain Mahesa Lawung merupakan upacara yang digelar setahun sekali setiap tanggal 3 Rabiul Akhir oleh Keraton Surakarta sebagai ritual yang menjadi simbol dalam memberantas kebodahan dan pemberantasan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia,. Upacara Adat Labuhan merupakan upacara adat keraton Kasunanan Surakarta yang dilakukan pada Bulan Besar/Dzulhijja antara tanggal 20-25. Tinggalan Jumenengan/ Tinggalan Ndalem merupakan peringatan untuk raja yang naik tahta. Malam Selikuran merupakan upacara yang diselenggaran setiap tanggal 21 pada bulan Ramadhan untuk memperingati turunnya Al-Qur’an dan malam lailatul Qodar . Mbah Meyek merupakan rangkaian upacara bersih desa dan kirab serta wayangan yang dilakukan semalaman. Adat Grebeg merupakan upacara adat keraton Surakarta berupa parade gunungan yang terbuat dari makanan, sayuran serta jajan pasar yang dibentuk menyerupai gunung. Adat Kirab merupakan kirab pusaka malam satu sura dan kirap apem sewu yang dilaksanakan satu tahun sekali pada malam tanggal 1 sura.

Ketiga  festival, beberapa festival digelar di Kota Surakarta untuk upaya dalam pelestarian budaya masyarakat antara lain festival keraton ‘Keraton Surakarta Festival’ yang bertujuan untuk mengenalkan kembali warisan budaya keraton yang adiluhung untuk lebih dikenal masyarakat nasional maupun internasional. Festival Bengawan yang diadakan pada pecan syawalan di Taman Satwa Taru Jurug  dengan acara Larung Gethek Jaka Tingkir , festival ini bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata bengawan solo dan menunjukkan bahwa sungai memiliki peran vital pada masa lampau.

Keempat, event antara lain Solo International Performing Art (SIPA) adalah sebuah ajang pagelaran seni berskala internasional dengan menampilkan budaya dalam seni pertunjukkan dalam panggung yang dihadiri oleh para seniman dari benua Asia, Australia, Eropa, Afrika dan Amerika Serikat, dengan tujuan sebagai wadah pertemuan beragam seni, budaya dari berbagai negara yang diselenggarakan oleh pemerintah Kota  Surakarta di Benteng Vasternburg dan sebagai salah satu upaya pemerintah Kota Surakarta dalam mempromosikan dan meningkatkan citra sebagai kota budaya. Solo Batik Carnival (SBC) merupakan event budaya yang diselenggarkan sebagai agenda tahunan Kota Solo untuk meningkatkan citra sebagai kota batik. Solo Keroncong Festival  (SKF) merupakan event untuk musik keroncong dan event yang berbasis masyarakat dengan menggunakan musik keroncong asli kota Solo sebagai medianya. Solo International Ethnic Music (SIEM) merupakan event yang bertaraf internasional dengan menampilkan berbagai musisi dunia yang beraliran musik etnik. Solo Menari 24 Jam diselenggarakan dalam memperingati hari tari internasional setiap tanggal 29 April setiap tahunnya. Sekaten adalah acara rutin tiap tahun di Keraton Surakarta dalam memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Malam Satu Suro, merupakan hari pertam dalam kalender Jawa di bulan Sura yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender hijriyah dan juga terdapat acara ritual membersihkan pusaka-pusaka milik keraton Surakarta.

Selain kesenian, upacara adat, festival dan event-event, untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya tarik Kota Surakarta, ikut serta dalam organisasi sebagai salah satu bentuk interaksi dengan berbagai pihak didalam negeri maupun luar negeri untuk bersama-sama bekerja untuk melindungi dan melesatarikan asset budaya antara lain Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI)merupakan organisasi kota-kota yang memiliki warisan budaya berupa pusaka  untuk membuat sejarah baru tentang pelestarian pusaka dan Kota Surakarta mengadakan program ‘Jelajah Kota Pusaka’. Organization World Heritage Cities (OWHC) adalah organisasi kota-kota warisan dunia yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya yang berbentuk benda dan tak benda pada kota-kota bersejarah, Kota Surakarta menjadi salah satu dari dua kota di Indonesia yang menjadi anggota OWHC karena mempunyai benda yang diakui oleh UNESCO yakni keris, wayang dan batik.

Upaya lain Pemerintah Kota Surakarta untuk lebih meningkatkan daya tarik heritage budaya Surakarta yaitu dengan mengirim duta kesenian ke sejumlah negara antara lain di Belanda untuk mengisi pentas pasar malam dengan mengirim personel Solo Batik Carnival pada tahun 2010, Korea Selatan dalam acara “Andong Mask Dance Festival 2014”, Singapura dalam festival budaua “Chingay Festival” pada tahun 2010 . Mempertahankan sanggar seni dan komunitas seni juga menjadi upaya pemerintah Kota Surakarta, terdapat sanggar seni tari “Soerya Sumirat di Mangkunegaran yang didirikan oleh Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwasto Kusumo pada tahun 1982 di Pura Mangkunegaran hingga saat ini dan terus berkembang yang semakin dikenal didalam negeri maupun diluar negeri.

Sumber:

LANGGENG NUGRAHA, UPAYA MENINGKATKAN DAYA TARIK KOTA SURAKARTA DI TINGKAT INTERNASIONAL MELALUI WARISAN BUDAYA. 2016. SKRIPSI

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *