KEBIJAKAN POLITIK HIJAU KOREA SELATAN

Pertumbuhan ekonomi suatu negara yang terus meningkat dari ta hun ke tahun memba wa kesejahteraan pada masyarakatnya, namun di sisi lain ternyata membawa dampak negatif terhadap lingkungan, salah satu negara yang mengalami hal tersebut yaitu Korea Selatan dengan meningkatnya pertembuhan ekonomi maka konsekuensi dari hal tersebut adalah meningkatnya emisi yang dihasil oleh Korea Selatan. Korea Selatan menempati peringkat 10 dalam penghasil emisi CO2. Pada tahun 2008 negara ini mengkonsumsi energi dunia dengan angka 277 million ton of Oil Equivalent (Mtoe). Pada tahun 2008 Presiden Lee Myung-bak mengumunkan sebuah kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan yang merupakan visi nasional dan paradigma baru dalam pembangunan nasional Korea Selatan. 

Dalam pidato kenegaraannya presiden ingin mengedepankan ‘Low Carbon, Green Growth’ dan green growth mengacu pada pertumbuhan berkelanjutan yang membantu untuk mengurangi emisi gas kaca dan polusi lingkungan serta menciptakan lapangan pekerjaan dan poros penggerak baru bagi pertumbuhan nasional. Program green growth merupakan strategi masa depan di semenanjung Korea.  Pada tahun 2010 menurut Korea Energy Economics Institute bahwa Korea Selatan menyumbang 19,7 emisi gas rumah kaca yang 80% berasal dari transportasi.

Green Politics Di Korea Selatan

Dalam green politics terdapat hubungan antara demokrasi dan gerakan mengenai lingkungan. Partai hijau merupakan representasi politis dari green politic dan Korea Selatan termasuk dalam 100 lebih negara di dunia yang memiliki partai hijau. Keberadaan partai hijau baru muncul pada  30 Oktober 2011 yang memiliki tujuan untuk menyuarakan nilai-nilai yang berkaitan dengan perubahan yang mendasar terhadap kondisi lingkungan yang ada. Partai hijau di Korea Selatan mulai ikut dalam pemilihan presiden pada tahun 2012 dan hanya memperoleh 104.000 suara atau hanya sekitar 5 % dari total suara. Partai hijau tidak dapat masuk dalam pemerintahan di Korea Selatan, namaun presiden Lee Myung-bak yang berasal dari Grand National Party terpilih menjadi presiden periode 2007-2012. Presiden terpilih ini memiliki kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan yang diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2008 yang tercermin pada Low Carbon, Green Growth Policy. Presiden Lee Myung-bak terinspirasi oleh United Nations Environmental Programme (UNEP) dalam membuat paradigma green growth dan menerapkannya di  Korea Selatan.

Green Politics Terhadap Low Carbon Green Growth Policy Korea Selatan

Presiden Lee Myung-bak dengan kebijakan “Low Carbon, Green Growth” merupakan program kepedulian terhadap lingkungan karena polusi dan gas rumah kaca. Kebijakan tersebut sekaligus membentuk paradigma yang baru untuk pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan. Dengan adanya kebijakan tersebut dapat mengakomodir dua hal yaitu mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan tetap menjaga integritas lingkungan. Kebijakan ini menjadi prinsip untuk pembangunan Korea Selatan dan tertuang dalaam tiga prinsip utama yaitu mempertahankan kegiatan ekonomi produktif dengan meminimalkan penggunaan energi dan sumber daya, meminimalkan tekanan terhadap lingkungan terhadap setiap penggunaan energi dan berinvestasi pada lingkungan untuk pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut juga dilakukan untuk mengingat bahwa Korea Selatan menjadi negara dengan pencapaian ekonomi tinggi dalam 60 tahun terakhir sehingga menjadi negara ke-12 perekonomian terbesar di dunia dalam industri perkapalan dan semikonduktor. Green Growth menjadi fasilitas untuk perekonomian Korea Selatan yang berbasis pengetahuan serta nilai produk yang lebih besar dan lebih hijau dan akan mengubah gaya hidup bagi masyarakat dan memberikan edukasi serta meningkatkan kesadaran. Green Growth sekaligus menjadi  sarana mempromosikan perubahan kebiasaan yang akan membantu Korea Selatan menjadi tempat yang lebih baik untuk kehidupan generasi yang akan datang.

Strategi Untuk Mencapai Tujuan Kebijakan Low Carbon Green Growth

1.Presidential Committee and The Framework Low on Green Growth

Pada tanggal 16 Februari 2009 untuk mengawasi inisiatif kebijakan Low Carbon, Green Growth maka dibentuk Komite Presiden dengan Perdana Menteri sebagai wakil ketua dalam komite dan Kim Hyung Gook yang seorang professor terkemuka serta terdapat 47 anggota yang terdiri dari menteri-menteri terkait, para ahli dan para pemangku kepentingan dari sektor swasta. Komite ini bertugas untuk merumuskan strategi yang berkaitan dengan kebijakan Low Carbon, Green Growth yang diberi nama National Strategy on Green Growth and a five year Action Plan yang dilaksanakan pada tahun 2009-2013 dan diimplementasikan di semua kota metropolitan dan provinsi yang ada di Korea Selatan.

Salah satu contoh yang menerapkan kebijakan ini yaitu Ibu kota Korea Selatan yakni Seoul menjadi salah satu kota metropolitan yang melaksanakan Strategic Objectives of Korea’s Five Years Plan for Low Carbon, Green Growth 2009-2013. Kota Seoul yang merupakan pusat ekonomi, politik dan budaya, dengan menerapkan kebijakannya dengan memperkenalkan jaringan listrik pintar (smart grid network) untuk menghemat penggunaan energi listrik, meningkatkan efisiensi dari bangunan publik, memilih dan  mendukung serta menguatkan monitoring sistem dalam perubahan iklim. Untuk memperbaiki kualitas transportasi  umum menjadi lebih hijau Kota Seoul melakukan kebijakan seperti: Greening of The Public Fleet yakni dengan meningkatkan pelayanan transportasi bus dengan tambahan jalur dan mengkonversi bahan bakar bus menjadi natural gas (CNG) yang lebih bersih, Voluntary “no driving day” yakni masyarakat umum secara sukarela mendaftarkan kendaraannya untuk terjadwal tidak memakai kendaraan umum pada hari tertentu, Travel Demand Management  yakni pemerintah menciptakan kartu yang bernama T-Money yang digunakan untuk bisa menukar jenis transportasi umum bisa digunakan secara gratis serta mempermudah para pengguna transportasi umum untuk berganti-ganti jenis kendaraan umum, Urban Design to Accommodate Electric Vehicle yakni mengimplementasikan kendaraan listrik untuk sektor privat maupun public.

2. Global Leadership on Combating Climate Change

Presiden Lee Myung-bak pada KTT G8 tahun 2008 di Toyako menyatakan bahwa  Korea Selatan menjadi “penggerak awal” untuk mengatasi perubahan iklim dan pada tahun 2020 berencana menetapkan target mitigasi jangka menengah untuk Korea Selatan.

3. The 1st  National Basic Plan (2008-2030) and Comprehensive Plan on Combating Climate   Change

Pada tanggal 20 Agustus 2008 program ini disahkan yaitu pada tahun 2030 untuk meningkatkan energi terbarukan sebanyak 11 %  yang merupakan rencana jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim serta menyelamatkan cadangan energi nasional Korea Selatan. Untuk mengembangkan teknologi yang berasaskan green growth Korea Selatan memiliki dua pusat strategi kedua organisasi yaitu Global Green Growth Institute (GGGI)  yang didirikan pada tahun 2010 serta menjadi think tank yang mengembangkan strategi ekonomi yang ramah lingkungan dan pada tahun 2012 diluncurkan Green Technology Centre Korea (GTCK) sebagai pusat Research and Development (R&D) untuk teknologi hijau. Dengan R&D Korea Selatan menemukan sebuah inovasi teknologi yang baru serta ramah lingkungan seperti LED, mobil listrik, hydrogen fuel cells, solar cells, solar heat, fuel cells dan intelligent transportation system dengan terobosan teknologi dapat melindungi cadangan energy nasional serta dapat melawan perubahan iklim.

4. Green New Deal Stimulus Package

Pada 6 Januari  2009 program ini diumumkan dengan menginvestasikan sebanyak 50 triliun KRW (38500000000 USD) pada sembilan proyek kunci untuk dapat menciptakan green job di Korea Selatan untuk 4 tahun ke depan. Dalam Sembilan proyek utama yang didanai antara lain merevitalisasi empat sungai utama yang ada di Korea Selatan untuk menghindari bencana alam dan meningkatkan kualitas hidup, membangun transportasi hijau, membangun database pada wilayah nasional dan sumber daya, pengelolaan sumber daya air, program mobil hijau dan energi bersih, program daur ulang, pengelolaan hutan dan program biomasa, program rumah, kantor dan sekolah hijau serta program pemandangan dan infrastruktur yang lebih hijau.

5. Comprehensive R&D Plan on Green Technology

Pada tanggal 13 Januari 2009 Nasional Science and Technology Commision (NSTC) mengesahkan program ini , penelitian ini untuk 27 bidang teknologi kunci seperti prediksi dan modeling perubahan iklim, photovoltaic panel surya, LED, regenerasi limbah dan penangkapan dan penyimpanan karbon. Strategi yang terakhir ini menjadi inti pentingnya teknologi yang digunakan untuk melindungi lingkungan dan pemerintah mengeluarkan dana yang besar untuk penelitian ini, agar penelitian berbagai teknologi kunci yang berbasis Green Technology dapat semakin berkembang, dengan bukti teknologi menjadi peran kunci untuk strategi Korea Selatan dan untuk mencapai tujuan dari kebijakan Low Carbon, Green Growth. Contoh kota yang mempresentasikan revelansi R&D di Korea Selatan yaitu Kota Songdo, kota ini dekat dengan kota Seoul dan berdekatan dengan Beijing, Shanghai dan Tokyo, Kota Songdo adalah kota low-carbon yang bertujuan agar menarik para pebisnis dan investasi luar negeri sehingga dapat membangkitkan hubungan perdagangan baru dalam lingkup Asia Timur, Kota Sangdo memiliki bangunan dengan arsitektur, mesin desain dan teknologi yang terintegrasi hijau, sehingga menjadikan kota ini mampu untuk meningkatkan competitiveness Korea Selatan karena desain yang ekologis dan teknologi canggih sehingga menjadikan kota Sangdo menjadi sebuah kota futuristik dan berteknologi maju.

Korea Selatan dengan kebijakan Low Carbon, Green Growth yang terealisasi pada tahun 2009 menjadikan Korea Selatan sebagai negara perekonomian tertinggi ke-12, serta pada tahun 2012 GDP Korea Selatan di peringkat ke-15 dunia. Dengan kebijakan Low Carbon , Green Growth Korea Selatan bertujuan mengurangi emisi yang dihasilkan oleh Korea Selatan sebanyak 30 % dan memiliki target hingga tahun 2020 karena Korea Selatan sebagai negara pengkonsumsi energi terbesar ke-10 di dunia dan dengan adanya kebijakan ini bertujuan bersama-sama untuk mempromosikan perlindungan lingkungan serta pertumbuhan ekonomi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *