PETANI PEREMPUAN SIDOHARJO DAN PRANATA MANGSA

Banyak orang yang tidak tahu pranata mangsa. Apa itu pranata mangsa dan manfaatnya apa bagi kehidupan sehari-hari?

Nah, untuk mengulas mengenai pranata mangsa, silakan anda baca baik-baik uraian di bawah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa dilepaskan dari lingkungan alam ymang ada di sekitarnya. Perubahan lingkungan alam akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia, demikian juga sebaliknya. Seringkali kondisi alam yang berubah justru disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak mampu menjaganya atau bahkan merusak. Indonesia sebagai negara yang tergolong agraris sangat membutuhkan keseimbangan alam sebagai sarana untuk menopang kehidupan. Di sini dibutuhkan upaya masyarakat untuk menjaga harmonisasi dengan alam agar tercipta kehidupan yang lebih mapan.

Masyarakat sampai sekarang banyak yang belum memahami tentang perubahan iklim. Petani, khususnya yang perempuan, umumnya hanya berperan sebagai petugas yang menanam padi di sawah. Pengelolaan pertanian selanjutnya seperti pemupukan, pengairan bahkan saat panen banyak yang dilakukan oleh petani laki-laki. Peran perempuan yang terbatas tersebut memiliki pengaruh dalam produktivitas pertanian karena ketika terjadi kesalahan dalam mengatur jarak tanam antara bibit padi yang satu dengan yang lainnya, maka hasil yang diperoleh juga berbeda.

Saat ini permasalahan besar yang dihadapi oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia adalah perubahan iklim. Iklim yang berubah ditandai dengan peningkatan curah hujan dalam periode waktu yang bergeser dari masa sebelumnya. Curah hujan yang tinggi memiliki pengaruh besar terhadap produksi tanaman. Seperti dalam penelitian Hidayati (2015) yang mengutip pendapat Suberjo bahwa perubahan cuaca dan pemanasan global dapat menurunkan produksi tanaman hasil pertanian antara 5-20 persen. Perubahan iklim yang tidak menentu pada tingkatan ekstrim menjadi faktor utama terjadinya kegagalan panen. Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi produktivitas dan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.  

Isu perubahan iklim bagi petani merupakan fenomena alam yang belum bisa diamati, diduga, dan diantisipasi. Berdasarkan penelitian dari Yoeke Kusumayanti dan Masroni (2015) mengenai tanggapan para petani dari wilayah Wareng, Wonosari, Gunung Kidul terkait perubahan iklim adalah: (1) petani telah menyadari adanya perubahan iklim yang sulit diprediksi; (2) petani belum mengetahui apa penyebab perubahan iklim; (3) dalam jumlah yang tidak banyak, masih ada petani yang mengikuti kalender pranata mangsa sebagai pedoman dalam budidaya tanaman pertanian; (4) kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani terkait perubahan iklim; (5) petani belum mempunyai kemampuan untuk menghadapi perubahan iklim. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa kerugian yang dialami petani terkait perubahan iklim adalah (1) penundaan masa tanam padi sekitar satu sampai dua bulan; (2) bibit yang terlanjur disebar ada yang mengalami kematian; (3) penurunan produksi tanaman pangan; (4) penurunan penghasilan petani; (5) kemungkinan terjadinya kelaparan dan kemiskinan.

Isu Gender Dalam Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan identik dengan pertanian. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat mengharuskan penggunaan tanah yang juga terus meningkat. Dalam sistem pertanian masyarakat pedesaan Asia, Holzner (2016) menjelaskan adanya penanaman padi dengan bajak untuk menggambarkan sistem sosial yang patriarkhal. Partisipasi perempuan dalam pertanian relatif rendah karena   hanya digunakan pada saat awal dan akhir proses bertani khususnya padi. Pada kondisi seperti ini, petani perempuan umumnya berstatus sebagai petani kecil (Holzner, 2016). Petani kecil bercirikhaskan penghasilan minim dan tidak memiliki power atau kesempatan untuk terlibat banyak dalam pengurusan lahan pertanian. Dengan kata lain, petani kecil akan sangat tergantung pada belas kasihan petani utama yang umumnya laki-laki.

Masyarakat pedesaan memerlukan sentuhan pemerintah dan pihak-pihak yang berkompeten guna me-ningkatkan kesejahteraan. Petani perempuan dalam hal ini memerlukan pendampingan dan pelatihan guna meningkatkan kemandirian dan daya tahan. Strategi GAD sangat sesuai untuk meningkatkan kemandirian para petani perempuan guna menghadapi perubahan iklim. Artinya penggunaan kearifan lokal yang ditopang dengan bantuan dari pemerintah dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dengan produk pertanian sangat diperlukan.

Konsep Pranata Mangsa

Kearifan lokal sebagai kebijakan lokal menjadi pengetahuan berdasarkan pengalaman masyarakat lebih dari satu generasi untuk tumbuh sebagai filosofi desa. (Phongphit dan Nantasuwan 2002a; 2002b; Na Talang 2001). Filosofi tersebut menjadikan kearifan lokal sebagai panduan hidup masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari dan dalam membangun hubungan dengan keluarga, tetangga, dan orang lain yang berada dalam desa dan lingkungannya. Dinamisnya kearifan lokal berubah sejalan dengan waktu, tergantung pada tatanan dan ikatan sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat lokal.

Kearifan lokal dalam pengolahan pertanian salah satunya adalah penggunaan kalender pranata mangsa. Pranata mangsa merupakan salah satu unsur dari kearifan lokal yang telah berkembang lama dalam tradisi masyarakat Jawa Tengah, yang berkaitan erat dengan pertanian. Pranata mangsa berasal dari bahasa Jawa, terdiri dari dua kata yaitu pranata dan mangsa. Pranata berarti ketentuan/aturan dan mongso berarti musim. pranata mangsa atau aturan waktu musim digunakan oleh para petani Jawa yang didasarkan pada naluri yang diajarkan oleh leluhur dan digunakan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. pranata mangsa dalam padanan bahasa Indonesia, dibuat berdasarkan pergerakan matahari yang bergeser dari ekuator ke utara dan selatan dalam kurun waktu selama enam bulan. Ada beberapa nilai penting yang terdapat dalam kalender pranata mangsa sehingga penting bagi petani untuk mengelola pertanian (Suhartini, 2009), yakni: (1) pranata mangsa dapat memberikan arahan pada petani untuk bercocok tanam mengikuti tanda-tanda alam dalam mangsa yang bersangkutan. Ketentuan pranata mangsa seperti kalender pada umumnya yang dalam kurun waktu satu tahun terbagi menjadi 12 ‘mangsa’, namun jumlah harinya berbeda-beda; (2) aturan yang terdapat dalam kalender pranata mangsa mengajarkan kepada petani untuk menjaga keselarasan alam dengan tidak “memperkosa” tanah untuk lahan bercocok tanam; meskipun sarana-prasarana mendukung, seperti air dan saluran irigasinya. Artinya, pranata mangsa menuntun petani untuk membiarkan tanah dikosongkan untuk memperbaiki kondisinya dalam waktu sementara tanpa ditanami, meski tetap diberi pupuk untuk menjaga kesuburannya.

Sindhunata (2011) menjelaskan secara lebih rinci mengenai pembagian bulan sesuai kalender pranata mangsa yakni: (1) mangsa kasa atau kaji; (2) karo; (3) katelu; (4) kapat; (5) kalima; (6) kanem; (7) kapitu; (8) kawolu; (9) kasanga; (10) kasapuluh; (11) apit lemah atau hapit lemah atau dhesta; (12) apit kayu atau hapit kayu atau saddha. Sesuai dengan kalender pranata mangsa, bukan hanya dikenal pembagian waktu menjadi 12 mangsa; namun juga terdapat empat musim yakni: (1) katigo atau musim kering; (2) labuh atau musim ketika hujan sering turun; (3) rendheng sebagai musim dengan curah hujan tinggi. Pada musim rendheng ini, curah hujannya lebih banyak dibandingkan dengan labuh. (4) mareng sebagai masa peralihan antara musim penghujan ke kemarau yang ditandai dengan semakin sedikitnya hujan yang turun. Rincian dari kalender pranata mangsa bukan hanya berhenti sampai di sini, namun masih terdapat pembagian waktu sesuai dengan keempat musim tersebut.

Manfaat Pranata Mangsa Bagi Petani Perempuan Mojoreno

Masyarakat Jawa Tengah yang memiliki latar belakang pertanian telah diwarisi suatu pengetahuan bermanfaat yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dikatakan sebagai warisan mengingat ajaran ini telah dilaksanakan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut yang lebih dikenal sebagai kalender pranata mangsa lebih sering disebut sebagai aturan dalam pengelolaan tanah. Masyarakat dari Desa Mojoreno, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah selama ini masih ada yang menggunakan aturan pranata mangsa. Selama ini tradisi yang berlaku bagi masyarakat di dusun tersebut adalah menjadikan pranata mangsa sebagai pedoman untuk menanam padi dan palawija. Padi dan palawija menjadi pilihan utama karena merupakan makanan pokok masyarakat Jawa. Kalender pranata mangsa dijadikan sebagai pedoman petani perempuan Desa Mojoreno. 

Masyarakat pedesaan hanya melihat pengolahan pertaniaan saat ini lebih sulit karena satu tahun hanya bisa panen dua kali dengan curah hujan yang tidak lagi sesuai dengan perkiraan. Kalender pranata mangsa masih dilestarikan walaupun tidak banyak yang menggunakan karena petani perempuan yang hanya berstatus sebagai buruh sangat tergantung pada keputusan dari petani besar yakni pemilik sawah dan petani utama yang umumnya laki-laki. Dengan kata lain petani perempuan yang tergabung dalam kelompok tani belum memiliki kesempatan dan kemandirian untuk memutuskan sendiri kapan waktu untuk mengelola lahan pertanian. Kelompok tani sebagai wadah petani perempuan mau dan siap berkembang bilamana ada pihak-pihak yang lebih partisipatif, turut ambil bagian dalam memberdayakan anggotanya serta meningkatkan kesadaran masyarakat setempat akan kedudukan perempuan yang sama dengan laki-laki.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kalender pranata mangsa merupakan refleksi dari masyarakat Jawa terhadap tanda-tanda alam untuk menentukan penghitungan musim yang akan digunakan dalam bercocok tanam. Pranata mangsa dilakukan oleh nenek moyang dengan cara niteni atau mengamati tanda-tanda alam sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap Tuhan. Ada dua hal yang menyebabkan semakin sedikitnya masyarakat menggunakan aturan pranata mangsa dalam pengelolaan pertanian. Pertama, karena modernisasi dalam pertanian dan kerumitan tersendiri dalam penghitungan pranata mangsa. Kedua, fenomena iklim global yang memengaruhi tanah air seperti El Nino, La Nina, Dipole Mode, Madden Julian Oscillation (MJO) serta sirkulasi Monsun Asia-Australia, sebagai daerah pertemuan angin antartropis atau Inter-Tropis Convergence Zone (ITCZ) serta kondisi suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia (Minani, 2017).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *