Mengenal Lingkungan Bagi Siswa Kelas III SD Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture

 

Sriyani Widyawati

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu mata pelajaran di sekolah dasar. IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi. Pembelajaran IPA diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam penerapan dalam kehidupan sehari-hari (Haryanto, 2007). Siswa sebagai subjek pendidikan, dituntut supaya aktif dalam belajar mencari informasi dan mengeksplorasi sendiri atau secara berkelompok. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing kearah pengoptimalan pencapaian ilmu pengetahuan yang dipelajari. Diharapkan dalam proses pembelajaran siswa mau dan mampu mengemukakan pendapat sesuai dengan apa yang telah dipahami, berinteraksi secara positif antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dan guru apabila ada kesulitan. Siswa kelas III SDN 3 Purwosri Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri belum sesuai dengan apa yang diharapkan seperti yang dijelaskan di atas. Aktivitas yang ditunjukkan siswa tersebut pada pembelajaran masih rendah seperti rendahnya minat siswa belajar kelompok dimana pelaksanaan pembelajaran di lapangan melalui belajar kelompok masih jarang, jika ada dilaksanakan hasil yang dicapai masih rendah.

Pada umumnya siswa cenderung pasif, kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru tanpa bisa mengeluarkan pendapat, bertanya, serta menjawab pertanyaan. Jika  guru mengajukan pertanyaan, siswa tidak berani menjawab, jika ada itu hanya 7 orang siswa saja. Jika ada kendala siswa tidak berani bertanya. Sehingga berimbas pada  nilai yang diperoleh siswa masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), dimana KKM untuk mata pelajaran IPA yang digunakan adalah 70. Namun masih terdapat ±60% dari siswa dalam pembelajaran IPA pada materi Lingkungan mendapat nilai di bawah kriteria tersebut. 

Berdasarkan permasalahan di atas maka upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA di SDN 3 Purwosari yaitu dengan menerapkan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran diduga dapat mengatasi yaitu model pembelajaran kooperatif. Melalui model pembelajaran kooperatif ini siswa dapat belajar lebih aktif mengeluarkan pendapatnya dan suasana yang kondusif untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, keaktifan serta keterampilan sosial seperti keterampilan bekerjasama yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.   

Penulis perlu menguraikan terlebih dahulu tentang kharakteristik anak-anak yang termasuk usia Sekolah Dasar. Menurut Thornburg (2008) mengatakan bahwa anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas tiga, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan. Kemampuan anak dalam bekerjasama yang baik dengan anak lain merupakan salah satu tujuan dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture. Ryder (2009) mengatakan bahwa masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik yang dimiliki oleh anak. 

Menurut Jean Piaget dalam Herdian (2009) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Berdasarkan karakteristik anak yang telah diuraikan di atas dan hubungannya dengan model pembelajaran Picture and Picture, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menekankan pada kerja kelompok dan menyajikan materi pelajaran lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk proaktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.

Pembelajaran IPA di SD

IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan dalam hal melaksanakan penyelidikan ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional. Sedang sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Sehingga dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah itu saintis memperoleh penemuan-penemuan atau produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori. IPA sebagai produk atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip, hokum-hukum, dan teori IPA. Jadi pada hakikatnya IPA terdiri dari tiga komponen, yaitu sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah. Hal ini berarti bahwa IPA tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang dihafal, IPA juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat direnungkan (Carin dalam Yusuf, 2007). 

Menurut Muslichah (2006) tujuan pembelajaran IPA di SD adalah “Untuk menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat, mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, mengembangkan gejala alam, sehingga siswa dapat berfikir kritis dan objektif “. Menuruit BNSP (2006) mata pelajaran IPA bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1). Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaban, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2). Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3). Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. 4). Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. 5). Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

Adapun ruang lingkup bahan kajian IPA di SD menurut BSNP
(2006) meliputi aspek-aspek: 1) Mahkluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan. 2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi : cair, padat dan gas. 3) Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,  cahaya dan pesawat sederhana. 4) Bumi dan alam semesta meliputi: tata surya, dan benda langit lainnya. Tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar  menurut Kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) secara terperinci adalah: 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. 4) Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, 5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. 6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan tuhan. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA sebagai salah satu mata pelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan dapat membentuk pola berfikir menjadi lebih kritis dan mengembangkan ide dan wawasan baru yang akan membawa Indonesia lebih maju.

Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Nur (2005) pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran ketika siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan siswa yang berbeda kemampuannya, jenis kelamin bahkan latar belakangnya untuk membantu belajar satu sama lainnya sebagai sebuah tim. Semua anggota kelompok saling membantu anggota yang lain dalam kelompok yang sama dan bergantung satu sama lain untuk mencapai keberhasilan kelompok dalam belajar. 

Lie (2008: 1) mengatakan bahwa metode pembelajaran cooperative learning mempunyai manfaat-manfaat yang positif apabila diterapkan di ruang kelas. Beberapa keuntungannya antara lain: mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfikir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain; mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya; dan membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini. Ironisnya, model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Hakim (2010) mengemukakan cooperative learning mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif terjadi pencapaian tujuan secara bersama-sama yang sifatnya merata dan menguntungkan setiap anggota kelomponya. Pengertian pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam proses pembelajaran yang memungkinkan kerja sama menuntaskan permasalahan. 

Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam sruktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Cooperative learning juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok. Masih menurut Nur dalam Widyantini (2006) mengatakan bahwa ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut. 1) Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. 3) Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu. 

Menurut Stahl dalam Taniredja, dkk (2011), ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah: 1) Belajar bersama dengan teman. 2) Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman. 3) Saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok. 4) Belajar dari teman sendiri dalam kelompok. 5) Belajar dalam kelompok kecil. 6) Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat. 7) Keputusan tergantung pada siswa sendiri dan siswa tetap aktif. Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala guru: 1) Menekankan pentingnya usaha kolektif, disamping usaha individual. 2) Menghendaki seluruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar. 3) Ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya. 4) Menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum. 5) Menghendaki meningkatnya motivasi dan menambah tingkat partisipasinya. 6) Menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan. 

Menurut Ibrahim (2000) terdapat tiga tujuan instruksional penting yang dapat dicapai dengan pembelajaran kooperatif yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, pengembangan keterampilan sosial. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif yaitu hasil belajar akademik, yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami materi-materi yang sulit. Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang. Pengembangan keterampilan sosial, yaitu untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.

Picture and Picture

Picture and Picture adalah suatu model pembelajaran dengan menggunaan media gambar. Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan Picture and Picture ini menurut  Istarani (2011) adalah: 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. 2) Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan. 3) Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi). 4) Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada. 5) Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar. 6) Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7) Guru menyampaikan kesimpulan. 

Sebagai sebuah model pembelajaran maka Picture and Picture memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihannya adalah: 1) Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2) Melatih berpikir logis dan sistematis. 3) Membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir. 4) Mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik. 5) Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas. Kekurangan: 1) Memakan banyak waktu, 2) Banyak siswa yang pasif. 3) Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. 4) Banyak siswa tidak  senang apabila disuruh beker  sama dengan yang lain. 5) Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.

Diskusi

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama  ini menunjukkan adanya peningkatan, baik terhadap hasil belajar siswa, aktivitas siswa, aktivitas guru, dan ketuntasan belajar siswa telah mencapai indikator keberhasilan. Sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Picture and Picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa, aktivitas siswa, dan aktivitas guru. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Fauzi (2002) menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran yang efektif, yaitu: (1) siswa menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui mengobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membantuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan, (2) guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran, (3) aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian, (4) guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dan menganalisis informasi, (5) orientasi pembelajaran, penguasaan isi pembelajaran, dan pengembangan keterampilan berpikir, serta (6) guru menggunakan teknik mengajar yang berfariasi sesuai dengan tujuan dan gaya mengajar guru. 

Hal ini juga bersesuaian dengan penelitian-penelitian sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Nurhusna “Meningkatkan Hasil Belajar IPA pada Konsep Pesawat Sederhana dengan Menerapkan Model Pembelajaran Picture and Picture Siswa Kelas V SDN Kuin Selatan 5 Banjarmasin” dan menurut Nurhusna (2011) model Picture and Picture cukup relevan dilaksanakan dalam pembelajaran IPA karena dapat membuat siswa aktif dan proses pembelajaran menjadi efektif sehingga hasil belajarnya juga akan meningkat. Model pembelajaran Picture and Picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Lingkungan di kelas.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *