PAY GAP GENDER DI AUSTRALIA

Sejak tahun 2006 sampai 2016 dalam indeks kesenjangan Gender Global Forum Ekonomi Dunia, Australia mengalami kemuduran. Pada tahun 2017 indeks kesenjangan gender mengalami sedikit peningkatan, meskipun proyek kesetaraan gender masih dalam masalah. Permasalahan tersebut terkait dengan tingkat ekonomi dan partisipasi politik perempuan yang sangat dinamis. Dalam Libby Lyons 2019, perempuan Australia masih harus berurusan dengan kesenjangan upah yang menguntungkan pihak laki-laki di setiap negara bagian. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa hambatan yang dihadapi perempuan dalam memiliki peluang untuk mendapatkan penghargaan yang sama dengan laki-laki masih jauh. Usaha dari para pekerja perempuan dalam mencapai kesetaraan ini tidak akan selesai dengan sendirinya sehingga dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.

Pay Gap Gender adalah perbedaan penghasilan rata-rata antara laki-laki dan perempuan. Angka yang stabil untuk kesetaraan gaji antara laki-laki dan perempuan yaitu 14 persen dengan rata-rata laki-laki berpenghasilan lebih banyak $241,50 setiap minggunya daripada perempuan,  Pay Gap Gender menjadi tolak ukur posisi wanita dalam bidang ekonomi yang telah ditetapkan secara internasional. Di Australia kesenjangan upah gender yaitu kesenjangan penghasilan rata-rata perminggu antara perempuan dan laki-laki di seluruh sektor lapangan pekerjaan. Di Australia hampir dua dekade kesenjangan upah gender relatif tetap. Namun, tahun 2018 turun dibawah 18 persen dengan pendapatan rata-rata para perempuan perminggu $ 1,484,80 dan laki-laki $ 1, 695,60.

Faktor penyebab kesenjangan upah  di Australia yang paling menonjol adalah faktor ‘Glass Ceiling’ yaitu penghalang atau hambatan bagi kaum perempuan untuk mencapai puncak karir atau berkurangnya peluang perkembangan karier bagi pekerja perempuan. Selain itu penyebab lainnya adalah gangguan disaat berkarir seperti cuti melahirkan dan melanjutkan pendidikan, perempuan banyak melakukan pekerjaan paruh waktu karena keinginan untuk memiliki penghasilan dan jadwal kerja yang ditawarkan lebih fleksibel agar dapat mengurus pekerjaan rumah tangga. Hal ini menjadi salah satu alasan perempuan Australia memilih untuk bekerja paruh waktu. Pekerjaan yang tidak dibayar kepada perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Pada tahun 2017 sebanyak 7 persen, perempuan Australia menghabiskan lebih banyak waktu melakukan pekerjaan tanpa bayaran, 76 persen pengasuhan anak, 67 persen pekerjaan rumah tangga, 69 persen perawatan orang dewasa dan 57 persen sukarelawan. Hal ini menjadi permasalahan gender.

Diskriminasi gender menjadi pengaruh paling penting dalam kesenjangan upah gender di Australia yang pada tahun 2014 sebanyak 29 persen menjadi 39 persen pada tahun 2017. Sejak tahun 2009 ketidaksetaraan gender menjadi masalah bagi Australia. Gender menjadi dampak bagi jenjang karir, perempuan akan mengalami diskriminasi gender lebih besar daripada laki-laki yang akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan karirnya. Budaya dan hambatan struktural di tempat kerja menjadi alasan mengurangi partisipasinya dalam pekerjaan maupun kemandirian ekonomi karena harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugas rumah tangga. Permasalahan pay gap karena gender bagi masyarakat Australia sebenarnya merupakan tantangan bersama mengingat adanya ketakutan akan usia tua yang berarti munculnya pengangguran.

Pemerintah Australia berupaya untuk mengatasi kesenjangan upah gender di bidang pekerjaan  dengan program kebijakan yang disebut dengan Equal Pay Act yaitu Undang-Undang Ketenagakerjaan  yang bertujuan menghapuskan perbedaan upah berdasarkan jenis kelamin. Namun, kebijakan ini  belum dapat berfungsi secara maksimal dalam mengurangi kesenjangan upah gender. Sejak tahun 2009 telah ada pengembangan kebijakan lebih lanjut yang berkaitan dengan pekerjaan perempuan dan keluarga di Australia. Salah satu upaya dalam menangani permasalahan pekerjaan dan tetap melakukan pekerjaaan rumah tangga adalah dengan pekerjaan paruh waktu. Pekerjaan paruh waktu memiliki sistem keuangan yang buruk sehingga mempersulit jika ingin berpindah ke perkerjaan full time. Perempuan Australia memiliki kemungkinan untuk melakukan pekerjaan paruh waktu, sedangkan sebanyak 37 persen perempuan Australia merupakan pekerja full time.

Kesenjangan upah gender di Australia menurun hingga 14,1 persen namun pada faktanya kesenjangan upah gender di Australia tetap tinggi karena kesenjangan gaji dihitung dengan membandingkan pendapatan rata-rata antara perempuan dan laki-laki. Di Australia, keluarga yang memiliki struktur ‘Neo-tradisional’ dengan laki-laki bekerja full time dan perempuan hanya bekerja paruh waktu dan masih melakukan pekerjaan rumah tangga, Gambaran inilah yang masih menjadi tipe pasagan yang dominan di Australia. Selain itu, sifat pekerjaan yang tersedia di Australia masih sangat terlihat menurut gender. Banyak industri yang pekerjanya didominasi oleh satu jenis kelamin, hanya 46,5 persen pekerja di Australia yang bekerja di tempat kerja yang terdiri lebih dari satu gender. Hal ini berdampak signifikan pada kesenjangan upah gender karena pekerjaan yang didominasi oleh perempuan secara signifikan dibayar lebih rendah. Perempuan yang bekerja di industry dengan dominasi perempuan menerima upah lebih rendah daripada yang berkeja di industry yang didominasi oleh laki-laki.

Dengan demikian persoalan ketidaksetaraan gender bukan hanya terjadi di negara-negara berkembang. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perempuan Indonesia untuk bangkit menunjukkan talentanya agar bisa lebih mandiri.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *