Meningkatkan Motivasi Belajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together untuk Kelas X

Koes Wardiyanti

SMK Negeri 4 Surakarta merupakan sekolah kejuruan yang memiliki bidang pariwisata dan memiliki empat jurusan, yaitu tata kecantikan, tata busana, tata boga dan akomodasi  perhotelan. SMKN 4 Surakarta yang merupakan sekolah yang mengembangkan peserta didik handal di dunia

kerja membutuhkan suatu proses belajar mengajar yang mampu mengembangkan 

peserta didik untuk mentransfer ilmu yang diperoleh dari seorang guru, pada mata pelajaran normatif, adaptif serta produktif. 

Mata pelajaran prakarya  dan  kewirausahaan  merupakan  mata pelajaran  kelompok B yang menggunakan prinsip belajar prakarya dan kewirausahaan. Mata pelajaran ini 

mempunyai arah pembelajaran dalam mengembangkan pengetahuan dan melatih 

keterampilan kecakapan hidup berbasis seni dan teknologi berbasis ekonomis dan mampu mempunyai produk yang mempunyai nilai jual kepada masyarakat. Sedangkan dikaitkan dengan kompetensi inti yang ada pada silabus prakarya dan kewirausahaan harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills

Pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan bagi saya dapat dikategorikan dalam dua bagian besar, sebagai hard skill-nya ialah prakarya dan soft skill-nya adalah kewirausahaan. Pada proses pembelajaran mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan intensitas ceramah yang dilakukan oleh guru terlalu banyak dalam pembelajaran di X Tata Boga 3 SMK Negeri 4 Surakarta. Siswa lebih banyak diam mendengarkan ceramah dari guru.

Kondisi seperti ini akan mengarah kepada adanya  pembelajaran  prakarya  dan  kewirausahaan  yang kurang  menarik,  kurang  menantang dan cenderung tidak bermakna bagi siswa, siswa masih banyak yang malas mendengarkan, berbicara sendiri dan suasana kelas yang kurang kondusif, sehingga pembelajaran yang ada belum mampu menggugah motivasi belajar siswa. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk mencari penyebabnya kemudian mendorong siswa agar mau melakukan apa yang seharusnya dilakukan yaitu belajar.

Di SMK Negeri 4 Surakarta salah satu SMK Negeri di Surakarta yang juga sudah 3 tahun dalam melaksanakan kurikulum 2013. Di kelas X Tata Boga 3 yang akan di teliti ini siswa sudah

melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013, tetapi karena ada perbedaan  karakteristik  cara  mengajar  pada jenjang pendidikan sebelumnya yang belum melaksanakan kurikulum tersebut.

Oleh karena itu dalam pembelajarannya dibutuhkan strategi khusus untuk menarik minat siswa dalam mengikuti proses belajar prakarya dan kewirausahaan. Hal ini dikarenakan siswa tidak hanya belajar secara mendengarkan, membaca dan menulis tetapi butuh kepedulian terhadap apa yang ada dilingkungan untuk bisa diciptakan sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai estetika.

Pembelajaran prakarya disini siswa haruslah bersifat kooperatif dan aktif untuk bisa mendapatkan prestasi belajar yang meningkat terutama pada nilai pengetahuan. Agar siswa lebih dapat lagi mengasah kreativitasnya diperlukan sebuah metode pembelajaran baru yang menekankan keaktifan siswa. Dengan diterapkannya variasi metode pembelajaran diharapkan akan menumbuhkan motivasi dan minat siswa dalam proses belajar meengajar untuk meningkatkan prestasi belajarnya. 

Selain itu metode pembelajaran yang bervariasi akan  lebih  meningkatkan  keaktifan  siswa  serta  membuat  siswa  dapat  memahami  materi  yang diberikan sehingga bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu  metode pembelajaran yang  mebih  menekankan  keaktifan  siswa  adalah  metode  pembelajaran  kooperatif  model Numbered Heads Together (NHT). Numbered Heads Together (NHT) adalah metode pembelajaran dengan sistem penomoran yang mengutamakan  pola  interaksi  antar  siswa  dalam  kelompok  siswa  dan selalu bekerjasama secara kooperatif dalam menjawab pertanyaan guru.

Prestasi Belajar

Belajar yaitu  perbuatan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Jadi belajar merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan suatu perbuatan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. Untuk dapat disebut belajar maka perubahan harus merupakan akhir dari pada periode yang cukup panjang. 

Berapa lama waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhasi-hari, berminggu-minggu,  berbulan-bulan  atau  bertahun-tahun.  Belajar  merupakan suatu proses yang  tidak  dapat dilihat dengan nyata proses itu terjadi dalam diri seseorang   yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri indivdu dalam penguasaan memperoleh hubungan-hubungan baru.

Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian  prestasi.  Prestasi  adalah  hasil yang telah  dicapai.  Dengan  demikian  bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu. Prestasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan). Tingkat kemampuan siswa adalah proses belajarnya dapat diketahui dari proses belajarnya. 

Menurut Muhibbin Syah (2003) prestasi belajar adalah suatu tingkat keberhasilan yang dicapai  seseorang.  Sedangkan  Nana  Syaodih  Sukadinata (2003) prestasi  atau  hasil  belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai. Setiap individu belajar menginginkan hasil yang baik mungkin. Oleh karena itu setiap individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil degna baik.

Siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar  maupun hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar tertentu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mendukung. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri siswa sendiri ataupun dapat berasal dari luar diri siswa. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa misalnya  minat, motivasi, kondisi kesehatan, rasa ingin tahu dan sebagainya.

Faktor yang berasal dari luar diri siswa antara lain kondisi sekolah, sarana dan  prasarana sekolah, metode pembelajaran, dan media pembelajaran. Menurut Syaiful Bahri  Djamarah (2008) faktor- faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah sebagai berikut: 1) Faktor lingkungan (lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya); 2) Faktor instrumental (kurikulum, program, sarana dan fasilitas, dan guru); 3) Kondisi fisiologis; 4) Kondisi psikologis.

Motivasi Belajar

Istilah  motivasi  menunjuk kepada  semua  gejala yang terkandung dalam stimulus  tindakan kearah tujuan tertentu di mana  sebelumnya  tidak ada  gerakan menuju  kea rah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di di luar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah di dalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan dan mengontrol minat. Suatu prinsip  yang mendasari tingkah  laku ialah bahwa  individu selalu  mengambil jalan pendek menuju suatu tujuan. 

Orang dewasa mungkin berpandangan bawah di dalam  kelas  para siswa harus  mengabdikan  dirinya  kepada    penguasaan  kurikulum.  Akan  tetapi  para siswa  tidak selalu melihat tugas-tugas sekolah sebagai jalan terbaik  yang menuju kearah kebebasan, produktivitas, kedewasaan atau apa saja yang dipandang mereka sebagai perkembangan yang disukai. Dalam hubungan ini tugas guru adalah menolong mereka untuk memilih topik, kegiatan atau tujuan yang bermanfaat baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

Pembelajaran Kooperatif

Konsep  pembelajaran  kooperatif  (cooperative  learning)  bukanlah  suatu  konsep baru, melainkan  telah  dikenal  sejak  zaman  Yunani  kuno.  Pada  awal  abad  pertama,  seorang  filosofi berpendapat bahwa agar seseorang belajar harus memiliki pasangan. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson dan Johnson dalam Ismail, 2002). 

Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan, dalam hal ini sebagaian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa yakni mempelajari materi pelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran  koopertif tidak sama  dengan  sekedar  belajar dalam kelompok.

Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan efektif. Roger dan  David  Johnson  dalam  Lie  (2002)  mengatakan  bahwa  tidak  semua  kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. 

Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model  pembelajaran  kooperatif  harus  diterapkan.  Kelima  unsur  tersebut  yaitu :  1)  saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab perseorangan, 3) tatap muka, 4) komunikasi antar anggota, 5) evaluasi proses kelompok.

Menurut Stahl dalam Ismail (2002) bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah: Belajar dengan teman. Tatap muka antar teman. Mendengarkan diantara anggota. Belajar dari teman sendiri dalam kelompok. Belajar dalam kelompok kecil. Produktif berbicara atau mengemukakan pendapat. Siswa membuat keputusan. Siswa aktif Sedangkan menurut Johnson dalam Ismail (2002) belajar dengan koopertif mempunyai ciri: Saling  ketergantungan  yang  positif.  Dapat  dipertanggungjawabkan  secara  individu.  Heterogen. Berbagi kepemimpinan. Berbagi tanggung jawab. Ditekankan pada tugas dan kebersamaan. Mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial. Guru mengamati. Efektifitas tergantung kepada kelompok. 

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki ciri- ciri sebagai berikut:  Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan pendapat dan membuat keputusan secara bersama.   Kelompok siswa yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin, dan kemampuan belajar. Panghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok.

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan

yang hendak dicapai :

1.  Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas- tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.

2.  Pengakuan adanya keragaman

Model    pembelajaran    kooperatif    bertujuan    agar    siswa    dapat    menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan

tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik dan tingkat sosial.

3.  Pengembangan keterampilan sosial

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan social siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah berbagi

tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja sama dalam kelompok.

Manfaat-manfaat model pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah, antara lain Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000) adalah :

Rasa harga diri menjadi lebih tinggi. Memperbaiki kehadiran. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil. Konflik antar pribadi berkurang. Pemahaman yang lebih mendalam. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Hasil belajar lebih tinggi

LangkahLangkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen dalam Ibrahim (2000) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti  pertanyaan  lansung  kepada  seluruh  kelas,  guru  menggunakan  empat  langkah  sebagai berikut : (a) Penomoran, (b) Pengajuan pertanyaan,(c) Berpikir bersama, (d) Pemberian jawaban.

Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah sebagai berikut:

Langkah 1. Persiapan

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Langkah 2. pembentukan kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru

memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pretest) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.

Langkah 3. Diskusi masalah

Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan

dipelajari.  Dalam  kerja  kelompok,  setiap  siswa  berpikir  bersama  untuk  menggambarkan  dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban

Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor

yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

Langkah 5. Memberi kesimpulan

Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Langkah 6. Memberikan penghargaan

Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.

Pada kondisi awal ini motivasi belajar siswa masih rendah sekali, pada kondisi ini banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru mereka hanya bercakap-cakap bahkan ada yang mengantuk. Pada  kondisi  ini  guru  menyampaikan  pembelajaran  dengan  menggunakan  metode ceramah yang disertai dengan media Ms Power Point. Media Ms Power Point yang hanya berupa tampilan-tampilan gambar yang bersifat abstrak akan membuat siswa jenuh dalam mendengarkan penjelasan  dari  guru,  sehingga  dengan  kejenuhan  ini  antusias  siswa  dalam  pembelajaran  sangat kurang dan siswa bosan dalam mendengarkan penjelasan dari guru. 

Pada pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan pada awal semester 2, pembelajaran yang hanya berpusat pada guru dan belum melibatkan siswa dalam pembelajaran juga merupakan penyebab motivasi siswa menjadi berkurang, siswa sama sekali tidak aktif bertanya pada guru pada materi yang belum jelas, serta siswa belum berani mengutarakan pendapat dikarenakan pembelajaran masih berpusat pada guru. Dalam kondisi  awal ini siswa masih banyak juga yang belum mengumpulkan tugas dari guru, hal ini juga yang menyebabkan motivasi siswa berkurang.

Pada kondisi awal hasil belajar siswa sangat rendah sekali siswa yang mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) hanya 10 siswa dari 31 siswa pada kelas X Tata Boga 3 dan nilai terendah dicapai pada nilai 54 dan nilai tertinggi 81 hal ini disebabkan karena pengajaran yang diberikan oleh guru hanya berbentuk ceramah dengan menggunakan media Ms Power Point, sehingga siswa hanya melihat tampilan-tampilan gambar saja. Pelajaran prakarya dan kewirausahaan merupakan suatu pelajaran yang perlu penjelasan yang nyata  sehingga siswa benar-benar melihat dan mempraktekkan secara langsung, akibatnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat rendah sekali. 

Pada  pembelajaran  dengan    menggunakan  model  pembelajaran  NHT pada siklus 1 ke siklus 2 terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa dari mulai aktif mendengarkan penjelasan guru, aktif berdiskusi serta aktif mengerjakan tugas dan bertanya dengan guru, dengan adanya model pembelajaran NHT dapat membuat siswa lebih paham apa yang dijelaskan oleh guru, karena siswa dapat mengaplikasikan langsung konsep yang mereka terima dengan suatu proyek pembuatan kerajinan limbah tekstil. Pada pembelajaran dengan model NHT pada siklus 2 siswa diajak untuk membuat kerajinan limbah tekstil dengan menggunakan kain perca dan sumbu kompor, sehingga konsep yang diterima dari pembelajaran mereka dapat mengaitkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, karena dari pembelajaran ini siswa dapat memproduksi suatu kerajinan limbah tekstil  berupa tempat pensil dan tempat acsesoris yang dapat dimanfaatkan oleh masyakat. 

Pada  pembelajaran  dengan    menggunakan  model  pembelajaran  NHT ternyata secara empirik didapat hasil sebagai berikut: (1) Motivasi belajar siswa dari kondisi awal ke kondisi akhir terjadi peningkatan motivasi belajar terbukti  siswa  mulai  antusias  dalam pembelajaran  dan  mulai  semangat  dalam  pembelajaran, terutama dalam hal keaktifan bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. (2) Prestasi belajar siswa terjadi peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir dari rata rata 72 menjadi rata-rata  80  atau terjadi peningkatan sebesar 11,11  persen.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *