Manfaat Media Gambar Tentang Organ Pernapasan Manusia

Wiyarti

Pengantar
Banyak siswa SD bahkan sampai kelas V belum paham tentang organ pernapasan manusia. Nilai ulangan banyak yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena minat siswa terhadap mata pelajaran IPA sangat rendah atau bisa juga guru kurang jelas dalam menyampaikan mata pelajaran tersebut,sehingga anak tidak tertarik dengan materi yang disampaikan.
Kondisi seperti yang diuraikan di atas yaitu rendahnya penguasaan materi IPA dengan Kompetensi Dasar tersebut tidak sepenuhnya merupakan kesalahan anak. Pembelajaran tentang fungsi organ pernapasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan yang disampaikan belum optimal. Hasil diskusi dengan beberapa teman ditemukan beberapa kemungkinan kekurangan/kelemahan yang menyebabkan rendahnya prestasi siswa pada materi tersebut, antara lain: 1. Rendahnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA, 2. Rendahnya konsentrasi siswa saat proses pembelajaran, 3. Rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep fungsi organ pernafasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan, 4. Siswa bosan dan tidak tertarik dengan penjelasan dari guru, 5. Pemilihan strategi pembelajaran yang tidak tepat, 6. Pemilihan sumber belajar yang kurang tepat.
Berdasarkan beberapa kemungkinan kekurangan/kelemahan tersebut, maka ditemukan beberapa alternatif yang mungkin dapat memperbaiki kelemahan proses pembelajaran tersebut: 1). Memperbaiki pengelolaan tata ruang kelas, 2) Merubah sistem pembelajaran individu menjadi pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil, 3) Memilih alat dan sumber belajar yang tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fungsi organ pernafasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan. Dari beberapa alternative di atas memilih alat dan sumber belajar yang tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fungsi organ pernapasan manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan tmpaknya merupakan cara yang paling tepat untuk meningkatkan motifasi belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat.

Hakekat Pembelajaran
Kata belajar kurang lebih berarti perubahan tingkah laku menuju yang lebih baik atau merupakan usaha untuk mengubah dari sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa. Belajar sebagai proses,bukan sekedar pengalaman dan bukan suatu hasil. Sebagai suatu proses berarti terjadi perubahan kualitatif individu,sehingga tingkah lakunya berkembang. Perubahan itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan sikap dan perkembangan cara berpikir. Belajar sebagai suatu proses berarti pula belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan berbagai perbuatan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian seseorang melakukan perbuatan belajar karena mempunyai suatu tujuan. Guru dalam perannya adalah mengarahkan belajar, menunjukkan sumber belajar, menyajikan bahan belajar, dan mendorong seseorang untuk belajar, sehingga seseorang berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan.
Sekolah Dasar (SD) menurut Waini Rasyidi (1993) pada hakikatnya merupakan satuan atau unit lembaga social (social institution) yang diberi amanah atau tugas khusus (specific task) oleh masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan dasar secara sistematis. Mengacu pada tujuan pendidikan nasional dan tujuan nasional, dalam kurikulum Pendidikan Dasar dinyatakan bahwa tujuan operasional pendidikan Sekolah Dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa seuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Berdasarkan tujuan operasional tersebut pendidkan Sekolah Dasar tidak menjalankan fungsi terminal melainkan menjalankan fungsi transisional.
Dari aspek perkembangan kognitif prinsip praktis bagi anak usia Sekolah Dasar adalah: 1) Kurikulum atau proses pembelajaran harus menyajikan bahan ajaran yang sepadan dengan perkembangan anak yang memungkinkan anak tersebut melakukan eksplorasi, berfikir, dan memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak lain dan orang dewasa sehingga bermakna bagi anak itu sendiri. 2) Prinsip praktis yang relevan dengan pembelajaran, yaitu anak usia SD harus diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok kecil, dan guru menciptakan kemudahan berdiskusi diantara anak, sehingga anak dihadapkan pada kegiatan aktif dari pada kegiatan pasif. Kebermaknaan dalam proses pembelajaraan dapat dilakukan dengan merancang suatu tugas yang bermakna sehingga pembelajaran berfokus pada salah satu pencampaian kompetensi belajar.  

Hakikat Pembelajaran IPA
Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa hakikat sains adalah produk, proses, dan penerapannya (teknologi), termasuk sikap dan nilai yang terdapat didalamnya. Produk sains yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori dapat dicapai melalui penggunaan proses sains, yaitu melalui metode-metode sains atau metode ilmiah (scientific methods), bekerja ilmiah (scientific inquiry). Banyak orang berpendapat bahwa sains memberikan kesempatan bagi orang yang mau belajar berbuat, berpikir dan bertindak seperti ilmuwan (scientist). Pada hakikatnya Ilmu Pengetahuan Alam (sains) sangat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat melalui teknologi, karena teknologi sangat erat hubungannya dengan bekerja ilmiah. Bekerja ilmiah sesungguhnya adalah perluasan dari metode ilmiah.
Di Indonesia metode ilmiah sudah ditekankan dalam IPA sejak kurikulum 1975. Dalam kurikulum 1994, lingkup proses dan konsep diintegrasikan dalam setiap rumusan tujuan pembelajaran (umum) yang harus diukur pencapaiannya.
Pendidikan IPA di sekolah dasar bertujuan agar siswa menguasai pengetahuan, fakta, siswa dalam mempelajari diri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mencari tahu dan berbuat sehingga mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Berdasarkan kurikulum 2004, IPA seharusnya dibelajarkan secara inkuiri ilmiah (scientivic inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup.

Hakekat Prestasi Belajar
Secara harfiah prestasi belajar terdiri dari kata ‘prestasi’ dari kata ‘prestatie’ (bahasa Belanda) dan ‘belajar’. Kata ‘prestasi’ berarti hasil usaha. Sedangkan kata ‘belajar’ menurut Slameto (2003) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain makna tersebut Slameto juga mengartikan kata belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) dinyatakan bahwa ‘prestasi belajar’ adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar dapat diperoleh melalui proses evaluasi atau penilaian terhadap suatu kegiatan pembelajaran yang meliputi aspek pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap selama proses belajar sehingga dapat diketahui hasil dari kegiatan pembelajaran tersebut. Prestasi belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang berupa nilai secara kualitatif maupun kuantitatif yang dapat menunjukkan berhasil atau tidaknya suatu kegiatan pembelajaran.

Media dalam pembelajaran IPA
Media dipandang sebagai media instruksional apabila membawa pesan yang mengandung tujuan instruksional. Sedangkan tujuan penggunaan media secara umum adalah untuk memfasilitasi komunikasi. Dalam pembelajaran tujuan penggunaan media antara lain untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, memberikan arahan tentang tujuan yang akan dicapai, menyediakan evaluasi mandiri, member rangsangan kepada guru untuk kreatif, menyampaikan materi pembelajaran, membantu pelajar yang memiliki kekhususan tertentu. Format media adalah bentuk fisik yang berisi pesan untuk disampaikan atau Format ditunjukkan, misalnya berupa clip charts, slide, audio, film, video, atau komputer multi media, yang dapat bersifat visual tidak bergerak, visual bergerak, kata-kata yang tercetak, atau kata-kata yang disampaikan secara lisan.
Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Dalam laporan ini penulis dalam melakukan perbaikan pembelajaran menggunakan media gambar untuk memperjelas pemahaman siswa. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Menurut Schramm, klasifikasi media ada dua jenis,yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televisi, komputer). Jadi, gambar merupakan media visual sederhana yang mempunyai beberapa keunggulan dan juga kelemahan. Keunggulan dari media gambar antara lain: a. Media ini dapat menerjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi konkret, b Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, surat kabar, kalender, dan sebagainya, c.  Mudah menggunakannya dan tidak memerlukan peralatan lain, d. Tidak mahal, bahkan mungkin tanpa mengeluarkan biaya. e.  Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua tema. Sedangkan kelemahan dari media gambar adalah: a. Terkadang ukuran gambar terlalu kecil jika digunakan pada kelas besar, b. Cepat rusak jika penggunaanya tidak hati-hati.

Diskusi
Tingkat pemahaman siswa SD terhadap materi organ pernapasan manusia mengalami kenaikan setelah menggunakan media berupa gambar. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media gambar kepada siswa kelas V SDN Gubug tentang organ pernapasan manusia memberikan hasil yang lebih baik dan optimal. Penerapkan metode yang komplek dalam pembelajaran ini yaitu menggunakan media gambar dipadu dengan metode diskusi dan demonstrasi. Untuk lebih jelasnya dapat penulis uraian sebagai berikut:
1)Pada pembelajaran awal, siswa yang tuntas belajar sebanyak 9 siswa dari 27 siswa.
2)Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 16 siswa dari 27 siswa.
3)Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 26 siswa dari 27 siswa.
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan pemahaman terhadap materi organ pernapasan manusia yang sangat signifikan terbukti dari rata-rata hasil yang diperoleh siswa pada awal siklus adalah 64,81 dengan ketuntasan 33,33% sedangkan pada tindakan yang pertama rata-rata meningkat menjadi 71,85 dengan ketuntasan mencapai 59,25% dan pada tindakan siklus 2 rata-rata naik lagi menjadi 80,00 dengan ketuntasan mencapai 96,30%.
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran setelah menggunakan media gambar dipadu dengan metode diskusi dan demonstrasi, mutu pembelajaran dapat ditingkatkan. Dengan demikian 1.Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 1 Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali pada materi pembelajaran organ pernapasan manusia meningkat.Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada materi tersebut.
2.Perilaku siswa kelas V SD Negeri 1 Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali setelah mengikuti pembelajaran dengan penggunaan sumber belajar berupa media gambar mengalami perubahan. Perubahan perilaku siswa ini ditunjukkan dari data non tes melalui observasi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *