Memahami Materi Passive Voice Melalui Metode Cooperative Learning

Endah Nur Hayati

Pendahuluan
Perkembangan akhir-akhir ini ada gejala bahwa mutu pendidikan kita merosot. Ini dapat dilihat bahwa hasil Ujian Akhir Nasional Tahun 2013/2014 masih banyak siswa yang tidak lulus, sehingga banyak siswa yang belum bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau untuk persyaratan mencari kerja. Mengingat tuntutan tersebut maka proses belajar mengajar di sekolah perlu mendapatkan perhatian yang serius untuk penanganannya. Di sini guru sebagai aktor dikelas sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Oleh karenanya, maka guru hendaknya selalu melakukan pembaharuanpembaharuan untuk menemukan cara-cara baru, media baru, dan strategi barn untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Fokus permasalahan yang diprioritaskan dalam penelitian ini adalah adanya keinginan untuk mengembangkan pembelajaran untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi guru di kelas.
Dalam kenyataannya, kemampuan dalam memahami materi Passive voice siswa rendah, hal itu dapat dilihat dari nilai ulangan harian dan raport sebelumnya. Hal tersebut di atas disebabkan oleh guru yang hanya menggunakan metode ceramah, urutan materi mengajar tidak runtut, guru hanya menggunakan papan tulis, dan guru tidak menggunakan metode yang tepat. Dalam penelitian ini, kajian diarahkan kepada pengembangan metode pengajaran. Cooperative learning, karena faktor penyebab yang lain menjadi bidang kajian. Tersendiri.
Di dalam pembelajaran cooperative siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu. Kelas disusun dalam kelompok kecil dengan kemampuan yang heterogen dan siswa tetap berada dikelompoknya dalam beberapa minggu untuk diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, menjadi pendengar yang aktif, memberikan penjelasan pada teman satu kelompok, berdiskusi dan sebagainya selama cooperative learning, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketentuan materi yang disampaikan guru dan Baling membantu teman sekelompok dalam mencapai ketuntasan.

Perkembangan Psiko – Fisik Siswa
Sebagian ahli menyatakan perkembangan sebagai suatu proses yang berbeda dengan pertumbuhan. Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ j asmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Jadi dapat ditekankan bahwa arti perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:
1.Perkembangan Motor
Yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam ketrampilan fisik anak. Perkembangan fisik anak berlangsung lebih kurang selama 2 dasawarsa sejak lahir. Semua kapasitas yang dibawa anak dari rahim ibunya baik jasmani maupun rohani adalah modal dasar yang tampak selalu berfaedah bagi kelanjutan perkembangan anak.
2.Perkembangan Kognitif
Istilah kognitif berasal dari cognition yang padanannya knowing berati mengetahui. Dalam arti luas kognitif berarti perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Keiser dalam Muhibbin Syah, 1999). Jadi perekembangan kognitif dapat diartikan sebagai fungsi perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau kecerdasan otak anak. Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Piaget dalam merespon lingkungan diperlukan proses yang aktif maupun interaksi dengan lingkungannya, selain itu jugs diperlukan keseimbangan dalam penyesuaian aprekasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons (Piaget dalam Muhibbin Syah, 1999).
3.Perkembangan Sosial dan Moral
Yaitu proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun kelompok. Dari upaya penumbuh kembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal tak mengherankan apabila seorang siswa sering menggantungkan respnnya terhadap pelajaran dikelas pada pandangannya terhadap teman-temannya sekelasnya. Positif atau negatifnya pandangan siswa pada guru dan temantemannya sangat mempengaruhi kualitas hubungan sosial siswa dengan lingkungan kelas maupun sekolahnya.

Model Pembelajaran Cooperative learning
Belajar cooperative learning dapat diartikan sebagai serangakaian strategi belajar yang digunakan siswa dalam membantu teman-teman mereka dalam mempelajari sesuatu, dalam hal ini belajar cooperative dapat dikatakan sebagai “Pengajaran Tetuan Sebaya”. Di dalam pembelajaran cooperative siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu. Kelas disusun dalam kelompok kecil dengan kemampuan yang heterogen dan siswa tetap berada dikelompoknya dalam beberapa minggu untuk diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, menjadi pendengar yang aktif, memberikan penjelasan pada teman satu kelompok, berdiskusi dan sebagainya selama kooperative learning, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketentuan materi yang disampaikan guru dan saling membantu teman sekelompok dalam mencapai ketuntasan.
1.Ciri – ciri Pembelajaran Cooperative learning
Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran cooperative memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Siswa bekerja sama dalam kelompok secara cooperative untuk menyelsaikan materi belajarnya. 2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi, sedang, dan rendah. 3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku jenis kelamin berbeda-beda. 4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
2.Tahapan Pembelajaran Cooperative learning
Tahap-tahap dalam pembelajaran cooperative adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan Tujuan Pembelajaran Khusus yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar. 2) Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. 3) Guru menjelaskan kepada siswa bagaiman caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan taransisi secara efisien. 4) Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. 5) Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. 6) Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Keberhasilan cooperative learning ini menuntut kegiatan yang cooperative dari beberapa individu tersebut. Adapun pengelompokan itu biasanya didasarkan pada:
a.Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya.
Agar penggunaannya dapat lebih efisien dan efektif, maka siswa perlu dijadikan kelompok-kelompok kecil. Karena bila seluruh siswa sekaligus menggunakan alat-alat itu tidak mungkin. Dengan pembagian kelompok mereka dapat memanfaatkan alat-alat yang terbatas itu sebaik mungkin, tanpa Baling menunggu gilirannya.
b.Kemampuan Belajar Siswa
Di dalam satu kelas kemampuan belajar siswa tidak sama. Siswa yang pandai di dalam bahasa Inggris, belum tentu sama pandainya dalam pelajaran sejarah. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masingmasing, agar setiap siswa dapat sesuai dengan kemampuannya.
c.Minat Khusus
Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan, hal mans yang satu pasti berbeda dengan yang lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada anak yang minat khususnya sama, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok, agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama minat khusus tersebut.
d.Memperbesar Partisipasi Siswa
Di sekolah pada tiap kelas biasanya jumlah siswa terlalu besar, dan kita tahu bahwa jumlah jam pelajaran adalah sangat terbatas, sehingga dalam jam pelajaran yang sedang berlangsung sukar sekali untuk guru akan mengikutsertakan setiap murid dalam kegiatan itu. Bila itu terjadi siswa yang ditunjuk guru akan aktif, yang tidak disuruh akan tetap pasif saja. Karena itulah bila berkelompok, dan diberikan tugas yang sama pada masing-masing kelompok, maka banyak kemungkinan setiap siswa ikut serta melaksanakan dan memecahkannya.
e.Pembagian Tugas Atau Pekerjaan.
Di dalam kelas bila guru menghadapi suatu masalah yang meliputi berbagai persoalan, maka perlu tugas membahas masing-masing persoalan pada kelompok, sesuai dengan jumlah persoalan yang akan dibahas. Dengan demikian masing-masing kelompok harus membahas tugas yang diberikan itu.
f.Kerja Sama Yang Efektif
Dalam kelompok siswa harus bisa bekerja sama, mampu menyesuaikan diri, menyeimbangkan pikiran/pendapat atau tenaga untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai suatu tujuan untuk bersama pula.
Apakah keuntungan penggunaan teknik cooperative learning itu ?
1.Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah.
2.Dapat memberikan kesempatan pada pada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah.
3.Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
4.Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
5.Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
6.Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
Tetapi disamping itu keunggulan teknik cooperative learning memiliki pula kelemahannya, yaitu:
1.Cooperative learning hanya melibatkan kepada siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.
2.Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda.
3.Keberhasilan strategi cooperative learning ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.
Bentuk-bentuk cooperative learning yang bisa dilaksanakan ialah:
1.Cooperative learning Berjangka Pendek
Bentuk ini dapat disebut pula “rapat kilat” karena hanya mengambil waktu lebih kurang 15 menit, yang mempunyai tujuan untuk memecahkan persoalan khusus yang terdapat pada sesuatu masalah. Umpamanya: ketika instruktur menjelaskan sesuatu pelajaran terdapat suatu masalah yang perlu didiskusikan. Guru dapat menunjuk beberapa siswa, atau membagi kelas mejadi beberapa kelompok untuk membahas masalah itu dalam waktu singkat.
2.Cooperative learning Berjangka Panjang
Pembicaraan disini memakan waktu yang panjang, misalnya memakan waktu 2 hari, satu minggu atau mungkin tiga bulan, tergantung pada luas dan banyaknya tugas yang harus diselesaikan siswa. Apabila siswa telah menyelesaikan tugasnya didalam suatu kelompok, ia boleh memilih membantu kelompok lain sesuai dengan minat mereka.
3.Cooperative learning Campuran
Disini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa. Dalam kooperative learning ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sesuai dengan kemampuan masingmasing sehingga kelompok yang pintar dapat selesai terlebih dahulu tidak usah menunggu kelompok yang lain. Kelompok siswa yang agak lamban, diizinkan menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesuai dengan kemampuannya.
Supaya cooperative learning dapat lebih berhasil, maka harus melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menjelaskan tugas kepada siswa, 2) Menjelaskan apa tujuan cooperative learning itu, 3) Membagi kelas menjadi beberapa kelompok, 4) Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil cooperative learning tersebut, 5) Guru berkeliling selama kooperative learning itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan, 6) Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil cooperative learning. Belajar secara kelompok adalah suatu cara belajar dimana beberapa siswa berkumpul membentuk kelompok belajar untuk berkerjasama dan tukarmenukar pendapat dalam bentuk yang menghasilkan ketetapan yang telah disepakati bersama dalam rangka menyelesaikan tugas atau mengkaji suatu materi pelajaran.

Pengertian Prestasi Belajar
Hasil pembelajaran ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: 1) keefektifan pembelajaran, 2) efisiensi pembelajaran, dan 3) daya tarik pembelajaran. Efisiensi pembelajaran, menurut Degeng pengukurannya dapat diacukan pada indikator-indikator waktu, personalia, dan sumber belajar yang dipakai. Bagaimanapun pengukuran efisiensi waktu hanya bermanfaat jika dikaitkan dengan siswa secara perorangan. Pengukuran efisiensi waktu secara ketat biasanya dilakukan dengan membandingkan pelaksanaan beberapa program yang berbeda dalam jumlah waktu yang sama. Kemudian pencapaian tujuan tiap-tiap program dibandingkan, program yang dapat mencapai program terbanyak dalam waktu tertentu dapat dikategorikan sebagia program yang paling efisien.
Efisiensi personalia diukur berdasarkan jumlah personalia yang dilibatkan dalam perancangan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Dalam pengukuran praktis yang lazim dilakukan, efisiensi personalia diukur berdasarkan rasio guru-siswa dengan standar acuan dari sekolah. Efisiensi penggunaan sumber belajar dapat diukur dari jumlah siswa yang memanfaatkan suatu media dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, pengukuran kebutuhan sarana untuk setiap siswa jugs dapat digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan sumber belajar.
Daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk tetap terus belajar. Daya tarik belajar erat sekali kaitannya dengan daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya. Itulah sebabnya, pengukuran daya tarik pembelajaran dapat dikaitkan dengan dua hal yaitu: 1) daya tarik bidang studi, dan 2) daya tarik kualitas pembelajaran. Daya tarik bidang studi amat tergantung pada karakteristik siswa, yaitu kesesuaiannya dengan bekal kebutuhan pribadi, atau minat. Daya tarik pembelajaran yang berhubungan dengan kualitas pembelajaran merupakan tanggung jawab pengajar. Suatu bidang studi atau kehilangan daya tariknya jika kualitas pembelajarannya rendah, demikian pula sebaliknya. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.Faktor yang berasal dari diri siswa (faktor internal).
Menurut Kartini Kartono (1995 : 1-4) ada 6 faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu:
1).Kecerdasan
Kecerdasan merupakan salah satu aspek penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang siswa mempunyai kecerdasan normal atau diatas normal, maka secara potensial is akan dapat mencapai prestasi yang tinggi di bandingkan dengan siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan dibawah normal, bila potensi kecerdasan tersebut sama-sama digunakan dengan baik.
2).Bakat
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran masalah intelegensi merupakan salah satu masalah pokok, karenanya tidak mengherankan kalau masalah tersebut banyak dikupas orang, baik secara khusus maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan pengupasan masalah-masalah pendidikan dan pengajaran yang lain. Tentang peranan intelegensi itu dalam proses pendidikan, ada yang menganggap demikian pentingnya, sehingga dipandang menentukan dalam hal berhasil dan tidaknya seseorang dalam belajar; sedangkan pada isi lain ada jugs orang-orang yang menganggap intelegensi itu tidak besar pengaruhnya terhadap hal tersebut.
Dipandang dari segi pendidikan, adalah mendesak sekali untuk mengenal bakat-bakat anak didik se-awal mungkin agar kepada mereka dapat diberikan pengalaman belajar yang paling sesuai dengna bakatnya masing-masing. Orientasi yang lebih luas mengenai berbagai pendapat tentang bakat menunjukkan, bahwa analisis tentang bakat selalu, seperti analisis psikologis yang lain-lain, merupakan analisis tentang tingkah laku. Maka ada kecenderungan diantara para ahli sekarang untuk mendasarkan pengukuran bakat itu pada pendapat yang menyatakan bahwa pada setiap individu sebenarnya terdapat semua faktor yang diperlukan untuk berbagai macam lapangan, hanya dengan kombinasi, konstelasi, dan intensitas yang berbedabeda.
Karena. itu biasanya yang dilakukan dalam diagnosis mengenai bakat adalah membuat urutan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu. Dalam usaha mengungkap bakat, prosedur yang biasa ditempuh oleh para ahli adalah sebagai berikut:
-dilakukan analisis jabatan (job analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang berhasil dalam lapangan yang bersangkutan;
-dari hasil analisis itu dibuat pencandraan tentang jabatan (job discription) atau pencandraan lapangan studi;
-dari pencandraan jabatan atau pencandraan lapangan studi itu diketahui persyaratan apa yang hares dipenuhi supaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu;
-dari persyaratan itu sebagai landasan disusun alat pengungkapnya (alat pengukuran bakat), yang biasa berwujud test.
Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan untuk di kembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan yang nyata. Setiap siswa mempunyai bakat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga kemungkinan hasil belajar siswa yang berbakat dalam ilmu sosail mereka lebih baik nilainya dalam ilmu sosial. Dan bagi siswa yang berbakat dalam ilmu slam akan lebih baik nilainya dalam ilmu slam.
3).Minat dan perhatian.
Minat dan perhatian dalam belajar mempunyai hubungan erat sekali. Kalau seorang siswa mempunyai minat dalam mats pelajaran tertentu, maka ia akan memperhatunnya. Namur sebaliknya, bila siswa tidak berminat, perhatian pada pelajaran yang sedang di sqjikannya ia akan malas untuk memperlajarinya. Hal ini akan mempengaruhi hasil,belajar.
4).Motivasi.
Motivasi merupakan dorongan yang melandasi dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang di inginkan. Siswa yang mempuyai motif belajar yang kuat akan memperbesar kegiatan dan usahanyan untuk mencapai prestasi yang tinggi. Bila motif tersebut makin berkurang, maka berkurang pulalah kegiatan dan usaha serta kemungkinan untuk mencapai prestasi yang tinggi.
5).Cara belajar.
Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi pula oleh cara belajarnya. Seorang siswa yang mempaunyai cara belajar yang efesien, memungkinkan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang memppunyai cara belajar yang tidak efesien. Cara belajar yang efesien antara lain : berkonsentrasi sebelaum dan pada saat belajar, segera mempelajari kembali bahan yang sudah diterima pada saat belajar, membaca dan mempelajari kembali bahan yang sedang dipelajari dan berusaha menguasai dengan sebaik-baiknya, mencoba menyelesaikan soalsoal dan sebagainya.

b.Faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal)
Menurut Kartini Kartono (1985) Faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal) adalah:
Lingkungan
Lingkungan ada bermacam-macam dan oleh sebab itu perlu dibedakan menjadi :
1).Lingkungan Alam
Keadaan alam yang tenang dan sejuk ikut mempengaruhi kesegaran jiwa siswa, sehingga memungkinkan hasil belajarnya akan lebih ringgi dari pada kalau lingkungan itu gaduh dengan udara yang panas dan kotor. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Belajar pada keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. Di Indonesia, orang cenderung berpendapat bahwa belajar pada pagi hari akan lebih baik hasilnya daripada belajar pada sore hari. Di samping lingkungan alami, lingkungan fisik juga berpengaruh terhadap proses belajar.
2).Lingkungan keluarga
Keluarga mempunyai pengaruh baik keberhasilan belajar siswa, apabila keluarganya khususnya orang tua bersifat merangsang, mendorong dan membimbing terhadap aktivitas belajar anaknya. Hal ini memungkinkan diri anak untuk mencapa prstasi belajar yang tinggi. Hal ini yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga.
3).Lingkungan masyarakat
Cukup banyak pengaruh dari masyarakat yang dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya disekitarnya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka, demikian pula sebaliknya. Seringkali kita jumpai bahwa teman bergaul dapat membawanya ikut-ikutan dan bergiat dalam bidang-bidang tertentu yang tidak ada manfaatnya, sehingga hal tersebut tidak jarang mengalahkan belajarnya.

Pembahasan
Metode cooperative learning tampaknya pengajaran dengan menggunakan metode ini membuat siklus yang lebih bergairah daripada jika diajar dengan teknik belajar kelompok yang biasa dilakukan sebelumnya. Di dalam penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar siswa aktif dalam mengerjakan tugas kelompok dan cukup banyak siswa yang mengacungkan Langan untuk menjawab pertanyaan guru. Tetapi dalam penelitian ini diketahui pula bahwa frekuensi untuk bertanya masih kurang. Kemungkinan hal ini disebabkan budaya malu masih sangat kuat di dalam diri siswa.
Dari segi guru, tampaknya pengajaran dengan metode cooperative learning sangat memudahkan karena guru lebih mudah mengarahkan jalannya proses belajar mengajar.Dalam pembelajaran cooperative, siswa lebih mudah menemukan dan memahami pokok bahasan yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan teman-temannya dan siswa secara rutin bekerja secara berkelompok untuk saling membantu memecahkan masalah yang kompleks.
Penekanan sosial dalam belajar dan penggunaan kelompok sejawat untuk memodelkan. Cara berpikir yang sesuai dan saling mengemukakan dan meluruskan kekeliruan pengertian. Respon siswa terhadap pembelajaran dengan metode cooperative learning dikatakan positif, karena sebagian siswa menyatakan lebih mudah dan lebih tertarik dalam proses belajar mengajar. Hal ini bisa dipahami karena proses belajar mengajar menjadi bergairah dan tidak membosankan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *